Kisah Menarik di Balik Benteng-benteng yang Ada di Indonesia

05 Juli 2017
|Chandra W.
0SHARES

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sejarah. Negara ini dulunya bukan satu kesatuan, melainkan terdiri dari banyak kerajaan yang berbeda-beda di setiap pulau. Ketika masih terpecah-pecah dan belum menjadi satu Indonesia, banyak negara yang menjajah Indonesia karena kekayaan rempah-rempah yang dulu merupakan komoditas yang sangat mahal di negara-negara Eropa. Bangsa Portugis dan Belanda adalah dua contoh yang pernah menjajah Indonesia. Orang-orang Belanda bukan hanya mengambil rempah-rempah. Saking lamanya berada di Indonesia, 350 tahun, Belanda juga meninggalkan banyak kenangan di Indonesia. Dari gedung-gedung di kompleks pemerintahan kota yang berpusat di alun-alun, sistem menanam, rel kereta, hingga benteng. Apa saja benteng peninggalan Belanda di Indonesia dan bagaimana kisah di baliknya?

Pertama, ada Benteng Van der Wijck di Kebumen, Jawa Tengah. Bangunan ini disebut juga benteng merah karena warna yang memenuhi dindingnya. Tidak ada yang tahu persis apakah bangunan ini berfungsi untuk penyimpanan logistik atau pertahanan. Nama Van der Wijck sendiri adalah nama seorang jenderal Belanda yang dianggap cukup berprestasi dalam mengatasi pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Sebelumnya, nama bangunan ini adalah Fort Cochius diambil dari nama seorang jenderal Belanda juga yang ditugaskan di daerah Bagelen yang merupakan bagian dari Karesidenan Kedu. Awalnya benteng ini adalah barak militer yang digunakan untuk meredam pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Sampai sekarang, bangunan ini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu ikon wisata di Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen.

Kedua, Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Terletak di ujung Jalan Malioboro, awalnya bangunan ini merupakan parit atau bunker tempat berlindung. Lalu pada tahun 1760, Sultan Hamengku Buwono I membangun Benteng Vredeburg atas usulan pemerintah Belanda. Meskipun saat itu ditujukan untuk melindungi pemukiman dan gedung pemerintahan Belanda (Gedung Agung sekarang), sebenarnya bangunan ini juga dibangun untuk tempat persiapan jika sewaktu-waktu terjadi pemberontakan dari warga Yogyakarta. Jaraknya yang dekat dengan Keraton memungkinkan penembakan meriam yang sangat efektif dari sana. Saat itu juga kabarnya Keraton Yogyakarta mempunyai meriam sendiri. Jadi seperti sama-sama bersiap jika suatu saat ada serangan dari pihak musuh. Sekarang bangunan ini sudah beralih fungsi menjadi museum yang menampilkan diorama-diorama mengenai sejarah Indonesia.

Ketiga, Benteng Vastenburg di Surakarta. Benteng ini dibangun pada tahun 1774 atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff dan selesai pada tahun 1779. Hingga Indonesia sudah merdeka, benteng ini masih dikuasai Belanda dan akhirnya direbut dengan cara kekerasan oleh masyarakat Solo. Benteng berhasil direbut pada tahun 1947 namun banyak korban berjatuhan. Setelah bertahun-tahun tidak dibuka untuk umum sejak tahun 1990, benteng ini akhirnya dipugar dan dibuka untuk umum pada tahun 1998.

Setiap bangunan pasti punya cerita. Termasuk benteng yang tentunya mempunya banyak cerita di masa lalu. Dan karena itu termasuk bagian sejarah, kita sebagai orang Indonesia juga wajib mengetahui dan merawat kelestariannya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES