Dari Mana Emosi Para Pesepak Bola Itu Muncul?

27 Oktober 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
6.2 KSHARES

Sepak bola merupakan olahraga yang mengedepankan kerja sama tim dibandingkan dengan kemampuan individu. Dalam sepak bola, satu orang mungkin bisa memengaruhi hasil pertandingan, seperti yang telah dilakukan oleh Lionel Messi kala timnas Argentina berjumpa dengan timnas Ekuador pada pertandingan terakhir Kualifikasi Piala Dunia Zona Amerika Latin. Namun, tak semua pemain bisa sehebat dan semumpuni Messi. Di samping bakat alamiah Messi, kekompakkan serta keinginan untuk memenangkan pertandingan juga menjadi faktor yang membuat Argentina berhasil membalikkan kedududukan dengan Messi sebagai bintang terangnya. Ya, bintang yang paling bersinar di antara bintang-bintang lainnya. Cukup sampai di sini pembahasan mengenai Messi dan Argentina.

Kembali ke urusan sepak bola secara general, para pemain tentunya merupakan manusia biasa. Mereka pun dapat marah, sedih, tertawa, dan sebagainya. Namun, jika kita berbicara mengenai berbagai macam ekspresi para pemain seperti di atas, tampaknya hal yang menarik untuk dibahas adalah dari mana para pemain menerima rangsangan emosi ketika bertanding serta bagaimana proses kerjanya. 

Mauro van de Looij, seorang pelatih berkebangsaan Belanda yang juga mendalami ilmu-ilmu psikologi menjelasakan bahwa emosi para pesepak bola dapat disebabkan oleh winning mentality atau mental pemenang. Dalam tulisannya yang dimuat di laman believeperform.com, mental pemenang para pemain di usia muda menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh para pelatih. 

Dikutip dari laman panditfootball.com, mental pemenang adalah sikap dari para pemain ketika menghadapi berbagai macam situasi, terutama situasi yang negatif. Jika para pemain dapat menguasai situasi tersebut dan juga dirinya sendiri, maka ia pun akan semakin dekat dengan kemenangan yang sesungguhnya. Menurut Looij, para pemain harus bisa memberikan motivasi kepada dirinya sendiri sehingga nantinya akan dapat menampilkan permainan terbaiknya. Dalam dunia psikologi, hal ini disebut juga sebagai intrinsic motivation.

Seorang pelatih tidak akan mampu memengaruhi permainan dari tim yang diasuhnya hanya dengan mengucapkan kalimat perintah semisal, "Saya ingin kamu memenangkan pertandingan hari ini." Hal itu akan menjadi percuma jika para pemainnya sendiri tidak memiliki motivasi yang mengarahkan pada hal tersebut (kemenangan). Dengan adanya intrinsic motivation, para pemain akan melakukan apa pun agar dapat menampilkan permainan terbaiknya sehingga orientasi dari para pemain akan mengarah pada kinerja di lapangan, bukan pada hasil akhir. 

Sebaliknya, lawan kata dari intrinsic motivation adalah extinsic motivation. Motivasi semacam ini ditimbulkan oleh berbagai faktor di luar dari para pemain, seperti faktor lingkungan atau pergaulan. Tujuannya pun pada umumnya adalah ingin mendapatkan reward atau penghargaan dari orang-orang sekitar. Hal ini membuat para pemain lebih berorientasi terhadap hasil akhir, bukan pada kinerjanya di lapangan. 

Jika kita melihat para pesepak bola yang bermain di Indonesia, tampaknya kemampuan intrinsic motivation masih belum terasah. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kejadian yang berkaitan dengan emosi para pemain, seperti melakukan tackling keras dengan sengaja kepada pemain lawan, protes berlebihan kepada wasit dan bahkan hingga mendorongnya, serta lain sebagainya. Hal itu disebabkan mudahnya emosi para pemain terpancing oleh tindakan provokasi dari para pemain lawan atau bahkan sang pengadil sekalipun. Dalam kondisi atau situasi yang negatif tersebut, para pemain yang gagal mengontrol emosinya tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih dan akan bertindak gegabah sehingga bukan hanya dapat merugikan diri sendiri, tapi juga tim yang dibelanya.

Berbeda halnya dengan pemain yang memiliki intrinsic motivation. Ketika mereka mendapatkan provokasi dari pemain lawan, sangat kecil kemungkinan mereka akan membalas provokasi tersebut dengan cara yang negatif karena mereka akan tetap berfokus untuk memberikan penampilan terbaik mereka serta tetap patuh pada instruksi pelatih. Looij menyebutkan bahwa faktor utama penyebab hilangnya motivasi dari para pemain adalah karena kehilangan fokus saat bertanding. Ketidakfokusan dari para pemain itu sendiri disebabkan oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah faktor ketidaknyaman saat bertanding. Dalam hal ini, selain provokasi dari para pemain lawan, faktor suporter tuan rumah juga turut memberikan tekanan kepada para pemain sehingga terjadilah situasi ketidaknyaman tersebut. Bagi mereka yang berhasil menguasai keadaan negatif itu, maka penampilan terbaik disertai dengan hasil yang positif akan diterima oleh mereka. Mereka itulah para pemain yang memiliki mental pemenang. 

Mental pemenang ini dapat dimiliki oleh para pemain dengan bantuan dari berbagai macam faktor eksternal, salah satunya adalah kepemimpinan pelatih. Pelatih yang baik dapat memberikan dorongan motivasi (extrinsic motivation) kepada para pemain sehingga para pemain dapat keluar dari situasi ketidaknyamanan. Selain itu, pengalaman bertanding dengan situasi yang tidak nyaman tersebut juga menjadi faktor penunjang agar para pemain dapat memiliki mental pemenang. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
6.2 KSHARES