Kenapa Ada Orang yang Sok Tahu? Inilah Penjelasan Ilmiah tentang Dunning-Kruger Effect

18 Juni 2017
|Olphi Disya
0SHARES

Menyebalkan memang jika kita harus berhadapan dan berinteraksi dengan orang yang seolah-olah ia tahu segalanya. Yang lebih menyebalkannya lagi sih kalau orang tersebut menganggap kemampuan kita nggak lebih baik dari kemampuannya. Padahal, belum tentu juga kan? Nah, orang-orang yang ‘berbakat’ sok tahu ini seringkali bikin kita kesal karena mereka menganggap bahwa apa yang kita beritahukan nggak penting… ya karena mereka merasa “udah tahu”! Nah, fenomena seperti ini sebenarnya adalah fenomena psikologis yang disebut dengan Dunning-Kruger Effect. Istilah ini lahir dari serangkaian penelitian psikologi yang dilakukan oleh David Dunning, Justin Kruger, dan kawan-kawan. Lalu mengapa ada orang yang sok tahu ya?

Tahukah kamu kalau istilah "sok tahu" ada nama ilmiahnya? Yap! Nama ilmiahnya adalah Dunning-Kruger Effect di mana istilah ini merujuk pada bias kognitif seseorang yang menganggap bahwa kompetensinya lebih baik dari apa yang sebenarnya. Jadi, bisa dibilang kalau orang yang mengalami Dunning-Kruger Effect ini salah dalam memersepsikan kemampuannya. Mereka pikir mereka tahu (atau mungkin paling tahu segalanya), padahal kemampuan sebenarnya sih nggak begitu. Inilah yang membuat mereka menjadi seseorang yang sok tahu atau seolah-olah tahu. Tapi, nggak hanya itu lho. Ternyata, ada beberapa ciri orang yang sok tahu lainnya nih.

Pertama, orang yang sok tahu berdasarkan Dunning-Kruger Effect gagal dalam mengenali kemampuan mana yang nggak sebenarnya mereka kuasai. Artinya, mereka cenderung berlebihan dalam menilai kemampuannya. Mereka cenderung menganggap bahwa mereka sangat menguasai suatu hal (atau mungkin beberapa hal), padahal sebenarnya tentu ada hal yang luput dari pengetahuan mereka. Kemungkinan besar ini disebabkan oleh ketidaksadaran mereka bahwa apa yang dikemukakannya adalah hal yang keliru. Kedua, yang lebih menyebalkannya adalah mereka nggak mau mengakui kemampuan orang lain sehingga yang terjadi adalah sok tahu tersebut. Mungkin aja ada orang yang lebih tahu dan paham, namun karena bias kognitif, mereka pun cenderung menganggap bahwa kemampuan orang lain nggak ada yang lebih baik darinya.

Ketiga, selain berlebihan dalam menilai diri sendiri, mereka yang sok tahu pun sebenarnya belum paham mengenai tingkat kemampuan mereka dalam berpikir. Mengapa? Karena sebenarnya tingkat pendidikan nggak bisa otomatis menentukan tingkat kemampuan dan inteligensi seseorang. Nggak menutup kemungkinan orang yang udah bergelar profesor sekalipun belum mengetahui apa yang mereka belum ketahui. Keempat, mereka cenderung menyadari ketidakmampuannya tersebut ketika mereka diharuskan belajar suatu hal. Misalnya, mereka nggak akan mengakui bahwa mereka nggak tahu apa-apa tentang sejarah peradaban bangsa hingga akhirnya mereka diharuskan untuk belajar lebih mendalam tentang hal tersebut. Barulah mereka menyadari ada banyak hal yang sebenarnya mereka nggak tahu.

Agar kamu nggak dicap sok tahu, ketika ingin menyampaikan sesuatu jangan ragu untuk belajar memahami. Jangan malu untuk bilang “nggak tahu” kalau memang nggak tahu. Karena sebenarnya, orang yang cerdas bukanlah orang yang serba tahu, apalagi sok tahu. Menunjukkan tingkat inteligensi kita yang apa adanya sambil terus belajar nggak akan mematikan kompetensi kita. Lebih baik kita jujur dengan kemampuan diri sendiri dan meningkatkannya daripada harus berkata hal yang keliru dan justru menyesatkan orang lain kan?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Olphi Disya
"Upcoming psychologist. Awesome weirdo."
0SHARES