Ulat Pengurai Plastik, Solusi Unik Bagi Persoalan Limbah Dunia

11 Juni 2017
|Romlah Sundari
0SHARES

Limbah plastik selama ini telah menjadi permasalahan besar bagi lingkungan hidup. Konsumsi plastik kita yang berlebih tidak berbanding lurus dengan tingkat degradasinya yang rendah. Limbah plastik kini menjadi salah satu polutan terbesar di laut yang bertanggung jawab atas berkurangnya jumlah populasi berbagai hewan yang hidup di lautan dan sekitarnya. Selain berbahaya bagi ekosistem laut, plastik juga berbahaya bagi kesehatan manusia. Menurut laporan PBB, hadirnya mikro-partikel plastik dalam hewan-hewan laut akan meningkatkan risiko masuknya zat-zat kimia plastik ke dalam tubuh. Hal ini tentu akan merusak kesehatan, mengingat plastik mengandung berbagai bahan kimia yang berbahaya. Untungnya, seorang ilmuwan asal Spanyol, Federica Bertocchini menemukan sebuah solusi mengejutkan untuk mengatasi polusi limbah plastik ini.

Federica Bertocchini yang beternak lebah di waktu senggangnya ini mendapatkan ulat pemakan lilin (Galleria Mellonella) merusak sarang-sarang lebahnya. Ulat ini merupakan larva ngengat yang memang terkenal menjadi hama bagi peternak lebah. Kebutuhannya untuk mengonsumsi lilin membuat ulat ini menghancurkan sarang lebah yang merupakan tempat produksi madu bagi para lebah. Memahami bahaya akan adanya hama tersebut, Bertocchini lantas memunguti dan membuang ulat itu ke dalam sebuah kantung plastik dan meninggalkannya. Ajaibnya, saat ia kembali, ia menemukan kantung plastik tersebut telah dipenuhi oleh lubang. Ulat-ulat tersebut ternyata dapat mencerna dan mengonsumsi tidak hanya lilin yang diproduksi oleh lebah, namun juga plastik yang terbuat dari polyethylene, jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia.

Kejadian mengejutkan ini membangkitkan rasa penasaran Bertocchini. Untuk itu ia mengajak dua orang biochemist untuk meneliti lebih lanjut mengenai kemampuan ulat dalam mencerna plastik. Bertocchini dan rekannya membuat “jus ulat” dan menuangkannya pada sebuah plastik untuk mengetahui apakah ulat tersebut benar-benar mencerna plastik dan tidak hanya mengunyah plastik. Hasilnya, “jus ulat” tersebut sanggup mendegradasi 13% plastik dalam setengah hari.

Penemuan Bertocchini ini tidak luput dari sanggahan dari ilmuwan lainnya. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa penggunaan ulat sebagai agen pengurai limbah plastik merupakan suatu solusi yang tidak praktikal. Hal ini dikarenakan untuk mengurai limbah plastik yang berjumlah jutaan ton, dibutuhkan ulat dalam jumlah yang tidak realistis. Selain itu, budidaya satu spesies secara besar-besaran akan mengganggu keseimbangan ekosistem secara luas.

Karena itu, Bertocchini meneliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi dan mereproduksi enzim dalam tubuh belatung yang berfungsi dalam menguraikan plastik. Ia berpendapat bahwa jika ia dapat mereproduksi enzim tersebut dan memasukkannya dalam bakteri E. Coli, ia dapat mendegradasi jutaan limbah plastik yang mengotori laut.

Bagaimanapun, memanfaatkan organisme lain untuk mengatasi limbah dari kehidupan sehari-hari kita bukanlah jawaban yang terbaik. Mengubah gaya hidup kita dengan mengurangi konsumsi plastik dan mendaur ulang sampah tetap merupakan solusi yang harus diterapkan. Penemuan Bertocchini ini, meski brilian, tidak dapat menjadi solusi tanpa perubahan pada kebiasaan konsumsi plastik kita. Sebagai anak muda yang merupakan agen perubahan, sudah sepatutnya kita turut melestarikan lingkungan hidup kita demi masa depan bumi dan generasi mendatang.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES