Kersanan nDalem, Menikmati Kuliner Para Raja Keraton Djogja

13 Agustus 2017
|Indana Putri
186SHARES

Sejak dulu, Jogja selalu istimewa karena kekayaan budayanya. Salah satu yang paling membuatnya menarik adalah lingkungan istana atau biasa disebut Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Meskipun didirikan atas campur tangan Belanda pada perjanjian Giyanti di tahun 1755, namun Keraton Jogja tidak kehilangan keaslian budayanya. Terlihat dari tradisi yang masih sering kali dilakukan, seperti sekaten, topo bisu mubeng beteng, apeman, bahkan makan siang pun ada ritualnya.

Ritual makan siang memiliki ritme tersendiri di Keraton Jogja ini. Dimulai dari pemilihan abdi dalem yang bertugas, peralatan makan, penataan, menu makanan, sampai tata cara makan pun ada ritualnya sendiri. Menariknya, ritual dilakukan berdasarkan pada permintaan raja. Beda raja, beda pula ritualnya. Pun dengan menu yang dihidangkannya. Dari kesemua raja yang memiliki selera berbeda, ada satu kesamaan: Makanannya pasti enak! Berdasarkan pada ritual makan siang ini, akhirnya terciptalah ide untuk memperkenalkan hidangan para raja kepada khalayak umum. Tujuannya, ya, untuk memperkaya wisata kuliner ala keraton di Djogja. Kini, kamu pun bisa menikmati hidangan para raja!

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1755 berdasarkan pada perjanjian Giyanti. Sebelumnya, Keraton Jogja hanya digunakan sebagai tempat persinggahan rombongan yang akan memakamkan raja-raja Mataram. Setelah berdiri sendiri, Keraton Jogja akhirnya bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950. Meskipun begitu, keraton tetap digunakan untuk tempat tinggal para sultan dan masih melaksanakan tradisi kesultanan hingga saat ini.

Untuk memasak hidangan para raja, tentu ada tempat tersendiri. Namanya Pawon Ageng. Dari sinilah, hidangan lezat untuk para raja itu dibuat.

Keunikan dari ritual makan ini adalah jodhang atau peti makan. Makanan yang akan disajikan untuk raja terlebih dahulu ditata dan dimasukkan ke dalam peti yang kemudian dipikul oleh abdi dalem. Dalam perjalanannya, jodhang harus dipayungi. Masyarakat di lingkungan keraton percaya bahwa memayungi jodhang sama dengan menjaga agar raja yang memakannya selalu sehat dan terlindungi.

Masih terlihat sedikit kultur eropa di sini, yakni tradisi minum teh. Ada bagian tersendiri bernama patehan, yakni tempat untuk membuat teh yang diperuntukan bagi para raja. 

Inilah menu favorit HB VII atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Sugih. HB VII adalah raja yang membawa Keraton Ngayogyakarta berada di titik terkaya sehingga mempengaruhi gaya makannya yang cukup mewah. Kebanyakan menunya berasal dari protein hewani, seperti dendeng age dan dendeng ragi yang terbuat dari daging sapi, tim piyik dari burung dara muda, dan urip urip gulung dari lele.

Berbeda dengan Sultan HB VIII yang mana makanan kegemarannya sedikit termodifikasi oleh budaya Belanda. Terlihat dari adanya bir plethok (bir jawa) yang membuat perut hangat, namun tidak mengandung alkohol, juga lombok kethok yang berasal dari daging. Selain itu, ada sumo ewo dan manuk enom, kuliner yang sulit ditemui di era sekarang ini.

Di antara semua sultan, HB IX lah yang paling dikenal suka memasak. Setiap bulannya, ia akan pulang dan mengajak anak istrinya memasak bersama. Karena pernah tinggal di luar negeri, menu favorit HB IX akhirnya berbau ke-eropa-an. Terlihat dari menu bistik jawa yang terbuat dari daging sapi. Selain hidangan di atas, HB IX juga gemar menyantap bebek suwar suwir.

Namun, dari semua sultan, HB X lah yang paling sederhana. Terlihat dari menu favoritnya, yaitu sup timlo, gecok genem, dan pecel ayam.

Serunya, semua hidangan raja kini bisa kamu nikmati di Bale Raos. Bale Raos sendiri berarti tempat makan para raja yang dibuka untuk umum sejak tahun 2004.

Tertarik utnuk mencoba menu ala raja jawa? Yuk, ah segera meluncur ke Yogyakarta!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Indana Putri
Gak Punya Quote Nih!
186SHARES