Kenapa Seseorang Selingkuh? Bisa Jadi Karena Gen Lho!

13 Juli 2017
|Romlah Sundari
113SHARES

Selingkuh memang merupakan praktik yang dikecam dan dianggap tidak bermoral di masyarakat. Praktik selingkuh ini memiliki dampak fatal bagi keberlanjutan hubungan. Kedua belah pihak akan merasa lelah secara mental dan emosional, karena selingkuh akan mendatangkan banyak drama dan krisis baik dalam diri maupun dalam hubungan. Jika selingkuh itu melelahkan, lalu mengapa kita selingkuh? Apakah seseorang yang selingkuh melakukannya karena moralnya yang rendah atau kontrol atas diri yang kurang?

Ternyata, faktor lingkungan dan hubungan bukanlah satu-satunya alasan seseorang selingkuh. Menurut peneliti, terdapat tiga alasan ilmiah mengapa seseorang selingkuh. Dan ketiga alasan ini murni berdasarkan pada dorongan biologis. Hal itu berarti bahwa bisa jadi seseorang selingkuh karena memang sistem dan keadaan tubuhnya mendorong tindakan tersebut. Berikut tiga alasan ilmiah mengapa seseorang selingkuh, yang diutarakan oleh para peneliti.

Secara natural, manusia bukanlah makhluk monogami.

Menurut seorang ahli biologi, David P. Barash, manusia bukanlah makhluk yang tercipta untuk hubungan monogami. Sebagaimana mayoritas mamalia, manusia bukanlah makhluk yang tercipta hanya untuk satu pasangan semata. Monogami adalah sesuatu yang kita pelajari melalui budaya dan lingkungan sekitar. Hal ini tidak berarti bahwa manusia tidak dapat memiliki hubungan monogami.  Terdapat banyak hal dan kemampuan yang tidak kita miliki secara alami dari lahir, seperti kemampuan membaca atau menghitung. Akan tetapi karena kemampuan tersebut dibutuhkan dalam perkembangan manusia, maka kemampuan tersebut dipelajari dan diajarkan kepada generasi penerus. Sama halnya dengan monogami. Meski bukan sesuatu yang terjadi secara alami pada manusia, namun monogami dapat dilakukan jika kita menghendaki.

Bisa jadi sudah tertulis dalam susunan gen kita.

Gen mempengaruhi berbagai hal dalam tubuh kita. Mulai dari tinggi badan hingga penyakit yang diderita, semua hal ini dapat tertulis dalam susunan gen manusia. Tidak terkecuali dengan selingkuh. Menurut seorang ahli biologi antropologis, Dr. Helen Fisher, terdapat gen dalam tubuh yang bisa saja mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk berlaku curang dalam sebuah hubungan. Di dalam susunan gen setiap manusia, terdapat gen yang bernama DRD4. Gen ini berpengaruh pada produksi hormon dopamine dalam tubuh. Hormon dopamine adalah hormon yang membuat kita merasa senang dan produksi hormone ini distimuli oleh aktivitas-aktivitas menyenangkan seperti seks, dan makan. Pasalnya, meski semua orang memiliki gen DRD4, panjang susunan gen ini dalam tubuh setiap orang berbeda-beda. Dan mereka yang memiliki susunan gen DRD4 yang lebih panjang tercatat memiliki kemungkinan untuk selingkuh yang lebih besar daripada mereka dengan susunan gen DRD4 yang lebih pendek.

Sistem otak kita memungkinkan kita untuk selingkuh.

Terdapat tiga sistem otak yang mengatur kita dalam berpasangan, yaitu sistem yang mengatur mengenai perasaan romantis, sistem yang mengatur perasaan seksual, dan sistem yang mengatur perasaan terikat. Pasalnya, ketiga sistem ini tidak melulu kooperatif dan merujuk kepada satu orang semata. Bisa jadi kita memiliki perasaan romantis, dorongan seksual, dan perasaan terikat kepada tiga orang yang berbeda-beda.

Ketiga hal ini, menunjukkan bahwa selingkuh memiliki banyak faktor dan tidak perlu menjadi indikasi tingkat moral seseorang. Meski begitu, bukan berarti bahwa manusia 'dirancang' untuk selingkuh. Selingkuh merupakan sebuah pilihan, dan meski tubuh memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan yang tidak setia, namun rasa hormat kita terhadap diri sendiri dan pasangan dapat mencegah tindakan yang menyakitkan ini. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
113SHARES