Menapaki Jejak Peninggalan Sejarah di Titik 1000 Km

24 Juli 2017
|Indana Putri
0SHARES

Dari jaman SD sampai SMA, kita pasti diperkenalkan dengan pelajaran sejarah yang salah satunya menceritakan soal penjajahan Belanda selama kurang lebih 350 tahun. Selama itu pula, yang paling sering muncul dalam ujian adalah seputar kerja rodi. Yup! Sistem kerja paksa dengan upah yang sangat minim ini sering kali terjadi di tanah air, terutama pulau Jawa. Namanya aja kerja paksa, ya pastinya dipaksa kerja dengan bayaran yang nggak sebanding, malah kadang nggak dibayar. Kejamnya lagi, para pribumi saat itu terus dipaksa untuk bekerja tanpa istirahat. Nggak heran banyak pribumi yang akhirnya mati sia-sia. Salah satu penggagas kerja rodi yang terkenal hingga saat ini adalah Daendles, Gubernur VOC yang menjabat di sekitar tahun 1800-an.

Tapi, kita juga patut berterima kasih kepada beliau karena dengan ide-ide nya yang jenius nyerempet sadis, saat ini kita bisa menikmati fasilitas yang merupakan pengembangan dari sisa-sisa zaman penjajahan. Salah satunya adalah Jalur Pantura atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Jalan Raya Pos. Kalo kamu masih nggak tau apa itu Jalan Raya Pos, mungkin kamu bakal sedikit ingat dengan clue Anyer-Panarukan. Jalan ini membentang di sepanjang utara Pulau Jawa, mulai dari pelabuhan Anyer di Provinsi Banten dan berakhir tepat 1000 km di Panarukan, Situbondo, Jawa Timur. Fungsi utama jalan ini adalah untuk mempermudah pengiriman surat lewat pos. Zaman segitu, dengan adanya jalan raya pos ini, pengiriman surat bisa kelar dalam waktu 3-4 hari, sedangkan kalo lewat laut bisa-bisa nyampe 8 hari. Kerennya lagi, di tahun 1806 ketika jalan ini pertama kali dibuat, Daendless menargetkan jalan kerikil sepanjang 1000 km itu kudu kelar dalam waktu SETAHUN! Untungnya Presiden Indonesia yang sekarang ini lucu dan baik hati. Coba deh kalo proyek pembangunan tol trans-Jawa atau trans-Papua pake sistem kerja rodi, ngga bisa protes demo nyinyir di twitter!

Berbanding terbalik dengan Anyer yang masih ramai, kondisi Panarukan justru mulai terlupakan. Bahkan sejak tahun 80-an, nama Kabupaten Panarukan pun diubah jadi Kabupaten Situbondo. Udah ngga terlihat lagi sisa-sisa kejayaan Panarukan yang dulunya merupakan salah satu kota terbesar dalam dunia perdagangan di Hindia Belanda. Miris ya!

1. Biar ngga buta arah, liat dulu nih peta Jalan Raya Pos terbitan tahun 1806

Udah kebayang seberapa jauhnya? Lanjut!

2. Bekas gudang tembakau dekat Pelabuhan Panarukan

Kabupaten Panarukan (yang sekarang udah berubah nama jadi Kabupaten Situbondo) dikenal dengan hasil bumi berupa tebu, kopi, dan tembakau pada zaman penjajahan. Kabupaten ini juga digunakan sebagai sentral pengumpulan hasil bumi dari kawasan tapal kuda (Jember, Bondowoso, Banyuwangi). Kebayang nggak dulu ini wilayah gedenya kayak gimana?

3. Pelabuhan Panarukan Lama

Ini foto di sekitar tahun 1800-an.

4. Mercusuar peninggalan zaman penjajahan

Ini kondisi mercusuarnya yang kini berada di pelabuhan lama.

6. Pelabuhan Panarukan yang baru

Meskipun sudah dibangun pelabuhan baru yang lebih bagus, tapi tetap saja sepi.

7. Stasiun Panarukan

Stasiun ini dulunya digunakan sebagai tempat untuk mempermudah pengiriman barang yang akan diekspor ke Belanda maupun Jerman melalui Pelabuhan Panarukan. Tapi, sejak pelabuhan sepi, stasiun pun ikut sepi sehingga akhirnya Stasiun Panarukan berhenti beroperasi di tahun 2004. Kini kondisi stasiun ini begitu Mengenaskan.

8. Kantor Pos Situbondo

Inilah ujung jalan raya pos 1000 km.

9. Tugu 1000 km Panarukan

Di kota ini banyak yang terlupakan. Bukan hanya kejayaan masa lampau, tapi juga nyawa yang mati sia-sia karena kerja paksa. Sayangnya, kota ini ngga bisa membuat kita melupakan mantan. Hiks, syediiih~

10. Tugu Titik 0 km Anyer

Jika dibandingkan dengan tugu 1000 km panarukan yang sederhana, tugu 0 km di Anyer ini luar biasa megahnya!

Pada akhirnya masa lalu akan berlalu. Tapi, sebagai bangsa yang besar kita harus ingat kata Presiden Pertama Indonesia, yakni kata "JAS MERAH" yang berarti jangan sekali-kali melupakan sejarah!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Indana Putri
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES