Benarkah Film Porno Merusak Otak? Cek Dulu Kebenarannya!

17 Juli 2017
|Romlah Sundari
Sains
1296SHARES

Persebaran konten pornografi di dunia maya belakangan ini semakin marak. Meski pemerintah telah mengambil aksi dengan menerapkan 'Internet Positif', namun orang-orang punya berjuta cara untuk mengakali kebijakan 'Internet positif'. Mulai dari menggunakan situs proxy hingga mengganti nomor DNS.Terlebih, orang Indonesia yang sangat kreatif pasti mampu menemukan cara menembus pagar 'Internet positif' dengan mudah. Persebaran konten pornografi atau film porno ini menjadi agenda penting bagi pemerintah dan berbagai kelompok kepentingan karena pornografi memiliki berbagai bahaya bagi kehidupan manusia.

Salah satu bahaya pornografi yang begitu santer diberitakan adalah kerusakan pada otak yang terjadi akibat terlalu sering menonton film porno. Namun benarkah konsumsi film porno dapat merusak otak? Bagaimana bisa? Lalu, jika memang benar pornografi merusak otak, apakah berarti bahwa tindakan seksual juga dapat merusak otak karena saat melakukan tindakan seksual, kita juga terpapar dengan konten seksual secara langsung?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh JAMA Psychiatry yang dilakukan pada tahun 2014, pria yang mengonsumsi pornografi secara reguler memiliki ukuran striatum yang lebih kecil. Striatum adalah bagian otak yang mengoperasikan sistem reward pada otak. Selain volume striatum yang lebih kecil, konektivitas antara striatum dengan pre frontal cortex, bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan regulasi perilaku seseorang, terlihat lebih sedikit dibandingkan dengan mayoritas orang. Penelitian kontroversial ini mendapatkan sambutan baik dari masyarakat dan menjadi headline di berbagai media.

Namun penelitian dari JAMA Psychiatry ini belum bersifat konklusif, karena korelasi antara ukuran striatum dengan konsumsi konten pornografi masih bersifat hipotesis. Belum diketahui hubungan jelasnya, apakah striatum mengecil akibat konsumsi pornografi yang terus menerus, atau volume striatum yang kecil menyebabkan seseorang jadi lebih suka mengkonsumsi pornografi. Selain itu, pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah pria dewasa yang sehat dan tidak memiliki gangguan jiwa atau gangguan kesehatan apapun. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai dampak ukuran striatum terhadap kemampuan seseorang dalam berfungsi dan menjalankan kehidupannya.

Beberapa pihak juga mempertanyakan kembali apakah konten pornografi memang membuat adiksi secara biologis. Sebuah penelitian yang dilakukan di UCLA, membuktikan bahwa adiksi terhadap konten pornografi berbeda dengan adiksi pada umumnya.Dalam adiksi terhadap rokok atau narkoba, otak mengalami desentisasi, dimana otak menjadi kurang sensitif terhadap stimuli. Namun pada mereka yang mengaku ketagihan pornografi, otak tidak mengalami desentisasi terhadap stimuli. Hal ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai adiksi akan pornografi dan cara penyembuhannya.

Meski hasil penelitian dampak film porno terhadap otak masih berada dalam ranah abu-abu yang tidak pasti, namun bahaya konsumsi pornografi yang berlebihan pada kehidupan memang sudah terbukti nyata. Konten pornografi yang bersifat instan memberikan dampak buruk terhadap tingkat motivasi seseorang, karena dengan mudah mereka bisa mendapatkan kesenangan, mereka menolak untuk bersusah payah mencari pasangan seksual demi mendapatkan kesenangan yang sama.Selain itu, persepsi seseorang terkait hubungan seksual akan berubah karena konten pornografi seringkali bersifat merendahkan perempuan dan mengobjektifikasi perempuan. Konsumsi konten pornografi juga memiliki kaitan erat dengan tindak kriminal seperti pemerkosaan dan penganiayaan, karena konten pornografi seringkali mewajarkan adanya paksaan atau tindakan kasar dalam hubungan seksual.

Maka dari itu, biarpun belum terbukti bahwa otak akan rusak karena film porno, tetap hindari konten pornografi sebisa mungkin. Bukan hanya karena norma dan moral sosial melarang konsumsi pornografi namun karena konten pornografi dapat mengganggu kita secara psikologis dan mengganggu relasi kita dengan orang lain. Selain itu, sifat pornografi yang instan akan cenderung membuat kita menginginkannya lagi dan lagi hingga kita mengalami adiksi secara mental, meski tidak secara biologis. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
1296SHARES