Miris! Inilah 7 Kasus Meninggalnya Anak Karena Kelalaian Orang Tua

Sumber Gambar
Line YuKepo.com

Jadi orang tua emang nggak segampang ngerawat binatang di tamagotchi atau di smartphone kamu. Diperlukan bekal pengetahuan dan persiapan mental yang cukup agar anak yang kita besarkan dapat tumbuh dengan baik. Meskipun begitu, tetep aja selalu ada orang tua yang lebih memilih untuk cuek terhadap anaknya karena asik sendiri dengan dunia mereka. Dalam kesempatan kali ini, YuKepo telah merangkum beberapa kasus meninggalnya anak yang disebabkan oleh kelalaian orang tua. Miris loh, sampe ada orang tua yang ngebiarin anaknya mati kelaparan gara-gara orang tuanya kecanduan game online!

1. Pasutri penganut kepercayaan ekstrem yang membiarkan anaknya kesakitan tanpa berobat ke dokter

Sumber Gambar

 Pentecotalisme, atau yang biasa disebut “Pergerakan Kebangkitan” (Revival Movement), adalah sebuah pergerakan pembaharuan yang berangkat dari kepercayaan Protestan ekstrem, yang menempatkan penekanan kepada pengalaman personal dalam konteks hubungan dengan Tuhan. Pergerakan “pembaharuan” yang mencapai titik terekstremnya ini, mengisyaratkan adanya larangan untuk menggunakan fasilitas obat-obatan yang dikembangkan oleh dunia kedokteran, dan untuk alternatifnya, para ekstremis meyakini bahwa penyakit dapat disembuhkan cukup dengan kepercayaan bahwa Tuhan akan memberi kesembuhan, tanpa mengisyaratkan adanya tindakan praktis, misalnya berobat ke dokter (sumber: en.wikipedia.org).

Pergerakan yang dinamai berdasarkan nama dewa dalam kepercayaan Yahudi inilah yang memicu kelalaian dari pasangan suami-istri bernama Herbert dan Catherine Schaible ketika anaknya yang baru berusia 2 tahun harus menderita pneumonia. Komunitas pentecotalisme yang diikuti mereka berdua di Pensylvania, memiliki ajaran yang menyatakan bahwa obat-obatan yang diproduksi oleh manusia itu haram penggunaannya karena dianggap sebagai penyelewengan terhadap takdir dari Tuhan. Akibatnya, anak yang tidak berdosa itu meninggal dunia, dan pasangan Schaible mengalami masa percobaan selama 10 tahun. Namun, ternyata mereka belum kapok juga dengan kejadian itu. Anak mereka lainnya yang baru berumur 8 bulan, terpaksa meninggal dunia setelah keduanya lagi-lagi mengulangi kelalaian yang sama. Akhirnya, pasangan ekstremis tersebut dijatuhi vonis hukuman penjara selama 7 tahun, dan hak asuh mereka atas 7 anak lainnya pun dicabut.

2. Balita yang meninggal dunia karena kelaparan meskipun di rumahnya banyak persediaan makanan

Sumber Gambar

Seorang bayi yang baru berusia 5 tahun, meninggal dunia meskipun kedua orang tuanya—Tivasha E. Logan dan Chauncey Gardner—memiliki persediaan makanan yang berlimpah di rumahnya. Bahkan, mereka juga memperoleh bantuan makanan dalam bentuk nominal sejumlah 674 dolar yang diberikan oleh negara. Selain itu, setiap bulan mereka diberi sejumlah formula makanan untuk anak mereka yang masih menginjak usia balita. Anehnya, bayi itu justru meninggal dunia karena kelaparan, dan Tivasha mengaku bahwa dirinya enggan membawa anaknya berobat karena takut akan kehilangan hak asuh. Sebelumnya, pihak Social Security sudah mengunjungi rumah mereka beberapa kali, tapi tidak menemukan bukti nyata yang dapat menghapuskan hak asuh anak yang dimiliki pasutri tersebut. Setelah balita yang seharusnya mereka rawat dengan baik itu meninggal dunia, barulah anak-anak mereka yang lainnya diamankan di kerabat dari Tivasha dan Chauncey, dan mereka berdua pun divonis hukuman penjara. Di rumah mereka berdua, ditemukan sejumlah botol bir yang lebih banyak jumlahnya dibandingkan makanan untuk bayi.

3. Pasangan vegetarian tidak memberikan asupan energi yang cukup bagi anaknya, yang hanya diberi susu kedelai dan jus apel semasa hidupnya

Sumber Gambar

Pasutri vegetarian yang tinggal di Atlanta, percaya bahwa anaknya dapat hidup tanpa memerlukan ASI atau formula khusus untuk bayi lainnya. Untuk itu, setiap harinya mereka hanya memberikan susu kedelai dan jus apel untuk asupan makanan bagi anaknya. Alhasil, anak yang baru berusia 6 minggu tersebut meninggal dunia dalam keadaan kelaparan. Jade Sanders dan Lamont Thomas—orang tua dari anak tersebut—pun divonis hukuman penjara untuk seumur hidup. Saat pengadilan mereka berdua menyatakan bahwa mereka tidak bersalah atas kematian anaknya itu, melainkan hanya dihukum karena gaya hidup mereka.

4. Pasangan asal Kanada membiarkan anaknya meninggal karena penyakit meningitis meskipun sudah diingatkan untuk membawa anaknya ke rumah sakit

Sumber Gambar

David dan Collet Stephen, mengetahui bahwa anaknya yang berusia 19 bulan sedang menderita penyakit. Namun, mereka bersikukuh bahwa penyakit yang menyerang anaknya itu hanya flu biasa sehingga mereka berdua hanya memberikan obat-obatan rumahan tanpa berkonsultasi dengan dokter. Hal itu terjadi selama dua minggu lamanya. Bahkan, setelah teman mereka berdua memberikan dugaan bahwa anak tersebut menderita penyakit meningitis dan harus segera dilarikan ke rumah sakit, pasutri asal Kanada ini tetap teguh untuk merawat anaknya dengan pengetahuan mereka yang terbatas. Meskipun sampai pada akhirnya anak mereka berdua tidak sanggup lagi untuk sekadar duduk di kursi mobil, mereka tetap enggan untuk membawa anaknya ke dokter, sampai akhirnya anaknya mengembuskan nafas terakhir.  Mereka berdua pun dihukum oleh pihak yang berwajib atas kelalaian mereka.

5. Pasangan gamers yang lebih memedulikan “anak” mereka di dunia game ketimbang anak asli mereka yang akhirnya mati kelaparan

Sumber Gambar

Pasangan asal Korea bernama Kim Jae-beom dan Kim Yun-jeong, memiliki satu hobi yang sama, yakni bermain video game online. Mereka sangat menggemari game berjenis MMO (Massively Multiplayer Online) yang bernama Prius. Dalam permainan ini, pengguna bisa mengadopsi dan membesarkan “anak” dalam dunia virtual yang diberi nama “Anima”. Setiap harinya, mereka berdua meninggalkan anaknya yang masih berusia 3 bulan hanya dengan sebotol susu di rumahnya, dan mereka pergi ke warnet untuk bermain Prius dan membesarkan anak maya mereka di sana. Pada suatu ketika, mereka pulang ke rumah dan menemukan anaknya sudah meninggal dunia. Mereka mengaku kepada polisi bahwa anaknya sudah meninggal sejak terbangun dari tidur. Namun, otopsi yang dilakukan berhasil membuktikan bahwa anaknya itu meninggal karena kelaparan.

6. Ibu yang tidak percaya metode pengobatan konvensional, dituduh telah membiarkan anaknya meninggal dunia

Sumber Gambar

Seorang ibu bernama Tamara Lovett, mengaku bahwa dirinya tidak mempercayai metode pengobatan dokter pada umumnya, dan lebih memilih menggunakan pengobatan tradisional tanpa berkonsultasi dengan pihak yang lebih profesional dalam dunia pengobatan. Saat anaknya menderita streptococcus—salah satu jenis infeksi tenggorokan, dia lebih memilih mengobati anaknya dengan teh dandelion dan minyak kemangi. Akhirnya anaknya pun meninggal dunia karena sepsis—infeksi darah yang dipicu oleh bakteri streptoccus, yang dapat menyebabkan gagal organ di keseluruhan tubuh. Sehari sebelum anaknya meninggal, Lovett sempat berubah pikiran dan membawa anaknya ke rumah sakit, namun perubahan itu telat terjadinya. Di pengadilan, dia membela dirinya dengan pernyataan bahwa dirinya tidak mempercayai pengobatan rumah sakit resmi. Namun, pembelaannya tersebut dibantah karena ada bukti yang memperlihatkan bahwa dirinya pernah menggunakan antibiotik untuk mengobati luka akibat gigitan laba-laba. Antibiotik yang seharusnya bisa menyelamatkan anaknya jika dia tidak keras kepala.

7. Nggak percaya sama antibiotik, pasangan suami istri ini dituduh telah lalai dalam merawat anaknya yang menderita infeksi telinga

Sumber Gambar

Christine Delozier, adalah seorang wanita yang tidak percaya akan kemutakhiran pengobatan modern, sama halnya dengan Tamara Lovett. Begitu pun dengan suami Delozier, Ebed. Ebed yang dibesarkan di sebuah sekte di Israel pun meyakini hal yang serupa. Penelitian yang mereka lakukan di dunia maya pun justru telah menggiring mereka kepada informasi hoax yang memaparkan bahwa segala jenis vaksin justru dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya (ya iyalah, kalau pemakaiannya tidak sesuai resep dokter). Oleh karena Delozier tidak pernah disuntik atau menggunakan jenis obat-obatan apa pun, dia pun tidak membiarkan anaknya disembuhkan dengan pengobatan modern saat anaknya menderita infeksi telinga selama 3 minggu sebelum akhirnya meninggal dunia. Anaknya mengalami panas tinggi dan muntah-muntah, namun Christine dan Ebed tetap tidak mau membawa anaknya ke dokter untuk diperiksa. Mereka berdua baru membawa anaknya saat sudah berhenti bernapas, dan pemeriksaan dokter membuktikan bahwa anaknya dapat sembuh dan terselamatkan nyawanya cukup dengan antibiotik saja, lagi-lagi jika saja orang tua dari anak tersebut tidak keras kepala.

Dalam beberapa kasus di atas, kita dapat melihat adanya benturan antara peradaban modern dengan kelompok-kelompok kecil yang bersikukuh terhadap ideologinya bahwa pengobatan modern merupakan hal yang berbahaya. Namun, ideologi tersebut pada kenyataannya perlu ditinjau lagi. Mau jadi idealis, atau jadi orang bebal dan keras kepala?

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
18
SHARES
Editan Foto Donald Trump Jadi Kecil ini Bikin Kamu Ngakak Sampe Ngompol!

Editan Foto Donald Trump Jadi Kecil ini Bikin Kamu Ngakak Sampe Ngompol!

10 Foto Pemandangan Alam yang Bakal Bikin Mata Kamu Juling

10 Foto Pemandangan Alam yang Bakal Bikin Mata Kamu Juling

Maksud Hati Diedit Agar Terlihat Menarik, 10 Foto Editan Ini Malah Bikin Ngakak!

Maksud Hati Diedit Agar Terlihat Menarik, 10 Foto Editan Ini Malah Bikin Ngakak!

11 Nama Wi-fi Kocak di Tempat Umum Ini Bakal Bikin Kamu Malas Main Internet

11 Nama Wi-fi Kocak di Tempat Umum Ini Bakal Bikin Kamu Malas Main Internet

Sama-sama Punya Harga Dibawah 4 Juta, Samsung Galaxy J7 Prime atau Oppo F1s?

Sama-sama Punya Harga Dibawah 4 Juta, Samsung Galaxy J7 Prime atau Oppo F1s?

Kangen Serial “Si Doel Anak Sekolahan”? Nostalgia Yuk Sama Beberapa Tokoh dalam Serialnya!

Kangen Serial “Si Doel Anak Sekolahan”? Nostalgia Yuk Sama Beberapa Tokoh dalam Serialnya!

loading