Masih Berusia 5 Tahun, Anak Ini Dihukum Sekolahnya Gara-gara Dianggap Terorisme!

30 Oktober 2017
|Idham Nur Indrajaya
Unik
0SHARES

Dalam situasi tertentu, guru harus bisa membedakan mana tindakan yang menyangkut keamanan sekolah, dan mana yang kira-kira hanya tindakan berupa guyonan anak-anak biasa. Tidak semuanya harus dijatuhi hukuman yang berat dan berlebihan.

Tanggapan yang berlebihan terhadap anekdot seorang anak itu terjadi pada seorang anak berusia 5 tahun bernama Jackson Riley, yang mendapatkan hukuman skors di sekolahnya karena bercandaannya yang dianggap sebagai suatu ancaman teroris.

Jackson, yang duduk di bangku taman kanak-kanak Akademi Great Valley, California, Amerika Serikat, mendapatkan hukuman skorsing selama satu hari. Hukuman yang nampaknya terlalu ketat untuk anak yang masih berusia 5 tahun. Apalagi hukuman itu dikenakan kepadanya hanya karena anekdotnya yang dia lontarkan di kelas.

Ian Riley, ayah Jackson, terkejut saat menerima telepon dari sekolah anaknya yang mengatakan bahwa putranya itu mendapat hukuman skors. Yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah kenyataan bahwa anaknya itu diskors hanya karena dirinya menolak untuk melepaskan ranselnya. Saat ditanya alasan dari tindakannya itu, Jackson mengatakan bahwa di dalam ranselnya itu terdapat sebuah bom yang dapat meledak jika Jackson melepaskan ransel dari punggungnya.

Kedua orangtua Jackson pun merasa kecewa dengan kebijakan sekolah yang mereka anggap terlalu berlebihan untuk menanggapi kepolosan seorang anak berusia lima tahun. Mereka mendapatkan surat dari sekolah yang menyatakan bahwa Jackson telah mengeluarkan ancaman yang dapat mengintimidasi dan mengganggu anak-anak lainnya, dan mereka pun tidak menerima kebijakan itu begitu saja karena hal itu dapat meninggalkan catatan buruk kepada anak mereka selama di sekolah.

“Anak saya tidak pernah mengeluarkan ancaman kepada sekolah. Dia sama sekali tidak berpikiran untuk meledakkan sekolahnya itu. Dia nyaris menjadi korban atas imajinasinya sendiri yang membuat dirinya merasa seperti pahlawan yang berusaha untuk mencegah agar bom di dalam ranselnya tidak meledak,” ujar Ian.

Ian dan istrinya pun tidak menghakimi Jackson atas kelakar yang dilontarkannya waktu di kelas. Mereka lebih memilih untuk menasihati Jackson perihal aturan untuk melepas ransel di dalam kelas, terlepas dari persoalan “ancaman teroris” yang membuat dirinya diskors.

Kedua orangtua Jackson berusaha untuk bernegosiasi dengan pihak sekolah agar kebijakan mereka dapat dicabut atau setidaknya dapat dilonggarkan. Pasalnya, mereka khawatir jika hukuman untuk anaknya itu malah bisa membuat anaknya trauma untuk berimajinasi secara bebas. Padahal, anak-anak pada usia tersebut sedang berada di tahap pengembangan imajinasi yang mungkin dapat bermanfaat bagi perkembangan potensinya di masa depan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Idham Nur Indrajaya
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES