Fenomena Traveling Demi Eksistensi di Dunia Maya, Bukannya Bahagia Malah Jadi Begini

www.cleo.co.id

Traveling merupakan perjalanan yang dilalui oleh seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya, baik sendirian maupun bersama teman-teman. Kegiatan yang mengasyikkan ini memang terkadang membutuhkan modal yang tidak sedikit. Kamu harus pintar-pintar menyisikan uangmu agar bisa berkeliling ke tempat-tempat yang kamu sukai. Jangan sampai kasus di mana seseorang rela berhutang demi bisa traveling ke tempat yang ia sukai. Bukannya bahagia yang didapatkan malah perasaan stres yang dirasakan. Bahkan, ia diduga membawa kabur uang-uang yang ia pinjam. Duh, gak mau kan kamu sampai sebegitunya demi bisa travelingan?

Berbicara mengenai traveling, kegiatan yang cukup menguras tenaga, namun menyenangkan ini sangat digandrungi oleh kaum milenial seperti sekarang ini. Menurut survei yang dilakukan oleh Majalah Femina, sebanyak 50 persen responden mengaku rela untuk hidup seirit mungkin demi bisa menabung dan pergi liburan ke tempat-tempat yang mereka impikan. Namun, hal yang mengejutkan adalah sebanyak 44 persen responden menyatakan bahwa mereka rela untuk berhutang demi bisa traveling. Wow!

xshot.com

Selanjutnya, hal yang pasti menjadi ‘oleh-oleh’ pada tiap perjalanan traveling mereka adalah sebuah foto. Meski perasaan orang tidak ada yang tahu, namun menurut penelitian, setidaknya ada sekelompok orang yang sering banget nunjukin foto-foto ketika bertraveling ria hanya untuk bisa eksis di media sosial. Siapa yang tidak suka mendapatkan banyak like, komentar, hingga follower yang bertambah? Benar? Namun, jika kita memiliki perasaan ingin eksis di dunia maya melalui sebuah unggahan foto pada saat traveling, apakah itu baik-baik saja? Atau apakah hal tersebut merupakan salah satu ciri dari rasa iri seseorang?

www.hipwee.com

Traveling itu bahagia

Siapa sih yang tidak ingin bahagia? Penulis, kamu, mereka, dia, semuanya ingin merasa bahagia. Benar? Kita pun tau salah satu kunci dari bahagia adalah uang. Kenapa? Karena kita tidak bisa menafikan bahwa uang dapat membeli barang-barang yang kita sukai dan dengan uang kita juga bisa pergi ke tempat-tempat yang kita kehendaki. Seorang profesor psikologi dari Cornell University, Thomas Gilovich, telah mempelajari kaitan antara uang dan kebahagian. Hasilnya, musuh terbesar dari kebahagiaan adalah adaptasi. Menurutnya, uang memang bisa membeli kebahagiaan, namun hanya pada titik tertentu. Selanjutnya, bertahan atau tidaknya perasaan bahagia seseorang bergantung pada proses adaptasi terhadap objek dari kebahagiaan yang telah diciptakan dengan uang tersebut. Gilovich pun melakukan penelitian dengan melihat perbandingan antara orang yang hobi berbelanja dan orang yang hobi traveling.

Hasilnya, pada tingkatan awal, perasaan bahagia dari kedua tipe bisa dikatakan sama. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, rasa puas dan bahagia pada orang yang memiliki hobi berbelanja cenderung menurun dan bahkan hilang daripada mereka yang memiliki hobi traveling. Hal ini disebabkan barang-barang yang dibeli itu bukanlah merupakan bagian dari diri kita sehingga dengan perkembangan waktu perasaan bahagia tersebut akan perlahan menghilang. Berbeda dengan mereka yang hobi traveling. Pengalaman akan perjalanan yang telah mereka lakukan akan terus melekat bersama ingatan dan bahkan cenderung semakin kuat sehingga perasaan puas dan bahagia yang dimiliki oleh mereka dapat bertahan lama.

Lanjut menurut Thomas, banyak orang membeli barang untuk menunjukkan identitas mereka. Misalnya, mereka yang membeli gadget baru akan menunjukkan identitas mereka,, mereka yang membeli apartemen mewah di tengah kota akan menunjukkan identitas mereka, atau mereka yang membeli berbagai gaya busana juga akan menunjukkan identitas mereka. Orang dengan tipe seperti ini merasa bahwa barang-barang tersebut telah menjadi identitas dari mereka, namun lupa bahwa barang-barang tersebut bukanlah bagian dari diri mereka sendiri sehingga efeknya seperti yang telah dijelaskan di atas.

phinemo.com

Rasa iri berhujung pada ‘pamer diri’

Ketika kita melihat seorang teman mengunggah foto di media sosial tengah berada di sebuah tempat yang indah yang mana tempat tersebut belum bisa kita kunjungi, tentu kita akan merasa jengkel dan iri. Terlebih tempat tersebut adalah tempat impian yang ingin sekali kita kunjungi. Hingga kemudian kita ‘memaksa’ diri kita untuk bisa pergi traveling agar bisa memajang foto-foto kece di media sosial kita. Apakah kegiatan traveling yang kita lakukan dapat menghasilkan kebahagiaan?

Menurut studi psikologis, salah satu alasan seseorang ingin eksis di media sosial adalah karena ingin dilihat, dikenal, hingga dipuji oleh banyak orang. Popularitas tersebut secara psikologis membuat seseorang akan lebih merasa bangga. Wajar sih, namun masyarakat saat ini banyak juga yang memperlakukan media sosial secara berlebihan.

Roger Dow, seorang Presiden dan CEO dari asosiasi travel Amerika Serikat , mengutarakan enam efek traveling pada diri manusia dalam sebuah jurnal yang berjudul “Travel Effect: A Call to Lead, a Means to Do So”. Salah satu efek yang dikemukakannya adalah traveling dapat meredakan stres. Melihat pepohonan yang rindang, menghirup udara segar, ataupun menikmati sunset/sunrise dapat membuat seseorang merasa lebih tenang dan bahagia.

Namun, jika traveling dilakukan dengan motivasi yang kurang baik, seperti ingin dipuji (pamer) di media sosial, perasaan puas, tenang, bahagia cenderung stagnan dan malahan sama sekali tidak ada. Hal itu disebabkan orang dengan tipe seperti ini akan lebih memprioritaskan waktu untuk mencari spot-spot keren daripada menikmati perjalanan dari traveling itu sendiri.

Boleh saja jika kita ingin mencari spot foto terbaik untuk diunggah ke dalam media sosial kita, namun harus diiringi dengan niat yang baik juga. Misalnya, untuk memperlihatkan keindahan alam Indonesia, bukan ingin menunjukkan, “Nih, gue udah pernah ke sini!” Ketika kamu telah mengunggah foto tersebut, namun yang ‘nge-like’ atau ‘nge-komen’ sedikit, pasti ujung-ujungnya kamu sakit hati.

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Melihat Pemandangan Salju di Gurun Sahara yang Bikin Takjub Sekaligus Takut!

Melihat Pemandangan Salju di Gurun Sahara yang Bikin Takjub Sekaligus Takut!

7 Tempat Nongkrong Paling Instagram-able di Bandung. Wajib Cekrek dan Upload!

7 Tempat Nongkrong Paling Instagram-able di Bandung. Wajib Cekrek dan Upload!

8 Ilmu Dasar Bertahan Hidup di Alam Bebas bagi Kamu yang Senang Berpetualang

8 Ilmu Dasar Bertahan Hidup di Alam Bebas bagi Kamu yang Senang Berpetualang

Tantangan Wisata Mistis! Kamu Berani Datang ke 9 Tempat Angker di Indonesia Ini?

Tantangan Wisata Mistis! Kamu Berani Datang ke 9 Tempat Angker di Indonesia Ini?

Pesona Pulau Saronde di “Negeri Serambi Madinah” bak Madu dari Surga!

Pesona Pulau Saronde di “Negeri Serambi Madinah” bak Madu dari Surga!

Hebat Banget Indonesia Punya Pantai Seindah Ini. Datang ke Sini Dijamin Stres Hilang!

Hebat Banget Indonesia Punya Pantai Seindah Ini. Datang ke Sini Dijamin Stres Hilang!

loading