Dituduh Melakukan Plagiarisme, Afi Nihaya Minta Maaf di Facebook

13 Juni 2017
|Chandra W.
873SHARES

Afi Nihaya Faradisa, remaja asal SMA Gambiran Banyuwangi yang belum lama ini viral dengan tulisannya yang berjudul "Warisan" kembali diperbincangkan di berbagai media karena muncul kabar bahwa tulisannya merupakan hasil plagiarisme. Tulisan Afi yang diduga merupakan hasil menjiplak karya orang lain di antaranya adalah:

1. "Belas Kasih Dalam Agama Kita" diunggah Afi pada 25 Mei 2017. Pernah ditulis oleh akun Facebook Mita Handayani dengan judul "Agama Kasih" pada tahun 2016.

2. "Warung Makan" diunggah Afi pada 8 Juni 2017. Pernah ditulis oleh akun Facebook Lembaga Perlindungan Konsumen CELEBES pada 31 Desember 2016. Namun tulisan serupa juga ada di blog Afi bertanggal 10 September 2016.

3. Tulisan tentang 'Facebook' yang diunggah Afi pada tanggal 28 November 2016, pernah diunggah di blog Ekoholic pada tanggal 24 Februari 2015 dengan tajuk "Agama Facebook".

4. Puisi 'Pernahkah Kau' diunggah Afi pada tanggal 7 Maret 2017. Puisi ini ternyata merupakan salah satu puisi yang ada dalam buku Chicken Soup For Teenage Soul on Tough Stuff.

Dari keempat tulisan yang diduga merupakan hasil plagiarisme tersebut, Afi mengakui bahwa salah satunya ia memang menyalin satu-dua paragraf di tulisan "Agama Kasih" milik Mita Handayani. Nyatanya, tulisan tersebut persis sama dan dapat dicek di kedua akun Facebook yang bersangkutan. Padahal sebelumnya Afi telah diundang menjadi pembicara dalam berbagai acara, termasuk juga diminta langsung oleh Presiden RI Joko Widodo untuk datang ke Istana Negara. Netizen lalu menuding bahwa kepopuleran yang diperolehnya kini bukan karena kepintarannya, melainkan karena buah pikiran orang lain.

Menanggapi kritikan orang-orang yang disebutnya 'haters' dan juga tulisan Pringadi Abdi Sury di Kompasiana melalui tindak plagiarisme yang dilakukannya, Afi menyampaikan permintaan maaf melalui Facebook dan Instagram pribadinya. Dikutip langsung dari akun Facebook Afi, begini permintaan maafnya kepada masyarakat:

THIS IS MY APOLOGY

Ini adalah permintaan maaf saya, Afi Nihaya Faradisa, pada semua pihak yang merasa dirugikan atas perbuatan saya yang telah mengutip beberapa paragraf untuk dijadikan status tanpa mencantumkan sumber.

Dengan ini saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Benar, saya mencatut atau mengopas beberapa paragraf dari tulisan di akun Mita Handayani dengan menambahkan sendiri beberapa paragraf yang berisi gagasan pribadi, kemudian mempostingnya kembali di akun saya dengan judul "Belas Kasih dalam Agama Kita" pada bulan Mei lalu (dan sampai sekarang tulisan tersebut masih bisa dilihat pada akun saya).

Saya mengakui hal tersebut sebagai sebuah kesalahan. Saya juga tidak akan membela diri dengan mengatakan bahwa Nabi pun juga pernah bersalah, atau mengatakan bahwa saya sama seperti anak 18 tahun di luar sana yang bisa saja melakukan kesalahan.

Sebenarnya, tak seorangpun tahu bahwa saya telah meminta maaf dan berkomunikasi dengan akun Mita jauh sebelum hal ini meledak di media. Saya dan beliau baik-baik saja.

Orang-orang yang sudah lama berteman dengan akun saya ini (dan akun lama saya yang telah deactivated) juga tentunya tahu bahwa jauh sebelum saya viral, saya telah menulis banyak hal.

Dari ratusan tulisan dan beberapa diantaranya yang telah saya post di dunia maya, hanya satu tulisan itulah yang bukan tulisan saya sendiri. Yang lainnya, termasuk tulisan berjudul WARISAN yang membuat saya viral adalah tulisan saya sendiri dan bukan hasil copas tulisan orang.

Mengapa orang-orang sulit sekali percaya bahwa anak SMA juga bisa menulis?

Saya paham bahwa beberapa orang mungkin tidak menyukai gagasan-gagasan tentang kebhinnekaan yang saya bawa, tapi itu bukanlah sebuah pembenaran untuk melontarkan fitnah dan kebohongan macam-macam. Siapapun bisa mengedit sebuah gambar seolah itu adalah tangkapan layar atau screenshot, kemudian menuding bahwa tulisan-tulisan saya sendiri adalah hasil plagiarisme.

Seakan-akan itu semua belum cukup, akun saya juga banyak dipalsukan dan orang-orang menyerang saya karena postingan tidak bertanggung jawab dari si pemalsu itu. Orang ramai-ramai menulis tentang saya, padahal kenal saja tidak. Meme, gambar, dan video-video berisi fitnah serta hinaan bertebaran, tak hentinya datang. Saya kehilangan banyak hal; dari teman sampai guru. Bahkan, nama saya pun diartikan macam-macam, dikemas dalam sebuah tulisan panjang, entah tujuannya untuk apa. Dan anehnya, banyak saja yang percaya.

Dengarkan saya sekali saja. Tidak semua berita (yang dari media maupun yang bukan dari media) tentang saya adalah benar. Tidak semua pernyataan/kutipan yang disebarkan orang, seolah itu semua dari diri saya (terutama yang menyangkut SARA), adalah benar. Saya memang tidak bisa mengendalikan apa yang ada di luar sana. Tapi, saya mohon dengan sangat bahwa sebagai manusia yang punya hati nurani, sebelum menyodorkan tuduhan dan prasangka macam-macam, setidaknya lakukanlah tabayyun (istilah agama Islam untuk memeriksa dengan teliti), klarifikasi, dan cari bukti.

Anda tahu, tiap detik saya harus menerima pesan bernada sinis, bully, merendahkan, bahkan ancaman ke akun FB, Instagram, atau WA saya (sampai saya harus ganti nomor baru). Sampai hari ini, jumlahnya puluhan ribu. Belum lagi yang ada di kolom komentar.

Pahamilah bahwa sama seperti Anda, saya adalah manusia biasa yang bisa sedih, tertekan, dan terluka ketika diperlakukan sedemikian rupa, siang malam tanpa jeda.

Sebegitu besarkah kesalahan saya?

My heart breaks, a lot.

Anda mungkin tidak akan memahami ini sebelum mengalami sendiri.

Jika tidak bisa selamanya, tolong hentikan itu semua selama Ramadan saja. Keinginan saya sederhana; ingin ibadah dengan bernafaskan ketenangan.

Saya mungkin masih bisa survive, tapi saya mohon jangan pernah lakukan hal yang sama kepada anak-anak lain hanya karena Anda melihat saya masih hidup sampai hari ini. - Afi

Meskipun Afi sudah menulis permintaan maaf, ada yang masih sangat disayangkan dari sikapnya. Dari permintaan maafnya, Afi malah justru terlihat tetap tidak mau mengakui kesalahannya dan menyebut orang-orang yang kurang setuju dengan pendapatnya sebagai orang yang memfitnahnya atau 'haters'. Padahal jika Afi meminta maaf dengan tulus, bukan tidak mungkin namanya akan kembali bersih dan semakin disayangi oleh masyarakat Indonesia. Sebelum menulis, Afi idealnya sudah mengerti bahwa setiap karya yang lahir akan dibarengi dengan pro dan kontra dari siapa saja yang menikmatinya, atau dalam hal ini pembaca tulisannya.

Terlepas dari keberanian dan kehebatan yang sudah ditunjukkan Afi, plagiarisme tetap merupakan suatu perbuatan yang tidak semestinya dilakukan oleh kalangan terpelajar. Apalagi kalau sudah ketahuan dan tetap tidak mau mengaku. Padahal, untuk tidak menjadi plagiat itu mudah lho. Kalau memang malas menulis sendiri, setidaknya cantumkan sumber tulisan. Hal ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun, baik pelajar, mahasiswa, penulis, dan siapa saja yang akan berkarya, supaya lebih berhati-hati dan beretika dalam setiap pembuatan karyanya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
873SHARES