Sejarah Tugu Muda dan 6 Monumen Peringatan Lainnya di Indonesia, Bikin Kagum!

07 Oktober 2017
|Chandra W.
0SHARES

Sejarah mencatat Indonesia sebagai bangsa yang terjajah beratus-ratus tahun lamanya. Portugis, Belanda, lalu Jepang akrab dalam ingatan anak-anak Indonesia sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hampir setiap kota punya cerita sendiri-sendiri, tentang bagaimana pemuda dan warganya melawan penjajah di masa itu. Kenangan perjuangan itu lalu diabadikan lewat monumen-monumen peringatan yang dibangun di tengah kota.

Sebut saja Tugu Muda di Semarang, Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Tugu Pahlawan di Surabaya, dan masih banyak lagi. YuKepo telah merangkum cerita di balik monumen bersejarah di Indonesia untuk kamu. Ngaku anak Indonesia, harus mau mengerti sejarahnya juga dong. Iya nggak?

1. Tugu Muda Semarang: simbol perjuangan pemuda dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang

Demi mengenang semangat perjuangan pemuda dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945) mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru seumur jagung, Tugu Muda didirikan di pertemuan Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, serta Jl. Pandanaran pada tahun 1951. Ada lima relief di kaki tugu sebagai penyangga pilar. Lima relief tersebut adalah,

Relief Hongerodeem yang menggambarkan derita rakyat Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang di mana mereka terserang busung lapar atau hongerodeem.

Relief Pertempuran yang melukiskan semangat juang penuh keberanian dari beberapa pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Relief Penyerangan yang memperlihatkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap para penjajah.

Relief Korban yang menunjukkan banyaknya korban Pertempuran Lima Hari Semarang.

Relief Kemenangan yang memamerkan hasil perjuangan dan pengorbanan pejuang pertahanan kemerdekaan di Semarang kala itu.

2. Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing Pontianak: mengenang senjata para pejuang kemerdekaan Indonesia

Terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura, Pontianak, Tugu Digulis bukan hanya sekadar simbol senjata perlawanan di Kalimantan. Ada kisah kelam di balik pembangunan tugu muda yang terdiri dari 11 bambu runcing ini. Pada tahun 1914, Partai Sarekat Islam (PSI) didirikan di Ngabang atau Kota Landak sekarang.

Di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh anggota PSI. Pemerintah Hindia Belanda pun khawatir akan terjadi hal yang sama di Kalimantan dan akhirnya PSI dibekukan. 11 anggotanya diasingkan ke Boven Digoel. 11 orang itu adalah Achmad Marzuki, Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, Gusti Djohan Idrus, Gusti Hamzah, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Soeloeng Lelanang, Jeranding Sari Sawang Amasundin, Hj Rais bin H Abdurahman, Moehammad Hambal alias Bung Tambal, Moehammad Sohor, dan Ya’ Moehammad Sabran. Tiga di antaranya wafat di pengasingan. Dari delapan sisanya, lima orang tewas dalam Peristiwa Mandor di Kabupaten Landak. Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing melambangkan perjuangan 11 tokoh PSI dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

3. Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat, Makassar

Monumen Mandala didirikan untuk mengenang perjuangan membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Setelah merdeka pada 17 Agustus 1945, ada satu wilayah yang masih diperebutkan Indonesia dan Belanda, yaitu Irian Barat. Sekitar 20 tahun setelah merdeka, Irian Barat baru berhasil direbut kembali melalui perjuangan yang berdarah-darah.

Monumen ini berbentuk segitiga, perlambang Tri Komando Rakyat (Trikora). Pada bagian atas dan bawah bangunan terdapat relief api yang menggambarkan kobar semangat perjuangan. Berbagai relief dan diorama ada di dalam monumen. Diorama ini menceritakan perjuangan Pembebasan Irian Barat. Ada juga replika pakaian masyarakat Sulawesi Selatan zaman dahulu.

Ada empat lantai dalam monumen ini. Setiap lantai menceritakan bagian yang berbeda dari keseluruhan rangkaian peristiwa pembebasan Irian Barat. Di lantai tiga misalnya, terdapat replika ruang kerja Panglima Mandala dan foto-foto persiapan pemberangkatan pasukan ke Irian Barat. Sedangkan dilantai keempat adalah ruang pandang untuk pengunjung yang ingin melihat kota Makassar dari ketinggian. Ruang ini berada di ujung menara dengan ketinggian sekitar 73-75 meter dari permukaan tanah.

4. Monumen Tugu Pepera, Jayapura: kembalinya Papua ke dalam wilayah Indonesia

Pepera atau Penentuan Pendapat Rakyat adalah suatu momen di mana masyarakat Papua diminta untuk menentukan apakah mau bergabung dengan Republik Indonesia atau berdiri sendiri. Terlepas dari kesimpangsiuran sejarah, pada akhirnya Papua hingga saat ini masuk ke dalam NKRI.

Waktu untuk sampai ke Pepera sejak merdeka tahun 1945 saja sangat lama, hampir 20 tahun dengan propaganda Indonesia untuk menarik perhatian internasional. Tidak sia-sia, PBB menyerahkan Papua ke Republik Indonesia pada tahun 1962 melalui Perjanjian New York. Salah satu poin dari perjanjian ini adalah diadakannya Pepera. Akhirnya Papua pun kembali masuk wilayah NKRI setelah perjuangan puluhan tahun.

5. Monumen Yogya Kembali (Monjali)

Terletak di tengah sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Jogja, Panggung Krapyak, dan Pantai Parangtritis, Monumen Yogya Kembali (Monjali) ini didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan-pahlawan yang merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan Penjajah Belanda. Tanggal 1 Maret 1949 pasukan TNI yang dipimpin oleh Letkol Soeharto atas persetujuan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan serangan dadakan ke markas Belanda di Yogyakarta.

Bentuknya yang unik seperti tumpeng melambangkan kesuburan dan pelestarian budaya Indonesia. Bangunan ini difungsikan sebagai museum. Di dalamnya terdapat diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia, juga suasana Perjanjian Renville, dan lain-lain.

6. Tugu Pahlawan, Surabaya: kenangan perjuangan arek-arek Suroboyo

Dilansir dari GNFI, Tugu Pahlawan berdiri di bekas reruntuhan Gedung Kenpeitai zaman Jepang yang sebelumnya berdiri Gedung Raad van Justitie (Gedung Peradilan) pada zaman Nederlands Indie. Dahulu, Gedung Kenpeitai yang merupakan markas polisi Jepang yang dijadikan tempat penahanan pejuang. Gedung ini pun juga menjadi saksi penderitaan para pejuang yang disiksa oleh Jepang seperti Ir. Darmawan, seorang tokoh ludruk Durasim.

Tugu Pahlawan berbentuk lingga atau paku terbalik, memiliki 10 lengkungan dan 11 ruas di tubuhnya. Angka-angka tersebut adalah simbol terjadinya pertempuran 10 November 1945 antara arek-arek Suroboyo melawan pasukan Sekutu yang kembali hendak menjajah Indonesia.

7. Monumen Palagan Ambarawa, Semarang

Monumen Palagan Ambarawa dibangun untuk mengenang sejarah pertempuran Palagan Ambarawa pada tanggal 12-15 Desember 1945. Saat itu Pasukan Sekutu terdesak dari Magelang dan mundur ke Ambarawa. Dengan perlawanan yang hebat oleh Pasukan TKR yang dipimpin Kolonel Soedirman, mereka berhasil mengalahkan Sekutu pada 15 Desember 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Infanteri.

Di monumen ini kamu dapat melihat seragam para tentara Jepang dan Belanda, senjata perang, seragam tentara Indonesia, dan barang bersejarah lainnya. Di samping itu kamu dapat menemukan beberapa tank kuno, kendaraan angkut personil dan meriam yang digunakan dalam pertempuran tersebut. Benda bersejarah yang paling menarik adalah pesawat Mustang P-51 Belanda yang berhasil ditembak jatuh ke dalam Rawa Pening.

Ternyata setiap monumen dan tugu peringatan di Indonesia memiliki kisah yang berbeda dan semuanya mengagumkan ya. Bisa membayangkan bagaimana perjuangan pahlawan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia kan sekarang?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES