Tak Hanya Pria dan Wanita, Inilah 5 Budaya dengan Klasifikasi Gender yang Berbeda

newbostonpost.com
Line Yukepo.com

Umumnya kita tahu bahwa jenis kelamin manusia dibedakan menjadi dua, yaitu pria dan wanita. Di Indonesia kita terbiasa dengan toilet yang dipisahkan antara toilet pria atau toilet wanita. Atau di kolom jenis kelamin di hampir setiap formulir yang berbedar di Indonesia hanya ada dua pilihan: pria atau wanita. Meskipun demikian, ada banyak orang yang unik di dunia ini. Misalnya, sekelompok orang dengan identitas gender yang nggak masuk klasifikasi pria maupun wanita.

Sebenarnya gender dan kelamin merupakan hal yang berbeda namun saling terkait. Gender merupakan pengklasifikasian peran dalam tatanan sosial, seperti cara berpakaian, perilaku yang ditampilkan, atau preferensi dan bersosial. Sedangkan jenis kelamin merupakan bawaan biologis yang tercipta secara genetik untuk menentukan apakah seseorang terlahir memiliki penis atau vagina yang nantinya berfungsi sebagai alat reproduksi. Tapi, gimana ya kalau ada manusia yang terlahir sebagai pria secara genetis namun merasa dirinya bergender wanita atau sebaliknya?

Kalau di Indonesia, seorang pria yang berperilaku layaknya wanita disebut juga dengan waria (wanita pria). Tapi waria belum masuk ke dalam klasifikasi gender ketiga sehingga negara belum mengakui adanya gender lain selain pria atau wanita di sebagian besar Indonesia. Bagaimana dengan budaya lain? Nah, inilah 5 budaya yang telah mengakui adanya gender ketiga, alias klasifikasi gender selain pria atau wanita. Yuk, kepoin!

1. Hijra – India

topyaps.com

Hijra merupakan gender ketiga yang telah resmi masuk ke dalam klasifikasi gender dan sah secara hukum di India sejak tahun 2014. Istilah Hijra dapat berarti ‘eunuch’ atau hemaprodit dalam bahasa Inggris. Selain itu, terdapat pula istilah Aravani, Aruvani atau Jagappa yang sama-sama sebutan untuk Hijra. Umumnya, hijra adalah orang-orang yang terlahir sebagai pria secara fisiologis tapi merasa jiwanya sebagai wanita. Sehingga ketika dewasa mereka akan melakukan ‘nirwaan’ yaitu proses menghilangkan penis, testis, dan skrotum yang biasanya dirayakan.

Meskipun telah resmi dianggap sebagai gender ketiga, Hijra nggak bisa menikah secara sah di mata hukum dengan pria. Para Hijra memang cenderung memiliki ketertarikan terhadap pria, terutama pria yang telah menikah. Kebanyakan Hijra bekerja sebagai pekerja seks di lokalisasi ataupun penghibur di acara-acara perayaan. Di Pakistan dan Bangladesh pun sebenarnya dikenal juga dengan Hijra. Bahkan para Hijra memiliki klasifikasi gender khusus pada paspor atau dokumen negara dengan tanda E (Eunuchs).

2. Kathoey – Thailand

www.dailymail.co.uk

Selain pariwisatanya yang keren, mendengar kata Thailand mungkin langsung terasosiasi dengan budayanya yang melegalkan gender ketiga yang disebut juga dengan ladyboy atau dalam bahasa lokal disebut dengan Kathoey. Mereka adalah orang-orang yang umumnya terlahir sebagai pria secara fisiologis namun berganti kelamin atau transgender menjadi perempuan. Serangkaian perubahan dengan cara operasi plastik pun bukan hal tabu di Thailand, itu semua demi membentuk fisik serupa dengan wanita asli.

Kathoey telah diakui di Thailand sebagai gender ketiga. Nggak sekadar diakui, Kathoey juga bisa memiliki pekerjaan yang layak seperti menjadi pegawai salon, bekerja di restoran, di dunia hiburan, hingga menjadi pemain kabaret yang sangat khas dengan budaya Thailand. Namun, soal legalisasi, Kathoey belum mandapatkan klasifikasi gender resmi dari pihak pemerintah Thailand. Kathoey memang terkenal dengan kecantikannya, makanya nggak heran kalau di ajang Miss Tiffany’s Universe para transgender bisa sama cantiknya dengan wanita beneran.

3. Muxe – Meksiko

interactive.fusion.net

Istilah Muxe sendiri berasal dari nenek moyang bangsa Mexico yang diambil dari dialek Zapotec kuno untuk menggambarkan sebuah komunitas gay yang berkencan dengan pria heteroseksual dan menggunakan pakaian wanita. Terkadang Muxe juga diasumsikan sebagai gender dengan peran wanita secara tradisional. Orang-orang Mexico percaya bahwa Muxe berbeda dengan klasifikasi gender seperti LGBTQ. Muxe dipercaya merupakan klasifikasi gender yang secara lokal merupakan warisan kebudayaan nenek moyang mereka.

Meskipun belum jelas mengenai legalisasi di Meksiko terhadap Muxe, namun mereka yang mengaku sebagai Muxe masih bisa bekerja kok. Biasanya Muxe bekerja sebagai pengrajin, entah sebagai penjahit, penenun, penyulam, atau bahkan pendekor altar gereja. Mereka pun bisa menikahi pria maupun wanita dan dianggap sah-sah aja terutama di Oaxaca, Meksiko bagian selatan.

4. Fa’afafine – Samoa

theculturetrip.com

Kalau di budaya Samoa, konsep gender sangat berbeda dengan konsep transgender seperti di negara barat. Konon, nenek moyangnya terdahulu yaitu Pre-Christian Samoa percaya bahwa setiap individu memiliki peran gender yang berbeda-beda. Itulah mengapa jika sejak kecil seorang anak yang terlahir sebagai pria tapi menonjolkan sisi femininnya bukanlah sesuatu yang tabu di budaya mereka. Dan hal inilah yang dinamakan Fa’afafine yang juga telah diterima masyarakatnya sebagai klasifikasi gender ketiga.

Sebenarnya agak susah menjelaskan konsep gender Fa’afafine karena sangat berbeda dengan konsep transgender atau homosexual di budaya barat. Yang jelas, orang-orang dengan budaya Samoa sangat membebaskan seseorang akan hidup seperti apa dan begitu menghormati pilihan seseorang terlepas apapun gender yang diinginkannya. Itulah mengapa sejak kecil anak-anak di Samoa diajarkan bertoleransi dan nggak ditekankan untuk berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya sebagaimana budaya lain pada umumnya.

5. Bissu, Calalai, Calabai – Bugis, Indonesia

Sumber Gambar

Indonesia memiliki beragam suku budaya dengan kearifan lokal yang unik. Salah satunya adalah suku Bugis di Sulawesi yang memiliki klasifikasi gender hingga 5 kategori! Selain pria dan wanita, ada juga Bissu, Calalai (tomboi), dan Calabai (waria). Bissu yang istimewa ini merupakan figur spiritual yang dapat menghubungkan antara manusia dan dewa, sehingga bisa dibilang Bissu merupakan kombinasi antara gender. Apabila ia terlahir sebagai pria maka ia juga akan memiliki kepribadian gender wanita. Intinya, Bissu adalah gender netral di antara 5 gender tersebut.

Sedangkan Calalai merupakan seseorang yang terlahir sebagai wanita namun memiliki kebiasaan dan perilaku layaknya laki-laki, seperti bekerja sebagai pembuat logam. Pokoknya hal-hal yang nggak biasa dilakukan wanita. Tapi Calalai nggak dianggap sebagai pria dan juga nggak berniat menjadi pria. Sementara Calabai adalah kebalikannya. Biasanya Calabai berperan untuk membantu mempersiapkan pesta, mempersiapkan makanan, dan hal-hal yang umumnya dilakukan oleh wanita.

Nah, itulah tadi sekilas gambaran mengenai klasifikasi gender yang ada di beberapa budaya di dunia. meskipun nggak semuanya resmi dan diakui oleh pemerintah setempat, namun mereka layak untuk hidup dengan hak dan kewajiban yang sama. Gender menuntun kita untuk bersikap sesuai dengan peran yang sedang kita emban. Mau pria kek, mau wanita kek, yang penting be nice and kind to everybody, guys!

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
58
SHARES
Tak Usah Bingung, Inilah Perbedaan Pacar Kamu Perhatian atau Posesif

Tak Usah Bingung, Inilah Perbedaan Pacar Kamu Perhatian atau Posesif

9 Potret Kocak Saat Musim Panas Ini Dijamin Bikin Kamu Heran Sekaligus Cekikikan

9 Potret Kocak Saat Musim Panas Ini Dijamin Bikin Kamu Heran Sekaligus Cekikikan

Tak Takut, Inilah 7 Potret Perempuan Pemberani dalam Aksi Demonstrasi

Tak Takut, Inilah 7 Potret Perempuan Pemberani dalam Aksi Demonstrasi

Inilah Foto-foto Awal Berdirinya Perusahaan-perusahaan Terkenal Dunia

Inilah Foto-foto Awal Berdirinya Perusahaan-perusahaan Terkenal Dunia

Tak Hanya Film, Bu Liang Ren Kini Hadir dalam Bentuk Mobile Game

Tak Hanya Film, Bu Liang Ren Kini Hadir dalam Bentuk Mobile Game

5 Kisah Pemuda Ganteng Nikahi Nenek Ini Bikin Wanita Jomblo Iri Banget

5 Kisah Pemuda Ganteng Nikahi Nenek Ini Bikin Wanita Jomblo Iri Banget

loading