Sekolah-sekolah Anti Mainstream Ini Mengajarkan Nilai Kehidupan, Bukan Cuma Pelajaran Biasa

05 November 2017
|Chandra W.
Life
0SHARES

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata 'sekolah'? Sebagian darimu mungkin berpikir masuk jam tujuh pagi, pelajaran dua jam, istirahat, pelajaran lagi, istirahat lagi, pelajaran lagi, lalu pulang. Begitu membosankannya kenangan akan sekolah, kecuali tentang teman-teman. Sebagian mungkin teringat hukuman yang diberikan guru saat kita terlambat masuk atau lupa mengumpulkan PR. Semua itu karena kurikulum pendidikan yang rancangannya begitu-begitu saja. Berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada sekarang: lebih inovatif, mendorong siswa untuk belajar sambil bermain. Seperti sekolah-sekolah di bawah ini misalnya:

1. SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta

Sekolah dasar yang ada di Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini menggunakan sistem pembelajaran yang disebut Experiental Learning. Maksudnya, para siswa akan dibawa dalam kegiatan observasi dan pengamatan yang banyak dilakukan di luar kelas. Murid-murid adalah pusat dari kegiatan belajar mengajar, guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Siswa diajak untuk melakukan outbond untuk melatih ketangkasan fisik dan skill kepemimpinan. Ada juga kegiatan berkebun dan beternak. Selain itu, diadakan pula Market Day di mana pada hari itu siswa tidak diizinkan untuk membeli jajan, tapi difasilitasi untuk menjual dan membeli barang atau jajanan dengan sesama teman. Secara nggak langsung, mereka diajari untuk berlatih wirausaha. Seru banget ya! 

2. Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta

SALAM awalnya didirikan di Banjarnegara, Jawa Tengah lalu 'dibawa' ke Nitiprayan, Jogja dengan sedikit modifikasi. Di sekolah yang jalan masuknya harus melewati jalan setapak pinggir sawah ini, nggak ada yang namanya rapor dengan nilai-nilai angka 1-10. Yang ada hanya rapor berisi perkembangan anak didik. Kelas juga diselenggarakan dengan cara lesehan sehingga murid dan guru lebih akrab. SALAM adalah ruang untuk eksperimen, eksplorasi dan mengekspresikan berbagai temuan pengetahuan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar. Nggak ada pelajaran layaknya sekolah-sekolah biasa, para murid di sini misalnya diminta menghitung ada berapa meja di kelas, maka itu otomatis menjadi pelajaran matematika, lanjut ditanya meja itu siapa yang menempati, jadi pelajaran kewarganegaraan dan ilmu sosial. Kurikulum yang baru-baru ini diterapkan oleh pemerintah ternyata sudah sejak dulu diterapkan di SALAM. Kurang keren apa coba. Biaya pendidikan di SALAM juga dirundingkan antara pihak sekolah dengan orang tua murid. Win-win solution kan?

3. Kandank Jurank Doank

Tempat ini didirikan oleh artis sekaligus presenter Dik Doank di Ciputat, Tangerang. Bukan sekolah, melainkan tempat edukasi non-formal di mana anak-anak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan seru seperti bercocok tanam, menggambar, bermain biola dan gitar, dan segala yang bersifat seni, selain pendidikan formal. Pengunjung tidak dipungut biaya sepeser pun. Gratis. Di sini juga tersedia fasilitas olahraga dari basket sampai flying fox. Pasti senang dong kalau anak-anak yang sehari-harinya menempuh pendidikan formal yang kebanyakan duduk di dalam kelas, mendengarkan guru sampai pulang sekolah, diajak ke sini. Rasanya kayak lagi ekstrakurikuler, tapi lebih fun.

4. Does University Erix Soekamti

Sekolah ini adalah sekolah bakat yang didirikan oleh personil band punk asal Jogja, Endank Soekamti untuk para pemuda yang memiliki minat di dunia animasi dan ilustrasi. Siswa di sekolah ini akan dikarantina sesuai dengan minat dan bakatnya selama empat bulan. Di bulan kelima, siswa akan diminta membuat karya. Erix mendirikan sekolah ini karena ketika ia SMK dulu ia mengambil jurusan musik namun oleh gurunya malah diarahkan untuk memainkan alat musik yang tidak ia sukai sehingga bakat dan kemampuannya terhenti. Ia lalu memutuskan untuk keluar dari sekolah dan menekuni bakat yang sesungguhnya sampai membentuk band punk Endank Soekamti. Erix tidak ingin hal yang terjadi kepadanya dialami oleh anak-anak berbakat di luar sana. 

5. Andini Entertainment

Andini Entertainment merupakan sekolah seni yang dibuka untuk anak-anak berusia 4-15 tahun yang memiliki bakat dan minat di bidang acting, modelling dan presenter. Di sini anak-anak dilatih untuk berani tampil di depan publik. Ownernya, Andie Muryadi mengatakan tidak semua anak yang masuk Andini Entertainment lalu kelak menjadi artis, tapi mereka dipastikan memiliki kepercayaan diri yang lebih ketika tampil di muka umum. Di sini, anak-anak dilatih belajar koreografi dan catwalk terutama untuk fashion show. Ada ujian kenaikan level setiap enam bulan. Biayanya memang lumayan, mulai dari Rp 300.000 per bulan dan biaya pendaftaran Rp 500.000, namun angka itu tak ada artinya jika talenta anak diasah sejak dini dan dapat meningkatkan rasa percaya diri bagi anak-anak tersebut.

Itu dia sekolah-sekolah yang beda dengan sekolah formal yang selama ini kita kenal di Indonesia. Seandainya lebih banyak sekolah seperti itu dengan biaya rendah, pasti akan ada lebih banyak lagi anak Indonesia yang berprestasi sejak dini ya. Buat kamu yang berencana menikah dan punya anak dalam waktu dekat, bisa nih buat alternatif sekolah anakmu nanti.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES