Naturalisasi Dulu dan Sekarang, Cara Instan Meraih Prestasi?

11 Februari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
2 KSHARES

Sepak bola merupakan olahraga sejuta umat. Ia digemari oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Namun, hanya orang-orang terpilihlah yang dapat mewakili negaranya untuk mengikuti kejuaraan sepak bola antar-negara semisal Sea Games atau Piala Dunia. Tentu bagi mereka yang terpilih itu akan menjadi sebuah kehormatan dan kebanggaan yang sangat besar. Dapat membela lambang negara di dada merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Namun, pemikiran dari para pemain terkadang tidak sesuai dengan kebijakan yang diterapkan oleh organisasi sepak bola di dalam negerinya. Entah itu bisikan dari mana, tapi yang jelas banyak dari kebijakan para petinggi di sana yang bukannya dapat meningkatkan prestasi, namun malah menyurutkannya. Contoh nyatanya adalah program naturalisasi

Di Indonesia sendiri, program naturalisasi yang diterapkan oleh PSSI telah berhasil menggaet beberapa pemain, baik keturunan maupun asing. Mereka di antaranya Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Raphael Maitimo, Tonnie Cussel, Sergio van Dijk, Bio Paulin, Greg Nwokolo, Stefano Lilipaly, Victor Igbonefo, Diego Michels, Kim Jeffrey Kurniawan, Johnny van Beukering, Ruben Wuarnabaran, Ezra Walian, dan yang teranyar Ilija Spasojevic. Namun, dari sekian banyak pemain naturalisasi, hanya sebagian kecil yang bermain untuk timnas. Padahal, mereka semua diproyeksikan untuk masuk timnas karena memiliki jejak karir yang mentereng. Itu menandakan bahwa program naturalisasi dari PSSI tidak tepat tujuan. Terlebih mereka yang dijadikan sebagai WNI sebagian besar telah berkepala tiga yang notabene-nya telah mendekati masa pensiun dari dunia si kulit bundar.

Sejarah tentang naturalisasi di persepakbolaan Indonesia sendiri telah berlangsung lama bahkan sejak Indonesia baru berusia seumur jagung. Banyak dari orang-orang kulit putih (terutama Belanda) yang menggeluti dunia sepak bola semasa pemerintah Hindia-Belanda ditawari untuk menjadi WNI. Mereka di antaranya Boelard van Tuyl, Pieterseen, Van der Berg, Pesch, dan Arnold van der Vin. Dari ketiga pemain itu, nama terakhir bisa dikatakan menjadi pemain tersukses dalam karirnya selepas menjadi WNI. Ia merupakan satu-satunya eks-orang Belanda yang mampu masuk ke dalam skuad timnas PSSI pada era 1950. Van der Vin merupakan mantan kiper UMS (Union Makes Strength), VIJ (kini Persija), dan berhasil melakoni debutnya bersama timnas PSSI pada tanggal 27 Juli 1952 kala Indonesia berhadapan dengan tim asal Hong Kong, South China AA. 

Namun, akibat kebijakan ‘anti-Belanda’ yang diterapkan oleh pemerintah pada tahun 1954, Nol (sapaan akrab van der Vin) harus terusir dari Indonesia dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan karirnya di Belanda dengan membela klub Fortuna Sittard. Berdasarkan fakta ini, dapat dikatakan bahwa Nol menjadi pemain Indonesia pertama yang bermain di salah satu liga bergengsi yang ada di Eropa. Setahun kemudian, Nol kembali ke Indonesia dan membela PSMS Medan serta kembali dipanggil oleh timnas PSSI. Namun, ketika kembali memperkuat PSSI, Nol malah kecewa dengan kondisi persepakbolaan Indonesia pada saat itu.

 “Kondisi sepak bola Indonesia berada di level yang buruk. PSSI payah mendidik wasit dan perangkat pertandingan lainnya,” ujar Nol di suratkabar De Nieuwsgier, 6 Mei 1955 seperti yang dikutip dari Historia.

Nol kemudian merantau ke Malaysia dan memutuskan untuk membela klub Penang FA sejak tahun 1956 hingga pensiun (1961). Sejak saat itu hingga kompetisi Perserikatan maupun Galatama digelar, naturalisasi pun ditiadakan. Namun, pada awal 2000-an, program naturalisasi kembali mencuat ke permukaan. Kebijakan ini pun lantas menuai pro dan kontra dari kalangan pegiat sepak bola. Banyak dari mereka menilai kebijakan naturalisasi sebagai cerminan gagalnya program pembinaan sepak bola di Indonesia.

 

 “Ya memang pembinaan kita gagal. Naturalisasi masih menjadi solusi jangka pendek. Itu sih no problem sebenarnya karena banyak negara melakukannya. Tapi, Indonesia kan negaranya besar sekali. Kita punya 200 juta pemain, kok. Kalau untuk jangka pendek, tidak masalah, asal jangan terus-terusan,” ujar Timo Scheunemann, mantan pelatih yang kini menjadi pengamat sepak bola.

Sependapat dengan Timo, Bambang Nurdiansyah yang ketika masih muda aktif bermain untuk Arseto Solo, Tunas Inti, dan Pelita Jaya pun mengutarakan pandangannya.

“Saya pikir enggak perlu sebenarnya naturalisasi. Karena itu artinya kita mengakui gagal dalam pembinaan. Kalau gitu caranya, stop saja pembinaan dan kompetisi. Lari saja ke Eropa, cari yang darah (keturunan) Indonesia, suruh jadi pemain nasional, umpamanya. Ya untuk sekarang, silakan lah (naturalisasi jelang Asian Games), tapi ke depannya jangan ada lagi, pembinaan saja yang benar. Kalau naturalisasi terus, buat apa ada pembinaan dan kompetisi,” pungkas mantan penyerang timnas tersebut.

Memang dapat dikatakan prestasi timnas Indonesia masih jauh dari kata bagus meski telah menerapkan kebijakan naturalisasi seperti ini. Menurutmu, apakah naturalisasi sebaiknya dihilangkan saja atau tetap dipertahankan?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
2 KSHARES