Pria Ganteng Ini Berasa Makan Pasir Setiap Dengar Kata ‘Konglomerat’, Gila atau Sakit?

24 September 2017
|Romlah Sundari

Selama ini, mayoritas dari kita hidup dengan kelima indra kita yang berfungsi secara mandiri. Lidah sebagai indra perasa untuk mengecap rasa makanan, telinga sebagai indra pendengar untuk mendengar suara, mata sebagai indra penglihat untuk melihat dunia, kulit sebagai indra peraba untuk merasakan tekstur dan permukaan benda-benda, dan hidung sebagai indra pencium untuk menghirup aroma. Kelima indra tersebut dapat berfungsi secara bersamaan, namun merespon pada rangsangan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi masing-masing indra. Namun, bagaimana jika terdapat dua atau lebih indra yang merespon pada satu rangsangan yang sama? Bagaimana jika fungsi tiap indra tercampur sehingga kita tidak hanya melihat, namun juga mendengar warna? Atau mungkin kita tidak hanya meraba, namun juga mencium tekstur?

Hal inilah yang terjadi pada seorang pria tampan berusia 29 tahun yang dapat merasakan sereal cornflakes di lidahnya acap kali mendengar kata timur dan rasa lollipop buah setiap mendengar nama bosnya, Alice. Pria yang diketahui bernama Dave Evans dan berprofesi sebagai manajer media sosial ini pertama kali menyadari kondisinya tersebut saat berusia sembilan tahun. Awalnya ia mengira setiap orang merasakan hal yang sama dengannya. Namun, saat ia bertanya kepada teman-temannya apakah mereka mengecap rasa-rasa tertentu saat mendengar suatu kata diucapkan, teman-temannya justru bingung dan mengejeknya habis-habisan.

Setelah mengetahui bahwa tidak semua orang mengalaminya, Dave menyimpan kejanggalan tersebut sendiri dan tidak memberitahukannya kepada siapa pun, bahkan orang tuanya. Namun, setelah ia semakin sering merasakan sesuatu di lidahnya saat mendengar kata-kata tertentu, ia semakin merasa terusik dan berupaya untuk memahaminya dengan cara mencari tahu lewat internet. Akhirnya, pria ini berhasil mendiagnosis dirinya dengan kelainan sinestesia Lexical-gustatory berdasarkan pada gejala-gejala yang dialaminya dan penjelasan yang ia temukan via internet.

Nyatanya, kondisi seperti itu bukanlah suatu kemustahilan. Hal ini dibuktikan dengan adanya orang-orang yang mengidap kelainan sinestesia di mana dua bagian otak yang seharusnya terpisah memiliki sambungan ekstra sehingga dapat teraktivasi secara bersamaan saat dihadapkan pada satu sensasi. Karena dua bagian otak yang merespon, maka dari satu rangsangan indra, seperti misalnya saat mendengar suatu kata, maka bukan hanya sensasi suara yang merespon, namun juga sensasi warna pada indra penglihatan. Pada kasus Dave yang menderita sinestesia Lexical-gustatory, indra perasanya ikut aktif setiap kali ia mendengar kata-kata tertentu.

Kondisi ini memang cenderung langka dan hanya terjadi pada 1 dari 2000 orang. Terlebih sinestesia dalam jenis lexical-gustatory yang hanya terjadi pada segelintir orang. Saking langkanya, bahkan dokter tidak dapat mendiagnosis seseorang sebagai penderita sinestesia lexical-gustatory. Karena pengidap sinestesia banyak yang akhirnya merasa terbiasa dengan sensasi tambahan tersebut, lantas merasa tidak perlu untuk diperiksa lebih lanjut dan belajar hidup dengan kondisinya saja. Kalau menurutmu, kondisi sinestesia ini menyusahkan atau justru menyenangkan, nih?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
SHARES