Suka Duka Pacaran Sama Aktivis Kampus, Sedikit Bangga Banyak Cemasnya

01 November 2017
|Chandra W.
0SHARES

Kuliah adalah masa-masa yang penuh dinamika. Saat menjadi mahasiswa kamu mulai dituntut untuk bertanggung jawab pada diri sendiri. bagi waktu buat kuliah, nugas, main sama teman-teman, dan juga...pacaran. Ini nih yang paling asyik, punya pacar di kampus. Apalagi kalau pacarnya aktivis. Wow, kata ‘aktivis’ terdengar sangat seksi ya waktu kuliah. Identik dengan demo, perlawanan, dan bolos kuliah demi keadilan sosial. Kamu yang pernah (atau sedang) berpacaran dengan aktivis pasti merasakan suka dan duka yang nggak mudah terlupakan bahkan saat lulus (atau putus) nanti.

1. Pertama, kamu bangga punya pacar yang semua orang tahu namanya

Ya, nggak semua sih. Tapi banyak yang tahu. Apalagi kalau dia anak organisasi.

“Oh, si Ibnu. Iya iya kemarin dia yang jadi orator buat demo Hari Buruh 1 Mei di depan kantor DPRD kan? Kamu ceweknya toh?”

2. Karena dia terjun langsung dalam organisasi kampus, kamu jadi paham politik

Setidaknya politik kampus, apalagi kalau kamu selama ini sibuk banget kuliah dan praktikum. Kamu bakal mendapatkan informasi darinya tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia politik kampus, dari mahasiswanya, tenaga kependidikan, sampai jajaran rektorat. Kamu jadi paham bahwa semua yang terlihat di permukaan itu sangat berbeda dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Bahkan di kampus aja ada intrik politik. Gokil, pacaran sama aktivis bikin kamu lebih pintar nggak sih...

3. Rasa pedulimu juga meningkat karena dia banyak membela orang-orang yang tidak beruntung

Sebelumnya kamu merasa biasa aja dengan kehidupanmu sekarang, kuliah, mendapatkan uang saku bulanan dari orang tua, biaya kuliah lancar meski UKT mahal. Sampai pacarmu dan teman-teman sepergerakannya demo menentang kenaikan UKT yang ternyata sampai bikin beberapa mahasiswa mengundurkan diri karena nggak mampu lagi membayar. Ketenanganmu terusik, ternyata kamu masih jauh lebih beruntung lebih anak-anak lainnya. Sejak itu kamu pun jadi jauh lebih peduli pada isu-isu yang sedang berkembang di kampus. Semua ini gara-gara pacarmu yang seorang aktivis kampus.

4. Tapi di luar semua itu, kamu juga sering khawatir sama pacarmu

Besok dia ada UTS, tapi barusan aja jam 7 malam dia mendapat undangan untuk ikut aksi di Jakarta lusa dan persiapan aksi besok sore. Bagi pacarmu, tentu saja lebih penting membela kepentingan banyak orang. Kalau nggak lulus makul, masih bisa ngulang tahun depan, begitu pikirannya. Tapi kamu nggak bisa dong membiarkannya begitu. Kan niatnya dia di sini kuliah. Tapi nanti kalau kamu bilangin, pacarmu malah marah. Ya nggak apa-apa, bilangin aja dulu. Setidaknya kamu sudah memberitahu.

5. Kamu takut akademiknya keteteran karena keseringan aksi dan bolos kuliah

Kalau bolosnya tiga kali sih masih bisa ikut ujian. Kalau lebih dari tiga kali? Ya kalau masih sempat ngerjain tugas. Kalau enggak? Ntar kalau telat lulus gimana? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuimu setiap kali dia bilang mau ikut aksi di sana-sini. Guess what, kamu hanya perlu mengingatkan risikonya. Kalau dia tetap mau lanjut, ya itu bukan tanggung jawabmu. Dia udah tau konsekuensinya kok.

6. Belum lagi kalau ada berita ‘sejumlah mahasiswa ditangkap pihak berwajib karena melaksanakan aksi unjuk rasa di X dan berujung ricuh’

Langsung deh parno. Gimana ya kalau si kesayangan yang ditangkap? Atau kalau nggak, dipukulin. Gimana keadaannya? Mana dihubungin dari tadi nggak jawab. Masa mau telepon orang tuanya? Dan akhirnya kamu nggak bisa tidur sampai mendapat kabar bahwa dia baik-baik saja.

7. Kamu juga sebenarnya kadang kesal karena waktunya dia sangat sedikit buat pacaran

Padahal teman-temanmu yang lain mah Jumat malam udah hang out sama pacarnya; ke festival, konser, atau bahkan sekadar mencoba makanan yang lagi hits di kota. Sementara pacarmu ada rapat koordinasi, rapat aksi, rapat ini itu, dan banyak lagi. Sedih, tapi tetap mendukung. Mau gimana lagi, kamu sudah menerimanya jadi pacar sejak awal.

Benar nggak? Meskipun sedikit bangga dan banyak cemasnya, punya pacar seorang aktivis itu keren banget dan banyak manfaatnya kok. Sudut pandangmu pasti banyak berubah dan apakah ada yang lebih seksi dari pikiran yang hanya ingin bermanfaat bagi sesama, dalam hal ini menjadi seorang aktivis bahkan sejak masih di kampus? 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES