67 Anak Tewas Akibat Gizi Buruk Di Asmat, Fakta Ini Harus Kamu Tahu!

19 Januari 2018
|Chandra W.
0SHARES

Kamu tahu apa itu tragedi? Tragedi adalah kejadian buruk yang sesungguhnya dapat dihindarkan. Tsunami bukan tragedi, itu bencana alam. Warga yang tak sempat dievakuasi karena pengetahuan minim saat laut surut yang lalu jadi gelombang tsunami adalah tragedi. Beberapa hari lalu kita mendengar satu tragedi dari timur Indonesia. Puluhan anak tewas karena campak dan gizi buruk. Apa yang terjadi di sana? Apa sebenarnya gizi buruk itu?

1. Gizi buruk adalah tahap lanjutan dari kurang gizi dalam kerangka malnutrisi

Singkatnya saat seseorang mengalami kekurangan suatu zat gizi makronutrisi seperti karbohidrat dan protein, maupun mikronutrisi seperti zat besi dan seng (Zn), ia disebut mengalami malnutrisi. Dalam tahap awal ketika masih ringan disebut kurang gizi. Sedangkan jika sudah akut disebut gizi buruk.

2. Ada dua jenis gizi buruk: marasmus dan kwashiorkor

Marasmus terjadi ketika tubuh anak-anak/bayi kekurangan energi karena kalori yang masuk ke tubuhnya kurang dari kebutuhan gizi normal. Gejalanya meliputi penurunan berat badan, dehidrasi, diare kronis dan perut cekung/kempes. Sedangkan kwashiorkor terjadi ketika tubuh kekurangan protein akut. Gejalanya meliputi edema atau pembengkakan di bawah jaringan kulit karena cairan tertimbun, perut buncit dan menonjol, dan berat badan sulit bertambah bahkan terus berkurang.

3. Seorang anak bisa mengalami marasmus saja, kwashiorkor saja atau gabungan marasmus-kwashiorkor

Secara umum anak kurang gizi dapat dilihat gejala dari fisiknya seperti: kelelahan, suhu tubuh dingin, diare, nafsu makan berkurang, mudah marah, bernapas lebih lambat, mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki, kulit kering, rambut rontok/kemerahan/kekuningan dan tidak sakit saat dicabut bahkan rontok dengan sendirinya, dan memar-memar pada kulit.

4. Gizi buruk dapat terjadi karena banyak faktor, di antaranya kemiskinan dan gaya hidup masyarakat

Padahal gaya hidup juga berangkat dari faktor kemiskinan. Selain itu tingkat pendidikan yang rendah juga dapat menyumbang tingginya angka gizi buruk karena masyarakat tidak tahu pola konsumsi yang baik untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Permasalahan gizi buruk tak bisa diatasi hanya dengan memberi bantuan makanan pada waktu-waktu tertentu. Harus ada penyelesaian yang sifatnya berkelanjutan dan mendidik masyarakat.

5. Dua miliar orang di seluruh dunia mengalami malnutrisi

2,6 juta di antaranya adalah anak-anak yang meninggal setiap tahun, sepertiga dari jumlah anak-anak yang meninggal setiap tahun. Artinya, dari seluruh kasus kematian anak-anak di seluruh dunia, sepertiganya meninggal akibat malnutrisi. Satu dari empat anak di seluruh dunia mengalami kekerdilan atau tubuhnya tidak bisa berkembang layaknya orang biasa karena malnutrisi. 

6. Jutaan anak Indonesia mengalami malnutrisi dan tidak dapat tumbuh dengan normal

Satu dari tiga anak di Indonesia atau sekitar 37,5% anak di Indonesia mengalami kekerdilan. Artinya, sekitar 9,5 juta anak-anak di bawah usia lima tahun mengalami malnutrisi. 57% anak usia di bawah dua tahun di Indonesia mengidap anemia. Selain itu, bayi juga rentan mengalami malnutrisi karena kurangnya ASI eksklusif atau makanan pendamping ASI yang kurang layak. Karena itu masalah gizi buruk juga harus diperbaiki dari ibu hamil, misalnya. Bukan semata-mata memperbaiki asupan gizi anak-anak. 

Ada banyak yang dapat dilakukan untuk menanggulangi gizi buruk. Tapi yang paling utama sebenarnya adalah meningkatkan kesadaran bahwa masalah ini benar-benar terjadi dan dapat dicegah dengan pemahaman akan pemenuhan gizi yang baik setiap hari. Apa saja yang harus dimakan, seberapa takarannya, apakah bisa digantikan makanan jenis lain, dan seterusnya. Semoga tragedi gizi buruk dapat segera diatasi ya di Indonesia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES