Gokil! Novel 1984 Karya George Orwell Mendadak Laku Keras Lagi di Amerika!

pinterest.com

Setelah Donald Trump dilantik untuk peresmiannya sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat, perdebatan-perdebatan mulai meramaikan berbagai media di dunia maya, terutama setelah dirinya mengajukan berbagai kebijakan yang dinilai oleh sebagian besar orang adalah keputusan yang cukup kontroversial. Meskipun namanya emang cukup ngetren di berbagai kanal budaya populer yang tersebar di dunia dan khususnya di Amerika Serikat, hal itu tidak menahan orang-orang untuk menyatakan protes atas kepemimpinannya. Tidak hanya bagi negaranya sendiri saja, bahkan perbincangan mengenai kebijakan-kebijakan tersebut menjadi buah bibir yang cukup hangat dibicarakan di berbagai negara. Dan siapa yang bakal menyangka, gagasan-gagasan beliau dalam memimpin negara Paman Sam tersebut ternyata membangkitkan kembali minat para warga Amerika Serikat terhadap salah satu mahakarya yang cukup melegenda dalam dunia literasi global, yaitu novel 1984 yang lahir dari tangan George Orwell, penulis yang terkenal juga dengan novel pendeknya yang berjudul Animal Farm.

pinterest.com

Murid dari Aldous Huxley—penulis Brave New World dan The Doors of Perception—ini membuat semacam ramalan masa depan distopia dalam novel yang ditulis tahun 1949, yakni menunjukkan kondisi masyarakat yang pikirannya sudah dikolektifkan dengan sosok “Bung Besar” sebagai kiblatnya. Dalam masyarakat futuris tersebut, Orwell dengan intuisinya telah memberikan bayangan akan dunia baru di mana individu tidak lagi berharga, pikiran masyarakat diarahkan sesuai keinginan pejabat-pejabat tinggi dan kebodohan harus dipupuk agar masyarakat dapat lebih mudah dikendalikan oleh pihak yang berkuasa. Ramalan itulah tampaknya yang memikat kembali hati para warga Amerika Serikat yang kini tengah dibayang-bayangi oleh ketakutan akan adanya masyarakat distopis seperti halnya dalam 1984. Bayangkan saja, buku yang perilisannya telah terlampaui selama 67 tahun ini mendadak menjadi best-seller di hari ke enam Donald Trump menduduki jabatan sebagai presiden.

CNN.com

Hal ini dipicu oleh ucapan penasehat Trump, Kellyanne Conway, yang menyebutkan “fakta alternatif” dalam wawancaranya. Peter Stansky, seorang ahli sejarah Inggris dan penulis biografi Orwell mengatakan bahwa pengucapan itu sangat bertema Orwellian, sesuai dengan fakta alternatif yang menjadi dasar masalah dalam 1984. Stansky mengatakan bahwa peningkatan besar-besaran dalam penjualan buku ini secara mendadak merupakan peringatan bagi belahan dunia barat terhadap era totalitarianisme di mana para penguasa dapat dengan mudahnya mengubah segala fakta demi kepentingan golongannya. Stansky dan para ahli sejarah lainnya mengatakan bahwa era tersebut menjadi lebih mungkin dengan adanya internet yang dapat dimanipulasi dengan mudahnya untuk membuat berita-berita palsu atau yang lebih dikenal dengan istilah “hoax”.

“Trump menggunakan bahasa untuk menyembunyikan sesuatu. Penekanan pada bahasa abstrak yang dituturkannya di media memang seringkali digunakan oleh para penggiat politik mengaburkan realitas," ujar Stansky dilansir dari pbs.org.

bustle.com

Dalam 1984 memang diceritakan bagaimana pemerintah menggunakan berbagai cara agar masyarakat tidak mengetahui sejarahnya sendiri. Winston Smith, tokoh utama dalam novel ini, bekerja di media dengan tugas khususnya yang cukup unik, yakni menyunting segala fakta dari media sesuai dengan yang dipesan oleh atasannya yang entah siapa dan ada di mana, dan apa motif di balik penyuntingan itu. Yang jelas, penyuntingan tersebut mengarahkan para pembaca untuk tetap mendukung atmosfir pemerintahan yang selalu mengawasi setiap warga negaranya, bahkan ketika sedang tidur.

Buat kamu yang belum baca novel epik ini, jadi penasaran nggak sih pengen baca bukunya? Kalau pemerintahan Trump emang bakal berpengaruh ke berbagai belahan dunia, apa salahnya kalau kita pelajari lebih jauh mengenai masa depan distopia ini dalam 1984. Novel terakhir yang ditulis Orwell ini memang sangat ikonik, dan pada pemerintahan Reagan pun novel ini sempat ramai lagi dibicarakan karena Reagan seringkali disamakan dengan sosok “Bung Besar” dalam novel. Yang jelas, jargon yang dijadikan oleh para penguasa dalam novel ini adalah: “PERANG ADALAH KEDAMAIAN. KEBEBASAN ADALAH PERBUDAKAN. KEBODOHAN ADALAH KEKUATAN.”

0%
Marah
0%
Gemes
0%
Ngakak
0%
Kaget
0%
Love
0%
Aneh
24
SHARES
loading