Seperti Apa Pendidikan Awak Kabin Garuda Indonesia di Masa Lampau?

16 Februari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Melalui akta notaris tertanggal 31 Maret 1950, lahirlah maskapai penerbangan pertama milik Indonesia, yakni Garuda Indonesia Airways (GIA). Pada masa itu, GIA memiliki hubungan yang sangat dekat dengan maskapai Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) milik Belanda. Kedua maskapai saling bantu membantu, terutama dalam pengadaan sumber daya manusia.

Ketika GIA mulai beroperasi, otomatis sebagian besar karyawannya diisi oleh orang-orang Belanda dan mayoritas merupakan awak kabin pesawat KLM. Hal itu disebabkan oleh pola pikir masyarakat Indonesia yang masih tradisional dengan menganggap bahwa anak perempuan tidak diperbolehkan untuk pulang hingga larut malam dan bahkan menginap di tempat yang lain. Selain itu, lowongan untuk mengisi posisi sebagai awak kabin pesawat pun sangat jarang diminati oleh masyarakat Indonesia pada waktu itu.

Untuk menyiasati hal tersebut, pihak GIA lantas mendirikan Pusat Pelatihan Awak Kabin dengan nama Urusan Pendidikan di Bandara Kemayoran, Jakarta. Pusat pelatihan tersebut berada di bawah Departemen Personalia GIA sebagai salah satu cara agar dapat bekerja lebih mandiri dan dapat merekrut lebih banyak bangsa pribumi untuk menjadi awak kabin GIA. Ucapan sinis yang menyatakan bahwa moda angkutan udara lebih berbahaya dan awak kabin yang dinilai sebagai pembantu rumah tangga menjadi hambatan GIA dalam pelaksaannya.

Namun, perlahan tapi pasti mulai banyak orang Indonesia yang meminati posisi tersebut terlebih dengan iming-iming gaji yang tinggi tiap bulannya. Dalam hal ini, para awak kabin akan diberikan gaji sebesar Rp2.100/bulan, lebih tinggi dari gaji guru yang kala itu sebesar Rp1.500/bulan.

Pada era 1950-an, pendidikan yang dijalani oleh calon awak kabin pun masih sangat kental akan nuansa Belanda. Setiap calon awak kabin akan diberikan pelatihan selama tiga bulan dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Selain itu, mereka juga harus menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional di dunia penerbangan. Nasionalisasi GIA baru dimulai sekitar tahun 1954. Meski begitu, kurikulum yang digunakan masih mengikuti kurikulum yang digunakan oleh KLM dengan tambahan pemberian materi lokal. 

Banyaknya pemberontakan yang terjadi di Indonesia pada kisaran tahun 1957 (terutama PRRI/Permesta) membuat awak kabin GIA mendapatkan tugas baru untuk mengikuti wajib militer dengan bergabung bersama DAUM (Djawatan Angkutan Udara Miiter) AURI. Selepas itu, para awak kabin GIA pun kembali menjalani pelatihan seperti biasa di Urusan Pendidikan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa angkatan pertama dari awak kabin GIA lulusan Urusan Pendidikan menjadi pionir dari keberadaan awak kabin Garuda yang sekarang ini. 

Saat ini, Pusat Pelatihan Awak Kabin yang bernama Urusan Pendidikan sudah tidak ada lagi sehubungan dengan diberhentikannya operasi yang ada di Bandara Kemayoran. Sejak pertengahan tahun 1980-an, seluruh Pusat Pendidikan dan Latihan (Diklat) dipindahkan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang ada di Duri Kosambi, Cengkareng dan berganti nama menjadi Garuda Indonesia Training Center (GITC). 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES