Sempat Berjualan Dawet Demi Sekolah, Inilah Kisah Perjalanan dari Susi Ngapak

19 Januari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
927SHARES

Dangdut merupakan salah satu aliran musik yang cukup populer di Indonesia. Berdasarkan sejarahnya, musik dangdut dipengaruhi oleh musik India melalui film-film Bollywood dan juga lagu “Boneka dari India” milik Ellya Khadam. Kemudian, pada tahun 1968, muncullah Rhoma Irama sebagai pelopor utama musik dangdut di Indonesia. Menurut Putu Wijaya dalam pernyataannya di majalah Tempo edisi 27 Mei 1972 menyebutkan bahwa lagu Boneka dari India yang dibawakan oleh Ellya Khadam adalah campuran lagu Melayu, irama padang pasir, dan juga “dang-ding-dut” khas India. Selanjutnya, jenis musik yang seperti ini disebut dengan musik dangdut. 

Saat ini, musik dangdut kian digemari oleh masyarakat Indonesia. Banyak juga ajang pencarian bakat yang bertujuan untuk mencari bibit-bibit pedangdut Indonesia. Misalnya saja pada ajang kontes “Bintang Pantura” yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi nasional. Dari sana muncul beberapa pedangdut muda yang diperkirakan dapat berprestasi di kancah musik nasional.

Salah satunya adalah Susi Ngapak. Perempuan asli Banyumas ini menjadi dikenal oleh masyarakat Indonesia setelah keluar sebagai runner up pada ajang “Bintang Pantura”. Ia pun kemudian merilis sebuah single yang berjudul “Kuper (Kurang Perhatian)”. 

Pada hari Rabu (17/01/2018) kemarin, tim YuKepo berkesempatan untuk mewawancarai Susi Ngapak secara ekslusif. Ia pun bercerita mengenai perjalanan karirnya dari awal sampai sekarang. Ternyata, untuk meraih impian memang tidaklah mudah. Bahkan, Susi sendiri sempat berjualan es dawet agar bisa terus bersekolah.

“Saya berasal dari keluarga sederhana dan dulu saya itu penyanyi kampung yang manggung dari kampung sebelah ke kampung sebelah. Sebelum jadi penyanyi juga sempat jualan dawet dan sayur-sayuran milik orang lain waktu SD, terus mendapatkan upah sebesar Rp500 dan Rp700,”.

“Dulu saya sempat ingin membeli sepatu sekolah. Zaman dulu harganya Rp29 ribu. Sepatu saya udah rusak menganga dan saya harus berjualan dawet selama sebulan dan dikasih Rp900. Saya kumpulkan hingga sampai Rp29 ribu,” ujar Susi yang juga menjadi juri dalam acara “Bintang Biduan Bigo” di Studio Nagaswara, Menteng, Jakarta Pusat.

Sekilas tentang “Bintang Biduan Bigo”

Pada saat yang bersamaan, Susi Ngapak tengah menjadi juri untuk ajang “Bintang Biduan Bigo” yang diselenggarakan oleh Bigo dengan menggandeng Nagaswara dan Codapay untuk turut menyukseskan acara tersebut. Menurut PR Bigo, Agung Budiman, ajang ini menjadi pembuktian dari pihak Bigo bahwa Bigo terus mendukung minat serta kreativitas dari masyarakat Indonesia.

“Bigo adalah sebuah platform yang mana masyarakat Indonesia dapat menunjukkan kebolehan mereka dalam segi apa pun. Untuk saat ini, Bigo telah bekerja sama dengan Nagaswara dan Codapay untuk membuat sebuah ajang pencarian bakat yang bernama “Bintang Biduan Bigo” karena banyak masukan dari masyarakat Indonesia untuk membuat sebuah acara yang seperti ini,” ujar Agung kepada tim Yukepo.

Selain Susi Ngapak, dalam ajang ini juga menghadirkan juri dari mantan finalis KDI 2014, Deni Faisal Ismail atau yang akrab disapa Denias. Grand final dari ajang “Bintang Biduan Bigo” rencananya akan digelar pada Minggu (21/1/2018) besok di Kota Tua dengan menghadirkan beberapa penyanyi dangdut kenamaan, salah satunya adalah Hesty Klepek-Klepek. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
927SHARES