Sandiaga Uno dan Susi Pudjiastuti Ribut Garam Impor, Bagaimana Nasib Petani Garam Sesungguhnya?

05 Agustus 2017
|Chandra W.

Baru beberapa hari kemarin, heboh pertanyaan Sandiaga Uno yang lalu dijawab oleh Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan. Ketika menghadiri acara Pusat Koperasi Pedagang Pasar DKI, di Jakarta Timur, Sandi mengungkapkan pertanyaan, "Impor garam ini ironi. Bagaimana bisa, Indonesia punya laut luas tapi mengimpor garam. Salahnya di mana dalam hal ini?”

Pertanyaan Sandiaga Uno dijawab dengan tegas oleh Susi. Tak berselang lama, muncul pula berita sindiran dari Muhaimin Iskandar atau yang biasa disapa Cak Imin yang menyatakan bahwa, "Kalau mengandalkan impor garam saja, anak TK pun bisa,". Tentu saja pernyataan ini memancing reaksi dari netizen dan juga dari Susi. Responnya kira-kira begini: impor garam 'kan sudah sejak dulu, berarti dari dulu anak TK dong?

Menilik pernyataan Sandiaga Uno, barangkali netizen juga punya pikiran yang hampir sama. Mengapa bisa terjadi kekurangan garam di negara dengan luas wilayah laut lebih besar daripada luas wilayah daratnya ini? Ironis. Namun ternyata, persoalan garam bukan masalah yang dapat diselesaikan dengan satu langkah saja.

Beberapa hari lalu juga terdengar kabar bahwa perusahaan garam merumahkan karyawan mereka sejak Lebaran karena tak ada bahan baku yang masuk. Kelangkaan bahan baku ini membuat PT Graha Niaga Buton, nama perusahaan tersebut mendesak pemerintah untuk mengimpor garam agar bisa produksi lagi. Bahan baku biasanya melimpah dari Bima dan Jawa Timur.

Lalu bagaimana kondisi sesungguhnya petani garam sesungguhnya di lapangan? Bukankah impor garam akan melemahkan harga jual garam petani? Ya. Tentu saja. Lalu mengapa PT Garam sebagai BUMN yang diizinkan untuk impor, juga tetap melakukannya? Semua ini ada hubungannya dengan mafia garam. Belum lama ini Achmad Boediono ditangkap polisi atas dugaan merugikan negara karena mengimpor garam konsumsi. Padahal, antara garam konsumsi dan garam industri sebenarnya tidak ada perbedaan.

Bisnis garam di negeri ini ibarat bisnis narkoba. Menggiurkan. Banyak pihak yang ingin menikmati keuntungannya dan kalau bisa dengan usaha yang sekecil-kecilnya. PT Garam sebenarnya sudah mengatur kapan petani panen dan kapan tidak. Mafia garam ada di mana saja termasuk dalam badan pemerintahan yang berperan penting di jual beli garam. Petani garam yang biasa menjual dengan harga normal Rp 400 bisa rugi hingga separuhnya kalau masa panen dibarengi dengan impor garam.

Harga garam dari petani lebih murah dari garam impor, karena garam dari petani tradisional belum bersih putih sehingga masih perlu proses pemutihan dan pembersihan dari PT Garam sebelum akhirnya dijual. Impor garam bukan satu-satunya masalah bagi mereka. Distribusi yang tidak merata dan bertingkat-tingkat pintu yang mesti dilalui juga seringkali membuat garam petani kalah dengan garam impor.

Nasib petani garam di Indonesia nyatanya bukan hanya bergantung pada kebijakan Kementerian Perdagangan, Kementerian Ekonomi, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Persoalannya jauh lebih kompleks dari sekadar luas laut, jumlah garam yang bisa diproduksi, dan hal remeh-temeh itu. Ada mafia, ada koruptor, ada pihak-pihak yang maunya untung sendiri. Hanya orang-orang jujur dan tegas yang bisa membereskan masalah seperti ini atau setidaknya menghilangkan sebagian sumber masalah. Semoga kelak petani garam Indonesia tidak perlu takut lagi akan impor garam.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
SHARES