Mengenal Francisco Franco, Dalang di Balik Rivalitas Real Madrid dan Barcelona

23 Agustus 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
295SHARES

Ketika berbicara mengenai Liga Spanyol, tentu pandangan para pecinta sepak bola langsung tertuju pada dua tim besar yang sudah menjadi musuh bebuyutan sejak lama, yakni Real Madrid dan Barcelona. Rivalitas kedua tim ini tak henti-hentinya menjadi pemberitaan berbagai media di seluruh dunia. Banyak yang beranggapan bahwa pemberitaan tentang rivalitas kedua tim dibumbui dengan berbagai unsur politis. Apakah itu benar?

Jika kita berbicara mengenai benar atau salah, tentu itu semua bisa saja menjadi penilaian yang subjektif karena hanya mereka dan Tuhan yang tahu tentang kebenaran yang sesungguhnya. Namun, kalau kita merujuk pada sejarah persaingan kedua tim, mungkin unsur politis akan sangat terasa, terutama ketika Francisco Franco menjabat sebagai penguasa Spanyol pada tahun 1930-an. Bagi kamu yang memang merupakan fans sejati dari kedua tim tentu akan mengetahui atau setidaknya pernah mendengar nama tersebut.

Francisco Franco merupakan seorang jenderal diktaktor Spanyol yang berkuasa setelah Raja Alfonso XII turun tahta dan dibuang ke pengasingan pada tahun 1931. Sejak saat itu, Franco memegang penuh kekuasaan Spanyol. Franco menyatakan bahwa rezimnya terlahir berdasarkan pada bayonet dan darah, bukan pada pemilihan umum yang sifatnya munafik. Pernyataan Franco itu pun menjadi perdebatan banyak pihak, terutama para pengamat sejarah. Lalu, apa hubungannya antara Franco dengan rivalitas Real Madrid dan Barcelona?

Menurut sejarah, jenderal yang memiliki nama lengkap Francisco Paulino Hermenegildo Teódulo Franco y Bahamonde Salgado Pardo ini merupakan orang yang bertanggung jawab atas pembantaian bangsa Catalan dan Basque dalam perang saudara pada rentang tahun 1936-1939. Dalam kurun waktu tersebut, bangsa Catalan dan juga Basque yang pro terhadap kaum Republik melakukan pemberontakan terhadap kaum Nasionalis yang dipimpin oleh Franco. Namun, perjuangan mereka gagal. Franco kemudian memberikan perintah larangan pemakaian bahasa serta simbol-simbol Catalan dan Euskara (Basque) di Spanyol. 

Perseteruan antara Franco dan bangsa Catalan kemudian berlanjut di ranah sepak bola. Madrid sebagai Ibu Kota Spanyol sudah jelas menjadi klub kesayangan dari Jenderal tersebut. Sementara itu, Barcelona yang merupakan Ibu Kota Provinsi Catalonia terus saja memberontak dan meminta agar wilayah mereka terlepas dari kekuasaan Spanyol. Barcelona pun dianggap sebagai simbol perlawanan bangsa Catalan atas kediktatoran rezim Franco. Mengetahui akan hal itu, Franco pun secara paksa meminta Barcelona untuk mengubah logo mereka karena mengandung kedekatan historis dengan simbol politik masyarakat lokal. Barcelona pun dilarang memakai bendera Catalonia di dalam logo mereka. Selain itu, strip merah kuning yang pada awalnya berjumlah sembilan dikurangi oleh Franco menjadi hanya empat strip. Meskipun terkesan sepele, namun pengubahan ini tentu saja berdampak sangat besar bagi warga Catalan. Selain itu, nama klub pada logo pun diubah oleh Franco yang tadinya berbahasa Inggris menjadi berbahasa Spanyol. 

Setelah Franco wafat pada tanggal 20 November 1975, perayaan atas kebebasan pun digelar oleh bangsa Catalan dan Basque. Salah satu perayaannya adalah dengan mengembalikan nama klub pada logo yang tadinya berbahasa Spanyol menjadi berbahasa Inggris seperti pada awal terbentuknya logo tersebut. 

Kalau kita merujuk pada sejarah, rivalitas antara Real Madrid dan Barcelona sangat kental akan unsur politis. Namun, untuk saat ini, lebih baik kita nikmati saja persaingan dua klub besar tersebut tanpa melihat sisi kelam yang pernah terjadi. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
295SHARES