Inilah Sejarah Keikutsertaan Indonesia pada Piala Dunia 1938, Bagaimana Nasib Para Pemain Setelahnya?

10 November 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Pada tahun 1938, Piala Dunia jilid ketiga digelar di Negara Perancis. Terdapat sepuluh kota yang menjadi tempat penyelanggaran turnamen sepak bola akbar empat tahunan tersebut, yakni Le Havre, Paris, Reims, Lile, Strasbourg, Lyon, Bordeaux, Touluse, Marseile, dan Antibes. Hanya Kota Paris yang menggunakan dua stadion sebagai venue pertandingan, yakni Stadion Stade Olympique de Colombes dan Parc des Princes. Dalam ajang empat tahunan tersebut, terdapat satu nama negara yang pada masa ini mungkin tidak dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia atau bahkan dunia. Negara tersebut bernama Dutch East Indies atau yang kalau diartikan adalah Negara Hindia-Belanda. Setelah tau arti dari nama negara tersebut, pastinya sebagian besar masyarakat langsung tertuju pada Negara Indonesia. Benar? 

Perselisihan NIVU dan PSSI

Dalam situs resmi FIFA, Dutch East Indies atau Hindia-Belanda dianggap oleh FIFA sebagai Negara Indonesia sehingga sejak saat itu dan sampai saat ini, Indonesia masih menjadi pemegang rekor sebagai negara pertama dari Asia yang mengikuti ajang Piala Dunia. Bangga? Harus. Tapi, gak semua pemain dari tim Hinda-Belanda kala itu diisi oleh orang Indonesia. Kenapa? Karena pada saat itu, tim Hindia-Belanda diperkuat oleh para pemain dari NIVU (Nederlandcshe Indische Voetbal Unie), sebuah organisasi sepak bola tandingan PSSI pada saat itu. Dalam hal ini, ternyata dualisme kepengurusan sepak bola di Indonesia sudah terjadi sejak dahulu kala. Pada waktu, Ir. Soeratin yang menjabat sebagai ketua umum PSSI tidak setuju kalau para pemain yang mewakili Hindia-Belanda di ajang Piala Dunia adalah pemain NIVU. Akhirnya, antara NIVU dan PSSI melakukan kesepakatan dengan mengadakan sebuah pertandingan persahabatan yang mana pemenangnya bisa mewakili Hindia-Belanda di ajang Piala Dunia. Pengecutnya, pihak NIVU melanggar perjanjian kesepakatan tersebut dan pergi begitu saja ke Perancis untuk mewakili Hindia-Belanda dengan backing-an FIFA. Tentu saja hal tersebut membuat Ir. Soeratin geram. Ia pun kemudian membatalkan kesepakatan yang tercantum dalam Gentlemen’s Agreement pada kongres yang berlangsung di Solo pada tahun 1938.

NIVU berangkat pada tanggal 27 Apil 1938 melalui Pelabuhan Tanjung Priok dengan menggunakan Kapal Laut Baluran. Ada yang menyebutkan bahwa tim ini berisikan para pekerja di perusahaan milik Belanda. Namun, dalam buku Sejarah Piala Dunia terbitan London, Inggris, disebutkan bahwa sebagian besar pemain dari tim Hindia-Belanda adalah para pelajar. Kemudian, menurut penuturan salah seorang wartawan The Times, kapten timnya adalah seorang dokter yang menggunakan kacamata. Orang yang dimaksud bernama Achmad Nawir. Namun, dalam situs resminya, FIFA menyebutkan bahwa kapten tim Hindia-Belanda pada saat itu adalah Frans Meeng dan ia tidak berkacamata. Meskipun begitu, sepertinya kita tidak perlu memperdebatkan hal ini secara panjang lebar.

Sebulan kemudian, mereka tiba di Pelabuhan Genoa, Italia sesuai dengan laporan surat kabar mingguan Java Bode. Mereka selanjutnya menuju Belanda dengan menggunakan kereta api. Sesampainya di Belanda, Tim Hindia-Belanda menginap selama sebulan di Hotel Duinoord yang ada di Kota Wassenar. Sebagai persiapan menghadapi Hungaria di pertandingan pembukaan nanti, tim Hindia-Belanda kemudian menggelar beberapa laga uji coba, di antaranya melawan klub asal Den Haag, HBS (2-2) dan Haarlem (5-3). Berdasarkan surat kabar Sin Po edisi 2 Juni 1938, saat melawan tim Haarlem, tim Hindia-Belanda menggunakan formasi 2-2-6, sebuah formasi yang bahkan tidak digunakan pada sepak bola modern saat ini. 

Kalah telak, namun menang rasa hormat

Kemudian, tibalah pada hari yang ditunggu-tunggu. Pertandingan pembuka Piala Dunia 1938 melawan timnas Hungaria. Pada saat itu, Hungaria menjadi salah satu tim kuat karena dihuni oleh para pemain berkelas, seperti Gyorgy Sarosi dan Gyula Zsengeller. Pada pertandingan tersebut, gawang tim Hindia-Belanda yang dijaga oleh Mo Heng Tan dibobol sebanyak enam kali oleh para pemain Hungaria. Gol untuk timnas Hungaria masing-masing dicetak oleh Vilmos Kohut (13’), Geza Toldi (15’), Gyorgy Sarosi (28’, 29’), dan Gyula Zsengeller (35’, 76’). Meskipun kalah telak, permainan dari tim Hindia-Belanda dipuji oleh banyak media, tak terkecuali oleh pemain bintang tim lawan, Gyorgy Sarosi.

“Pertandingan melawan Hindia Belanda, agak berat," imbuhnya seperti yang dilaporkan oleh wartawan olahraga Belanda, G.J. Goorhoff.

“Saya tidak menyangka akan mendapat perlawanan dari tim Hindia Belanda. Banyak kejutan yang terjadi pada pertandingan tadi,” lanjutnya.

Dengan kekalahan tersebut, tim Hindia-Belanda harus langsung angkat koper dari ajang Piala Dunia. Meskipun begitu, perjuangan dari mereka mendapat apresiasi dari banyak kalangan.

Susunan Pemain Indonesia v Hungaria

Kiper: Tan "Bing" Mo Heng (HCTNH Malang), Jack Samuels (Hercules Batavia)

Belakang: Dorst, J. Harting Houdt Braaf Stand (HBS Soerabaja), Frans G. Hu Kon (Sparta Bandung), Teilherber (Djocoja Djogjakarta)

Tengah: G.H.V.L. Faulhaber (Djocoja Djogjakarta), Frans Alfred Meeng (SVBB Batavia), Achmad Nawir (HBS Soerabaja), Anwar Sutan (VIOS Batavia), G. van den Burgh (SVV Semarang)

Depan: Tan Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), Tan See Han (HBS Soerabaja), Isaac "Tjaak" Pattiwael (VV Jong Ambon Tjimahi), Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja), M.J. Hans Taihuttu Voetbal Vereniging (VV Jong Ambon Tjimahi), R. Telwe (HBS Soerabaja), Herman Zomers (Hercules Batavia)

Pelatih: Johannes Mastenbroek (Belanda)

Sebelum memutuskan untuk kembali ke tanah air, tim Hindia-Belanda mengadakan uji coba dengan timnas Belanda di Stadion Olimpiade, Amsterdam pada tanggal 26 Juni 1938. Hasilnya? Sudah jelas dan bisa ditebak. Timnas Belanda menang telak 9-2 atas tim Hindia-Belanda. Setelah mengadakan uji coba tersebut, mereka pun kembali ke tanah air pada tanggal 1 Juli 1938. 

Lalu, bagaimana nasib para pemain setelah mengikuti ajang empat tahunan tersebut?

Tidak banyak dokumentasi yang berbicara tentang hal ini. Namun, menurut situs Java Post (salah satu situs yang dikelola Belanda) dalam artikel yang berjudul “Een Historiche Voetbalreis”, kiper Mo Heng Tan disebut-sebut sempat lolos seleksi untuk memperkuat timnas Indonesia yang akan berhadapan dengan timnas Singapura pada tahun 1951. Nasib yang tragis menimpa gelandang tim Hindia-Belanda, Frans Alfred Meeng. Ia disebut-sebut ikut menjadi korban ketika kapal milik Jepang, Junyo Maro, ditenggelamkan oleh kapal selam Inggris pada tanggal 18 September 1944 di Perairan Sumatra. Kapal tersebut merupakan kapal yang mengangkut para romusha dan tawanan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES