Semakin Disakiti Kok Malah Makin Sayang? Waspada Sindrom Stockholm yang Berbahaya!

22 Juni 2017
|Olphi Disya
425SHARES

Mungkin judul di atas terdengar aneh bagimu. Kok bisa-bisanya ada orang yang semakin sayang dan nggak bisa lepas dari orang yang udah menyakiti dirinya? Well, padahal sebenarnya memang ada lho orang-orang yang seperti itu. Memang terdengar nggak masuk akal pada awalnya, karena mungkin kamu belum mengalami kondisi Stockholm syndrome (sindrom stockholm). Atau mungkin kamu justru nggak menyadari bahwa ada perilaku tertentu yang sebenarnya bisa termasuk ke dalam kecenderungan orang yang mengalami sindrom Stockholm. Nah, sindrom ini bisa terjadi pada siapa aja dan dalam bentuk hubungan apapun, termasuk misalnya dalam kasus penculikan. Ada korban penculikan yang justru merasa jatuh cinta dengan pelaku penculikan. Lho, kok bisa? Berikut penjelasannya.

Pasti kamu bertanya-tanya apa itu sindrom Stockholm dan mengapa dinamai demikian? Jadi sebenarnya sindrom Stockholm mulai diteliti oleh pakar psikologi yang berasal dari sebuah kasus yang unik. Nama Stockholm syndrome awalnya bermula dari kejadian perampokan bank Kreditbanken di Stockholm, Swedia. Kedua pelaku bersenjata yaitu Olsson dan Olofsson menyandera 4 orang pegawai bank selama 6 hari. Ketika para korban hendak diselamatkan di hari ke-6, para korban justru berpihak pada kelompok penyandera. Konon mereka berbuat demikian karena penyandera memperlakukan mereka dengan baik seperti memberi selimut ketika kedinginan. Setelah pelaku ditangkap, para korban pun melakukan aksi galang dana untuk membebaskan para pelaku. Bahkan tersiar kabar bahwa salah satu korban memiliki hubungan spesial dengan salah seorang pelakunya. Fenomena ini kemudian diteliti dan dinamai sindrom Stockholm.

Kalau dikaitkan dengan kasus sehari-hari, belakangan juga marak kasus kekerasan dalam hubungan. Entah itu hubungan pacaran hingga KDRT. Tapi banyak juga korban kekerasan yang nggak mau meninggalkan pasangan yang telah menyakitinya secara verbal maupun fisik. Justru terlihat makin sayang dan bergantung pada pasangannya tersebut. Coba cek kepada diri sendiri atau orang terdekatmu, adakah yang mengalami sindrom Stockholm dengan gejala sebagai berikut?

- Menunjukkan kekaguman pada para pelaku

- Menolak upaya penyelamatan

- Membela para pelaku

- Mencoba untuk menyenangkan pelaku

- Penolakan untuk bersaksi melawan pelaku

- Penolakan untuk melarikan diri dari pelaku

Lalu, yang bikin penasaran, kok bisa ya ada orang yang mengalami sindrom tersebut? Sebab terbesarnya adalah para korban melihat satu kebaikan dari pelaku dan menganggap kebaikan tersebut amat berarti. Para korban berpikir bahwa nggak membunuhnya pun menjadi salah satu kebaikan yang diberikan pelaku terhadapnya. Apalagi kalau ada pelaku yang memperlakukan korban dengan memberikan apa yang dibutuhkan seperti memberikan makan, perhatian, dan sesuatu yang mungkin selama ini korban cari di orang lain. Tapi siapa sangka rasa simpati terhadap pelaku justru akan menumbuhkan rasa sayang yang besar sehingga korban nggak lagi merasa apa yang dilakukan pelaku adalah hal yang mengancam mental dan nyawanya.

Begitulah penjelasan singkat dari sindrom Stockholm yang mungkin belum kamu tahu. Yang pasti sindrom ini harus dihindari dan diwaspadai. Berpikirlah secara logis dan kamu boleh banget kok egois dengan memikirkan keselamatanmu ketika berada dalam kondisi yang terancam. Kalau kamu rasa kamu sedang mengalami sindrom ini, segera cari bantuan para ahli seperti psikolog dan psikiater, ya!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Olphi Disya
"Upcoming psychologist. Awesome weirdo."
425SHARES