Sindrom Stockholm: Saat Jatuh Cinta Pada Orang yang Jahat Padamu

01 Juli 2017
|Faizah Pratama
0SHARES

Cinta menjadi kata yang selalu dielu-elukan terutama oleh orang yang sedang dekat dengan lawan jenis. Yang perlu diketahui sebelumnya, cinta tidak terbatas pada sesuatu yang romantis, lebih dari itu ternyata cinta memiliki makna yang lebih luas. Pengertian dasarnya, cinta adalah rasa suka, rasa terpikat, dan rasa ingin yang kuat baik kepada sesama manusia maupun makhluk lainnya. Cinta datangnya tidak dapat ditebak kadang kepada teman, tetangga, bahkan musuh. Ada juga kasus saat seseorang jatuh cinta, padahal orang yang dicintainya itu jahat padanya, menyakitinya, bahkan menyiksanya. Benar-benar cinta buta, ya?

Kondisi seseorang yang mengalami cinta semacam itu dapat dikategorikan sebagai sindrom stockholm. Sindrom stockholm dapat didefinisikan sebagai suatu respon psikologis ketika seorang tawanan mulai menunjukkan kesetiaan pada orang yang menculiknya atau orang yang jahat padanya. Sindrom ini diambil dari nama sebuah kota di negara Swedia. Ada cerita menarik di balik sindrom rasa cinta ini.

Dilansir dari www. britanica.com, nama Sindrom Stockholm bermula pada sebuah peristiwa perampokan sebuah bank di Kota Stockholm, Swedia pada Agustus 1973. Empat karyawan tersebut disandera selama enam hari. Dalam keputusasaan, waktu enam hari ternyata dapat menumbuhkan ikatan emosional antara para penculik dan para sandera.

Terbukti, Saat Perdana Mentri Swedia melakukan kontak telepon dengan para sandera, mereka justru lebih mempercayai penculiknya karena mereka takut ketika polisi melakukan penyerbuan, para sandera justru akan terluka bahkan meninggal saat itu. Bahkan ada pula yang mengabarkan, ketika para sandera dibebaskan, mereka justru membela para penculik dan melindunginya. Lebih ekstrem lagi ada seorang korban yang justru jatuh cinta pada salah seorang penculik bahkan hingga meninggalkan tunangannya.

Ada penjelasan dibalik kisah yang seakan-akan lebih pantas jadi karangan fiksi itu. Ketika penculikan terjadi para sandera akan tersudut dan merasa putus asa. Para penculik pun bertingkah seolah memberikan intimidasi yang seolah-olah dapat mengancam nyawa para sandera. Ketika penculik memutuskan untuk tidak menyakiti korbannya dan memperlakukan mereka dengan baik, para sandera akan menaruh simpati pada para penculik sebagai bentuk rasa terima kasih mereka.

Dilansir dari laman yang sama, Sindrom Stockholm saat ini diperluas cakupannya, termasuk orang-orang yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang meski disiksa tetap masih mencintai suaminya. American Psychiatric Association sindrom Stockholm tidak termasuk dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental. Namun, sindrom ini juga memerlukan penanganan khusus terutama jika seseorang berada dalam kesetiaan buta yang telah mencapai tahap berbahaya.

Itulah penjelasan tentang Sindrom Stockholm, sindrom tentang kesetiaan yang justru muncul pada orang yang jahat pada kita. Apakah kamu termasuk orang yang pernah mengalaminya?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Faizah Pratama
"Di mana-mana hatiku senang!"
0SHARES