Begini Ngerinya Kola Superdeep Borehole, Lubang Besar Bekas Proyek Penggalian Saat Perang Dingin!

07 Maret 2018
|Galih Wisnu Brata
0SHARES

Di masa perang dunia, persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet tak terelakkan. Bukan hanya perang secara terbuka, perang dingin pun dikibarkan oleh dua negara ini. Kedua negara besar ini pernah bersaing dalam menciptakan teknologi canggih. Keduanya berlomba-lomba untuk pergi ke luar angkasa. Selain itu, keduanya juga pernah terlibat persaingan dalam penggalian perut bumi.

Negeri Paman Sam pernah melakukan pengeboran di pesisir Pasifik Meksiko pada sekitar tahun 1960. Proyek tersebut dinamai Project Mohole. Pengeboran itu mampu menembus laut sedalam 3.600 meter dan diteruskan hingga mencapai 183 meter di bawah dasar laut. Dari pengeboran ini didapati bahwa pengeboran minyak dapat dilakukan di laut. Sayangnya, Project Mohole terpaksa harus dihentikan pada tahun 1966 karena pendanaan untuk proyek ini dihentikan tanpa alasan yang jelas.

Melihat rivalnya mampu membuat lubang yang begitu dalam, Uni Soviet tak mau kalah. Sekitar tahun 1970-an, Uni Soviet mulai melakukan pengeboran di Semenanjung Kola, ujung utara Rusia. Pengeboran tersebut menyebabkan munculnya lubang sedalam 12 kilometer. Dari pengeboran ini diketahui bahwa tidak adanya transisi dari granit ke basalt. Selain itu, diketahui juga bahwa di kedalaman 3 hingga 6 kilometer di dalam perut Bumi lebih banyak terdapat granit. Perubahan jenis batu juga tidak terjadi di kedalaman tersebut yang terjadi hanyalah perubahan susunan kimia dan mineral pada granit. Dalam penggalian lubang ini juga ditemukan fosil plankton mikropis yang berusia 2 miliar tahun

Proyek pengeboran yang dilakukan Uni Soviet itu awalnya ditargetkan mencapai kedalaman 15.000 meter. Namun, sayangnya proyek ini harus dihentikan saat lubang baru mencapai 12.262 meter. Proyek ini berhenti di tahun 1994. Dengan diberhentikannya proyek ini, lubang besar pun tercipta di Uni Soviet yang dikenal dengan sebutan Kola Superdeep Borehole.

Ada rumor yang beredar bahwa penghentian proyek tersebut karena para pekerjanya mendengar jeritan-jeritan manusia. Diduga jeritan tersebut adalah jeritan manusia yang disiksa di neraka. Rumor tersebut tidaklah benar. Pengeboran dihentikan pasalnya suhu di lubang tersebut mencapai 180 derajat Celcius. Saking panasnya, batu aja tampak meleleh.

Sampai saat ini, lubang super dalam ini ditinggalkan terbengkalai begitu saja tanpa diurus. Lubang bekas proyek penggalian perut bumi ini hanya ditutup dengan besi berkarat. Duh, padahal dulunya warga sekitar sempat ketakutan lho karena penggalian lubang menyebabkan gempa lokal. Tak cuma itu, dana yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Bahkan para pekerjanya digaji layaknya seorang profesor dan diberikan sebuah apartemen. Tapi kini proyek penggalian tersebut dibiarkan begitu saja.

 

Semoga aja pemerintah setempat sadar dan mau ngurusin ya. Masalahnya, kalau hanya menjadi lubang besar seperti itu, apa nggak berpotensi untuk mencelakakan penduduk setempat? Bagaimanapun, keberadaan lubang bekas proyek penggalian perut bumi ini menjadi pengingat bagi kita bahwa proyek ilmiah apalagi yang sebesar itu, baiknya dilakukan murni untuk ilmu pengetahuan dan kemaslahatan banyak orang. Bukannya hanya karena persaingan ego antar negara.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Galih Wisnu Brata
"memahami karena menjalani"
0SHARES