Inilah Kisah Inspiratif Penyandang Disabilitas yang Berhasil Studi di Luar Negeri

detak.co
Line YuKepo.com

Hidup seringkali memberikan kita berbagai halangan dan cobaan yang mungkin terasa sangat berat. Mulai dari cobaan kecil seperti diputus pacar, hingga cobaan berat seperti kecelakaan yang membuatmu cacat seumur hidup. Namun sebagai manusia, kita tetap harus selalu bangkit dari cobaan demi cobaan. Seperti tiga penyandang disabilitas ini yang berhasil melampaui keterbatasannya dan mendapatkan berbagai prestasi di benua seberang. Mereka tidak berputus asa dengan keadaan mereka dan terus berupaya dengan segala cara.

Terbukti, usaha mereka selama bertahun-tahun akhirnya terbayar dengan kesuksesan. Mereka tidak hanya berhasil menuntut ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi, namun mereka juga berhasil berprestasi dan melanjutkan studi di luar negeri. Yuk, simak kisah inspiratif mereka!

Sumber Gambar

Taufiq Effendi

Namanya Taufiq Effendi. Laki-laki asal Bandung ini menjadi penyandang disabilitas sejak berumur 10 tahun. Sebuah kecelakaan nahas merenggut penglihatannya dan membuatnya harus menjadi tunanetra seumur hidupnya. Kecelakaan ini tidak hanya merenggut penglihatannya, namun juga kesempatannya untuk melanjutkan sekolah. Ia menjalani berbagai metode baik ilmiah maupun alternatif untuk mengembalikan penglihatannya, akan tetapi seluruh upaya itu tidak membuahkan hasil. Ia harus belajar menerima keterbatasannya.

Semangat juang Taufiq namun tidak pernah luntur. Ia terus bermimpi untuk dapat berkeliling dunia. Meski saat itu Taufiq merasa masa depannya sangat suram, Taufiq tidak bisa menghapuskan mimpinya untuk menapaki negara-negara asing. Satu-satunya cara yang diyakini dapat membawa dirinya melanglang buana menurut Taufiq adalah dengan melanjutkan S1. Karena itu ia meminta bantuan dari para sukarelawan untuk membantunya belajar. Ia berniat mengikuti SPMB agar dapat melanjutkan S1. Usaha kerasnya terbayar, Taufiq berhasil masuk ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Jakarta. Masa-masa kuliahnya ditempuh dengan kerja keras. Tidak hanya belajar, Taufiq juga menyambi bekerja dan berorganisasi agar dapat melanjutkan kuliahnya.

Hasil tidak pernah mengingkari usaha. Taufiq berhasil mendapatkan kesempatan pertamanya untuk keluar negeri saat duduk di semester 6. Ia mendapat beasiswa ke Jepang untuk mempresentasikan makalahnya di sebuah konferensi internasional. Dari situ, Taufiq semakin giat mencari beasiswa ke luar negeri. Dengan berbagai upaya, Ia berhasil mendapat 8 beasiswa yang membawanya berkeliling dunia. Kini, Taufiq telah kembali ke Indonesia dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Global Umaro Education (GLUE). Terdorong oleh keinginannya menolong sesama, Lembaga Pendidikan GLUE bertujuan untuk memberikan beasiswa penuh pendidikan bahasa Inggris untuk mereka yang kurang mampu atau menyandang disabilitas.

dohanews.co

Muhammad Zulfikar Rahmat

Fikar panggilannya. Pria yang berasal dari Pati ini mengalami Asphyxia Neonatal, sebuah gangguan medis yang mengganggu saraf motoriknya sehingga Fikar tidak dapat berbicara dengan lancar dan membuat tangannya selalu bergetar sehingga ia tidak dapat menulis. Kekurangan Fikar ini membuatnya di-bully dan diejek selama bersekolah di Indonesia.

Beruntung, Fikar dapat pindah ke Qatar saat berusia 15 tahun dan melanjutkan studinya di sana. Meski begitu, hidup tidak lantas menjadi mudah bagi Fikar. Ia sempat ditolak oleh berbagai sekolah karena keterbatasannya. Ia juga mengalami berbagai diskriminasi dalam kesehariannya. Keterbatasannya juga membuatnya harus banyak bergantung pada bantuan orang lain.

Meski begitu, Fikar tidak patah semangat. Ia akhirnya berhasil melanjutkan S1-nya di Universitas Qatar dengan beasiswa. Kerja kerasnya membuahkan hasil, Fikar berhasil meraih IPK 3,93 dari studi Hubungan Internasional. Ia dinyatakan sebagai Sarjana dengan predikat terbaik di Universitas Qatar. Tidak berhenti di situ, Fikar melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ia mengambil program master dan doktoralnya di Universitas Manchester, yang dinyatakan sebagai universitas terbaik ke-29 di dunia menurut data dari QS World.

news.unca.edu

Nefertiti Karismaida

Nefertiti Kharismaida atau yang kerap disapa sebagai Inef ini mengalami gangguan pendengaran sensorineural tingkat berat sejak berumur 7 tahun. Ia tidak dapat mendengar suara di frekuensi tinggi yang membuatnya kesulitan untuk berkomunikasi. Orang tua Inef namun terus berupaya agar Inef dapat melanjutkan hidup dengan senormal mungkin. Maka kedua orang tua Inef memberikannya alat bantu dengar yang meski tidak dapat membuat pendengaran Inef menjadi normal, namun setidaknya mampu mebuatnya jadi sedikit lebih baik.

Inef berusia 18 tahun saat ia memutuskan untuk berkuliah di luar negeri. Meski menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, Inef akhirnya berhasil diterima di University of North Carolina, Asheville, untuk pendidikan sarjananya. Jurusan yang diambilnya adalah International Studies, di mana Inef berkonsentrasi pada ilmu lingkungan hidup dan ilmu politik. Sebelum itu, Inef juga pernah mendapat beasiswa untuk mempelajari sastra Inggris selama satu tahun di Hiram College, Ohio, Amerika Serikat. Inef bahkan menerima International Students Award atas prestasinya dalam mengangkat kesadaran lingkungan dan isu disabilitas di berbagai tempat.

Kisah ketiga penyandang disabilitas yang sangat inspiratif ini membuktikan pada kita bahwa kerja keras dan tekad akan selalu membuahkan hasil. Mimpi mereka yang sangat besar berhasil diraihnya dengan usaha yang juga luar biasa. Kamu pun juga bisa menjadi seperti mereka, melanjutkan studi dan berprestasi di negara orang. Terlebih bagi kamu yang tidak memiliki keterbatasan fisik apapun, kamu pasti bisa meraih mimpi-mimpimu dengan tiga hal: Determinasi, Konsistensi, dan Kerja Keras. Jadi, jangan kasih kendor, guys. Kejar terus mimpimu!

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
29
SHARES
7 Kegiatan di Bulan Ramadan ini Bikin Kangen Masa-masa Kecil Dulu

7 Kegiatan di Bulan Ramadan ini Bikin Kangen Masa-masa Kecil Dulu

Inilah Gambaran Wabah Kolera Mematikan yang Menyerang Kamp Pengungsi Sudan Selatan

Inilah Gambaran Wabah Kolera Mematikan yang Menyerang Kamp Pengungsi Sudan Selatan

Selain Pajero Sport, Bayi-bayi ini Memiliki Nama yang Tak Kalah Unik dan Menggelitik

Selain Pajero Sport, Bayi-bayi ini Memiliki Nama yang Tak Kalah Unik dan Menggelitik

Bosen Nunggu Jam Buka Puasa? Lakuin Ini Yuk Biar Seru!

Bosen Nunggu Jam Buka Puasa? Lakuin Ini Yuk Biar Seru!

Inilah Beberapa Keuntungan Orang yang Berstatus Jomblo di Saat Bulan Puasa

Inilah Beberapa Keuntungan Orang yang Berstatus Jomblo di Saat Bulan Puasa

Kerja Terus Menerus Sampai Meninggal, Inilah Fakta Tentang Karoshi di Jepang

Kerja Terus Menerus Sampai Meninggal, Inilah Fakta Tentang Karoshi di Jepang

loading