Benarkah Gempa Bumi Besar Akan Terjadi Pada Tahun 2018 Akibat Rotasi Bumi Melambat?

07 Desember 2017
|Chandra W.
0SHARES

Dua peneliti dari Amerika menemukan kemungkinan akan terjadinya gempa Bumi besar pada tahun 2018 akibat perubahan rotasi Bumi yang melambat satu milidetik. Meskipun perubahan rotasi ini tidak bisa dirasakan oleh manusia karena hanya mengubah panjang hari satu milidetik, efeknya cukup besar terhadap aktivitas seismik atau kegempaan terutama di wilayah tropis atau sepanjang garis khatulistiwa. Sekitar satu milyar manusia di Bumi ini hidup di sekitar khatulistiwa, termasuk penduduk Indonesia. Lalu apakah kemungkinan tersebut benar-benar akan terjadi di tahun 2018 mendatang?

1. Gempa lebih sering terjadi ketika kecepatan rotasi Bumi berubah

Perubahan kecepatan rotasi Bumi dapat diukur dengan menggunakan jam atom yang hasilnya sangat akurat. Hal ini disampaikan oleh Roger Bilham dari University of Colorado dan Rebecca Bendick dari University. Sayangnya, mereka tidak dapat menjelaskan korelasi langsung antara melambatnya rotasi Bumi dengan skala gempa bumi dan frekuensinya yang meningkat.

2. Namun keduanya menduga perilaku inti Bumi-lah yang menjadi penyebabnya

Bilham dan Bendick melihat catatan gempa bumi yang terjadi sejak tahun 1900. Dari catatan-catatan tersebut, mereka menyimpulkan bahwa gempa bumi berkekuatan lebih dari 7.0 SR terjadi dengan pola berulang setiap sekitar 30 tahun sekali dan lebih sering terjadi ketika Bumi sedang mengalami perubahan kecepatan rotasi, baik saat melambat atau bertambah cepat. 

3. Magnitude dan frekuensi gempa yang lebih besar diperkirakan akan terjadi di wilayah tropis

Sayangnya Bilham dan Bendick tidak dapat memberi gambaran di mana tepatnya dan perkiraan kapan gempa akan terjadi. Padahal mereka berdua memperkirakan setidaknya akan ada 20 gempa bumi besar terjadi pada tahun 2018. Meski demikian, penelitian ini masih terlalu dini untuk bisa menghasilkan kesimpulan. 

4. Beberapa ilmuwan pun mengatakan bahwa Bilham dan Bendick hanya cari sensasi

Di antaranya Dr. Virginia Toy profesor geologi dari University of Otago yang mengatakan bahwa beberapa ilmuwan dapat membuat kesimpulan statistik yang benar, beberapa tidak. Dalam kasus Bilham dan Bendick, lompatan jumlah gempa bumi dari yang sebelumnya hanya enam menjadi dua puluh gempa bumi besar dalam setahun terdengar tidak masuk akal. Selain itu, pakar geologi yang lain Dr. Tim Stah dari Canterbury University juga menilai penelitian Biham dan Bendick belum valid dan masih membutuhkan pengujian tambahan dari kelompok peneliti lain. 

5. Bendick pun akhirnya menegaskan bahwa ini adalah perkiraan kemungkinan atau probabilitas terjadinya gempa bumi, bukan prediksi atau ramalan

Artinya, memang penelitian ini masih membutuhkan pengujian lebih lanjut. Bendick juga sadar bahwa kemungkinan setelah penelitian ini dipublikasikan, masyarakat akan khawatir dan kecaman dari ilmuwan akan berdatangan. Setelah hal ini benar-benar terjadi, ia merasa bersalah telah menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Namun baginya, jika penelitiannya benar dan lebih cepat dipublikasikan, juga akan berpeluang untuk menyelamatkan kehidupan orang banyak.

Jadi hingga saat ini kebenaran dan kepastian terjadinya gempa bumi besar pada tahun 2018 masih mengambang. Jika ada penelitian lanjutan, diharapkan akan dihasilkan kesimpulan yang lebih valid dan rigid, sehingga negara-negara yang rawan gempa bumi dapat melakukan persiapan terlebih dahulu.

Kita sebagai masyarakat yang hidup di wilayah geografis dengan banyak patahan dan lipatan, tentu perlu mempersiapkan fisik dan mental. Setidaknya dalam persoalan tanggap bencana agar kelak jika benar-benar terjadi gempa, kita tidak hanya kebingungan dan berakhir tragis. Melainkan dapat menyelamatkan diri dan keluarga terdekat.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES