Sepak Bola dan Bung Hatta, Pemain Bertahan yang Sulit Ditembus Lawan

historia.id

Mohammad Hatta atau yang disapa Bung Hatta merupakan salah satu tokoh proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia. Beliau bersama Ir. Soekarno menjadi dua orang tokoh yang saling melengkapi. Namun, siapa sangka di balik sosoknya yang pendiam, Bung Hatta ini ternyata pernah menjadi bagian dari sejarah sepak bola di Indonesia.

Di dalam buku Bung Hatta: Profil Seorang Demokrat, Solichin Salim menuliskan bahwa Bung Hatta sangat senang bermain sepak bola sedari keci. Namun, beliau selalu dilarang oleh neneknya karena takut anak lelaki satu-satunya dalam keluarga mengalami cedera. Baru setelah beliau masuk ke sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau setingkat dengan sekolah menengah pertama), Bung Hatta bebas untuk bermain sepak bola. Tidak seperti ketika berada di Bukittinggi di mana Hatta tidak bebas bermain sepak bola karena larangan neneknya.

padangkita.com

“Aku tidak boleh bermain bola, dia (neneknya, red) takut kakiku patah. Sekarang aku bebas. Aku bermain di tanah lapang dengan bola yang agak kecil, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, aku sudah di tanah lapang. Kalau tidak bertanding, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke gawang,” cerita Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku.

Bung Hatta pun masuk ke dalam perkumpulan sepak bola Swallow. Kemampuannya dalam mengasah si kulit bundar pun semakin terasah karena beliau selalu berlatih di Plein van Rome (sekarang Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang). Beliau pun dijuluki oleh teman-temannya dengan sebutan Onpas Serbaar (sulit ditembus). Di perkumpulan sepak bola Swallow, Bung Hatta tidak hanya menjadi seorang pemain, tapi beliau juga ditunjuk untuk menjadi bendahara karena dianggap pandai dalam mengelola keuangan. Maklum, pada saat itu, kalau mau bermain sepak bola, Bung Hatta dan kawan-kawan harus patungan dengan menggunakan uang iuran per bulan.

pemudafm.com

Ketika telah menjadi bagian dari Jong Sumatranen Bond (JSB), Bung Hatta masih sering bermain. di tim tersebut, posisi Bung Hatta yang semula adalah pemain bertahan berubah menjadi penyerang tengah. Meski tidak ada catatan mengenai jumlah gol yang berhasil disarangkan Bung Hatta, namun beliau berkontribusi besar atas gelar juara Piala Sumatra Selatan selama tiga tahun berturut-turut. Selanjutnya, ketika beliau diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digul, Papua, kecintaannya terhadap sepak bola tidak begitu saja pudar. Selain Bung Hatta, beberapa tahanan politik lainnya juga turut diasingkan di tempat yang sama, yakni Sutan Sjahrir, Mohamad Bondan, dan yang lainnya. Di sana, mereka pun menginisiasi pertandingan persahabatan antara pendatang baru melawan penghuni lama Boven Digul pada tahun 1935. Pada pertandingan itu, penghuni lama menang dengan skor yang cukup meyakinkan, 3-1.

Mohamad Bondan dalam Memor Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan bercerita bahwa dirinya masih ingat nama serta posisi dari pemain pendatang baru. Pada saat itu, Marwoto berposisi sebagai penjaga gawang. Kemudian dua pemain bertahan adalah Bung Hatta dan Burhanuddin. Tiga orang gelandang adalah Datuk Singo di sebelah kiri, Maskun di tengah, dan Sabilal Rasad di sebelah kanan. Sementara pemain depan mereka adalah Sjahrir, Bondan, Suka, Lubis, dan Muhidin. Jelang dipindahkannya Bung Hatta dan Sjahrir ke Banda Neira, mereka pun melakukan pertandingan perpisahan, tepat pada tanggal 1 Februari 1936. Entah tim mana yang memenangkan pertandingan pada waktu itu.

twitter.com

Waktu pun terus berjalan dan takdir telah menjodohkan Bung Hatta dan Bung Karno sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang telah merdeka. Meski begitu, Bung Hatta masih terus mengikuti kabar dari sepak bola di dalam negeri. Bahkan, ada hal yang lucu kala PSSI bertanding melawan Aryan Gymkhana, tim asal India pada Mei 1952. Pertandingan persahabatan yang diselenggarakan di Lapangan Ikada (sekarang Kompleks Monas) dimenangkan oleh tim tamu dengan skor 0-1. Bung Hatta dan Bung Karno yang menyaksikan langsung pertandingan tersebut dari tribun kehormatan terlihat saling beradu argumen. 

“Begitu pertandingan usai dengan 1-0, Bung Hatta jadi agresif dan antusias membahas kekalahan PSSI yang diutarakan dengan amat sistematik dan mendetail kepada Bung Karno seperti membicarakan politik yang urgent dan rumit. Bung Karno tampak terpojok dan keteter menjawab argumentasi Bung Hatta,” cerita Guntur Sukarnoputra dalam “Nonton Bola, Apa Tafakur?” yang termuat dalam Pribadi Manusia Hatta.

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Pelakor Kembali Merajalela! Seorang Caleg Tega Merebut Suami Seorang Wanita yang Kini Kebingungan Menafkahi Anaknya - Keepodotme

Pelakor Kembali Merajalela! Seorang Caleg Tega Merebut Suami Seorang Wanita yang Kini Kebingungan Menafkahi Anaknya - Keepodotme

5 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Posisi Management Trainee

5 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Posisi Management Trainee

Selalu Ditanya Soal Momongan, Bella Pilih Batasi Kolom Komentar - Keepodotme

Selalu Ditanya Soal Momongan, Bella Pilih Batasi Kolom Komentar - Keepodotme

7 Kelakuan Orang Naik Motor/Mobil yang Bikin KZL. Terbang Aja Deh Sekalian!

7 Kelakuan Orang Naik Motor/Mobil yang Bikin KZL. Terbang Aja Deh Sekalian!

Terlalu Asik Piknik, Bule Rusia Ini Sampai Kehabisan Duit hingga Tidur di Tanah Kuburan. Ngenes! - Keepodotme

Terlalu Asik Piknik, Bule Rusia Ini Sampai Kehabisan Duit hingga Tidur di Tanah Kuburan. Ngenes! - Keepodotme

Sebelum Beraktivitas, Tanamkan 8 Hal Ini untuk Memberimu Motivasi Pagi!

Sebelum Beraktivitas, Tanamkan 8 Hal Ini untuk Memberimu Motivasi Pagi!

loading