Perempuan Ini Mengira Dirinya Dinosaurus! Bukan Karena Gila, Tapi Karena Penyakit Langka Ini

14 September 2017
|Romlah Sundari
0SHARES

Rasanya pasti sangat menyedihkan jika melihat orang-orang terdekat kita mengalami halusinasi dan terputus kontak dengan dunia nyata. Saat hal itu terjadi, dugaan pertama kita pastilah orang tersebut mengalami gangguan jiwa atau stres yang berlebihan sehingga realitanya menjadi terdistorsi dan ia tidak dapat berfikir jernih. Mungkin jika orang terkasih kita tersebut didiagnosis mengidap gangguan jiwa atau gangguan mental lainny, kita mungkin akan dengan mudah percaya dan menerima saja jika orang tersebut harus dirawat di rumah sakit jiwa. Namun, apa yang kebanyakan dari kita akan lakukan saat berada di posisi tersebut ini tidak berlaku bagi Lisa Jackson, ibu dari seorang remaja perempuan bernama Lucy Evans.

Lucy yang merupakan remaja berusia delapan belas tahun dan bertempat tinggal di Wales ini pada May tahun 2017 tiba-tiba menunjukkan gejala-gejala yang aneh. Penglihatannya bermasalah, ia terus menerus merasa mual dan muntah-muntah, serta tingkah lakunya menjadi aneh dan cenderung paranoid. Keluarga Lucy yang khawatir dengan segera membawa Lucy ke rumah sakit. Dokter yang menanganinya menyatakan bahwa Lucy menderita gangguan mental Bipolar Disorder dan ia lantas dipulangkan kembali ke rumah. 

Pada tanggal 1 Juni, Lucy mengalami kejang yang cukup parah selama dua menit. Melihat hal ini, keluarga Lucy yang semakin khawatir lantas kembali membawa Lucy ke rumah sakit, namun Lucy kembali dipulangkan pada hari itu juga tanpa penanganan yang berarti. Kondisi Lucy terus memburuk dan ia semakin sering berhalusinasi serta kehilangan kontak dengan realita. Bahkan, Lucy sempat beberapa kali mengira bahwa dirinya adalah seekor T-rex dan ia mengepang rambutnya agar tampak seperti ekor. Pada kesempatan lain, Lucy juga terus menerus mengeluarkan suara monyet dan percaya bahwa ia harus pergi ke kebun binatang. Keluarga Lucy semakin khawatir, mereka kembali membawanya menemui seorang ahli kejiwaan. Di titik tersebut, psikiater Lucy menyarankan agar Lucy dirawat di rumah sakit jiwa.

Ibu Lucy menolak usulan tersebut karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang lain dari sakit yang diderita buah hatinya. Ia percaya bahwa Lucy bukan sekadar mengalami gangguan jiwa. Pada tanggal 4 Juli, Lucy kembali masuk ke rumah sakit untuk menjalani serangkaian tes. Namun, detak jantung dan nafas Lucy yang semakin cepat membuatnya harus dikirim ke rumah sakit lain untuk penanganan khusus. Maka, Lucy dipindahkan ke rumah sakit Swansea Morriston. Di sana, seorang dokter yang pernah menangani kasus serupa dengan Lucy mendiagnosis Lucy menderita penyakit langka, yaitu Autoimmune Encephalitis

Penyakit Autoimmune Encephalitis ini membuat sistem imun dalam tubuh Lucy bukannya bekerja melawan virus atau bakteri yang asing, namun justru menyerang otak Lucy sendiri sehingga ia mengalami peradangan dan pembengkakan di otak serta saraf-sarafnya. Kondisi yang dialami Lucy ini tergolong sangat langka karena hanya terjadi pada satu dari dua juta orang. Beruntung dokter di rumah sakit Swansea ini pernah mengalami kasus yang serupa sehingga ia dapat mendiagnosis Lucy dengan cepat sebelum terjadi lebih banyak lagi kerusakan pada otak dan saraf Lucy.

Dengan diagnosis yang baru ini, Lucy memulai serangkaian perawatan intensif, yaitu dengan ditetesi steroid secara terus menerus untuk membunuh sel darah putih yang menyerang otaknya. Percobaan perawatan ini tidak memberikan hasil yang efektif bagi Lucy, maka dokter mencoba metode perawatan lain, yaitu dengan memasukkan zat antibody ke dalam tubuh Lucy dengan tujuan yang sama. Metode ini juga terbukti kurang efektif. Dokter pun hanya memiliki satu alternatif lagi, yaitu dengan memberikan Lucy obat Rituximab yang dapat membunuh sel-sel yang menyerang otak Lucy. Metode ini cukup berhasil dan Lucy akhirnya dipulangkan dari rumah sakit setelah menghabiskan tujuh minggu di sana.

Namun, Lucy tidak benar-benar telah sembuh. Ia masih mengalami berbagai efek samping dari penyakitnya. Sarafnya yang telah rusak membuat Lucy tidak lagi dapat merasa lapar, kenyang, maupun haus sehingga Lucy harus terus berusaha ingat untuk minum dan makan di waktu-waktu tertentu. Lucy juga kini mengalami kesulitan mengingat kejadian yang terjadi lebih dari empat hari yang lalu. Kini, Lucy berupaya untuk kembali pulih dari sakitnya agar ia dapat kembali menjalani hidupnya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES