Salah Jurusan Belum Tentu Salah Masa Depan. Hal-hal Ini yang Perlu Kamu Lakukan

11 Januari 2018
|Chandra W.
0SHARES

Seringkali mahasiswa tingkat satu merasa tersesat dalam rimba belantara yang kian hari kian tak bisa ia pahami. Mungkin termasuk kamu salah satunya? Wajar banget kok dan pasti sebenarnya kamu nggak hanya seorang diri. Merasa salah jurusan bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya ternyata kuliahnya nggak sesuai dengan ekspektasimu.

Kuliah Hubungan Internasional yang kamu kira akan banyak belajar bahasa dan budaya bangsa lain ternyata isinya malah politik dan ekonomi dunia. Itu salah satu contohnya. Lalu bagaimana ya, kamu sudah terlanjur masuk, tapi ingin keluar, tapi masih bimbang.

1. Jangan buru-buru memutuskan untuk pindah ke jurusan lain yang terlihat lebih sesuai dengan minatmu

Dulu juga waktu masuk jurusan yang sekarang, kamu juga merasa jurusan ini sangat cocok denganmu. Ingat, rumput tetangga selalu lebih hijau. Jadi pikirkan baik-baik apakah kamu benar-benar salah jurusan atau kamu sebenarnya belum terlalu memahami kuliahmu sehingga selalu merasa nggak nyaman. Mungkin juga kamu masih kaget dengan pola belajar mahasiswa yang beda banget dengan zaman SMA.

2. Jika sudah mantap akan pindah jurusan, pikirkan langkah yang harus kamu lewati

Diskusikan terlebih dahulu dengan orangtua. Pindah jurusan pasti mau nggak mau memaksa orangtuamu untuk kembali mengeluarkan uang. Kuliahmu juga jadi seperti telat setahun karena harus mulai di angkatan baru. Selain itu, apakah kamu sudah siap mengerjakan tes seleksi masuk mahasiswa baru dengan tingkat kesulitan yang mungkin lebih tinggi dibandingkan saat kamu mengerjakannya tahun kemarin?

3. Ingat bahwa banyak orang sukses yang karirnya nggak linier dengan jurusan kuliah yang mereka ambil

Contohnya Tina Talisa. Ia jurnalis yang merupakan lulusan Kedokteran Gigi. Nah lho. Jauh kan? Selama ini kita berpikir kalau jurnalis rata-rata merupakan lulusan Ilmu Komunikasi atau ilmu-ilmu sosial lainnya. Mau contoh yang lebih wow? Jokowi. Presiden kita ini lulusan Kehutanan. Kata siapa jadi presiden harus berlatar belakang ilmu politik? Jokowi dulu kepingin masuk Perhutani biar kuliahnya nggak sia-sia. Beliau ditolak. Eh malah bisa sampai jadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan Presiden RI. Gokil kan.

4. Coba ikuti workshop atau kegiatan non-akademik yang bisa memenuhi kehausan akan ilmu yang sesuai dengan minatmu

Misalnya kamu sudah terlanjur masuk Ilmu Komunikasi karena berniat ingin menjadi broadcaster pada awalnya. Lalu kamu sadar bahwa ternyata kamu pecinta sastra dan ingin menekuni dunia kepenulisan saja. Ya kuliah komunikasinya jangan langsung dilepas.

Carilah workshop menulis, klub atau komunitas baca buku, dan kegiatan literasi lain yang bisa menunjang bakat terpendammu selama ini. Siapa tahu, yang kamu kira passion sekarang ini juga ternyata sifatnya hanya sementara dan akan berubah lagi nantinya. Nah sementara itu kamu bisa tetap mengasah minat dan bakat secara otodidak melalui workshop, seminar, dan sebagainya. 

5. Ikutan organisasi buat mengasah soft skill yang sangat diperlukan untuk kelak bekerja

Meskipun kamu baru mahasiswa tahun pertama, bukan berarti mikirin pekerjaan bisa nanti-nanti lho. Jangan ditunda-tunda. Dalam waktu 2,5-5 tahun lagi kamu akan lulus dan mungkin akan bekerja di suatu perusahaan atau instansi. Terkadang, perusahaan atau instansi bisa saja mengabaikan latar belakang jurusanmu. Tapi mereka tidak mungkin mengabaikan soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, teamwork, dan lain-lain. 

Kalau sudah benar-benar nggak betah, barulah kamu pindah jurusan ke yang sesuai dengan keinginanmu. Tapi kali ini harus konsisten ya. Jangan pindah-pindah lagi. Mahal lho ngebiayain kuliah.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES