Setelah Kemarin Makassar, Kali Ini Bandung Mengamuk. Sampai Kapan Suporter Indonesia Seperti Ini?

08 November 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
Olahraga
0SHARES

Kerusuhan kembali mewarnai dunia sepak bola Indonesia. Kali ini datang dari laga final Liga 1 U-19 yang mempertemukan Persib Bandung dengan Perspiura Jayapura. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, kemarin malam (7/11) ini sejatinya berlangsung sengit dan cukup menarik. Banyak peluang yang tercipta, namun hanya satu gol yang terjadi. Adalah Tod Rivaldo, pemain dari tim Persipura yang berhasil merobek jala Maung Ngora pada menit ke-27 melalui sepakan free kick yang sangat manis. Bola dengan telak menghujam pojok gawang dari Persib yang dijaga Ade Chandra. Gol tunggal tersebut membuat Persipura keluar sebagai jawara Liga 1 U-19 tahun 2017. 

Keberhasilan meraih gelar juara tentunya membuat tim Mutiara Hitam bahagia. Sebaliknya, kekalahan yang diterima Persib membuat tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat bersedih. Hal itu pun dirasakan oleh sekitar 20 ribuan bobotoh yang datang langsung ke stadion guna mendukung Persib muda bertanding. Namun, kesedihan dan kekecewaan yang dialami oleh para suporter disalurkan dengan cara yang sangat teramat tidak terpuji. Usai laga, bobotoh memaksa masuk ke dalam lapangan. Tentu saja hal ini dicegah oleh pihak kepolisian yang bertugas. Aksi pencegahan inilah yang kemudian memicu terjadinya pelemparan. Mereka (para bobotoh) dengan kalap merusak kursi stadion dan melemparkannya ke dalam lapangan. Bahkan, beberapa rekaman video menunjukkan bahwa seakan terjadi “hujan kursi” di Stadion Wibawa Mukti malam tadi. 

Hal ini sangat disayangkan. Belum lama aksi dari para suporter PSM Makassar, kali ini sudah ada lagi kasus pelemparan. Malahan, ini lebih parah karena yang dilempar adalah kursi. Kenapa? Ada apa? Sampai kapan suporter Indonesia seperti ini? Padahal, Stadion Wibawa Mukti adalah salah satu dari stadion yang memiliki fasilitas yang cukup mewah. Selain itu, stadion ini juga memiliki rumput dengan standar internasional serta berbagai macam fasilitas yang sudah berstandar internasional juga. Sayang banget kalau stadion sebagus ini dirusak oleh oknum suporter yang tidak bertanggung jawab. 

Apakah mental suporter Indonesia seperti ini? Mental yang bukanlah mental seorang kstaria? Harusnya kan suporter itu turut mendukung para pemain yang telah berjuang, misalnya dengan memberikan applause, menyanyikan chants, ataupun membentuk koreografi yang tujuannya adalah untuk menghibur para pemain yang tengah bersedih akibat kekalahan tersebut. Setiap tim sepak bola yang bertanding tentunya tidak ingin merasakan kekalahan. Namun, permainan tetaplah permainan. Jangan jadikan kekalahan sebagai ajang pelampiasan dengan mengambinghitamkan pihak-pihak tertentu untuk membenarkan tindakan yang tak terpuji semacam merusak kursi, melempar botol ke dalam lapangan, menyalakan flare, dan sebagainya. 

Tentunya, mental suporter Indonesia tidaklah seperti ini. Mereka yang benar-benar mencintai sepak bola Indonesia tidak akan pernah ada niat untuk mencoreng dunia persepakbolaan Indonesia. Mereka yang benar-benar mencintai sepak bola Indonesia pasti akan terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, menjaga harga diri sepak bola Indonesia. Mereka yang bertindak anarkis hanyalah segelintir oknum yang menginginkan sepak bola Indonesia tidak berkembang. Jika kamu menginginkan sepak bola Indonesia terus berkembang, mari sama-sama untuk saling menjaga emosi, persaudaraan, serta memaknai nilai dari jiwa ksatria yang sebenarnya. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES