Pintar Akademik Aja Nggak Cukup, Kamu Juga Harus Cerdas Emosional Biar Sukses

16 Oktober 2017
|Chandra W.
Life
0SHARES

Kita hidup di masa di mana kepandaian diukur hanya dari prestasi akademik. Nilai A, IPK di atas 3.00, predikat cumlaude, essay bagus, menang karya ilmiah remaja, dan seterusnya. Sampai batasan tertentu, memang benar bahwa kecerdasan akademik penting untuk bekal menuju kesuksesan. Tapi apakah itu cukup? Sayangnya tidak. Kalau kamu pintar tapi temperamental, siapa juga yang mau bekerja denganmu? Seberapa penting kecerdasan emosional untuk kehidupan sehari-hari dan bagaimana contohnya?

Kita sering mendengar bahwa IPK tinggi tidak menjamin kesuksesan, apalagi IPK rendah. Nah IPK tinggi saja juga tidak cukup. Kamu pasti pernah bertemu orang yang pinter banget, tapi ketika diajak mengobrol ternyata pembicaraannya hanya berputar di topik tentang dirinya saja, atau ternyata mudah marah dan meledak-ledak, atau suka memotong omongan orang lain.

Di situlah kecerdasan emosional dibutuhkan. Orang yang cerdas secara emosional mampu menempatkan diri pada situasi segawat apapun. Emosi itu banyak bentuknya: bahagia, marah, sedih, takut, cemas, dan lain-lain. Kecerdasan emosional dibutuhkan untuk manusia berinteraksi sehari-hari, bertemu dengan orang baru, bergaul dengan orang-orang lingkungan sekitar, di pertemuan yang bergengsi, dan seterusnya.

Coba perhatikan sekelilingmu. Orang yang mudah bergaul dan menghormati orang lain pasti lebih mudah diterima bahkan di lingkungan yang sama sekali baru. Contohnya, ada sekeluarga yang baru pindahan di kampung. Keluarga itu memiliki dua orang anak yang selisih umurnya hanya satu tahun.

Keduanya duduk di bangku SMA. Anak yang pertama pintar, namanya sering muncul di media atas prestasinya. Tapi ia tidak mau bertegur sapa dengan tetangga. Anak yang kedua biasa saja, tapi di hari kedua kepindahan, ia sudah mengajak berkenalan tetangga-tetangga di sana. Mana yang lebih dihargai dan disukai orang?

Ciri dari seseorang yang cerdas secara emosional adalah mengerti bagaimana harus bersikap di segala situasi. Mereka tidak berpikir bahwa dunia ini tentang dirinya sendiri saja. Ketika dihadapkan pada situasi yang sebenarnya berpotensi membuat mereka marah, mereka bisa meredam emosi itu sehingga marahnya tersalurkan dengan baik. Bukannya meledak, mereka akan menenangkan diri sejenak lalu mengajak bicara orang yang membuatnya marah, membicarakannya baik-baik, dan menyelesaikan masalah.

Ketika sedang bahagia pun, mereka tidak serta merta memamerkan kebahagiaannya. Lihat sekeliling dulu. Kalau ada yang sedang berduka, apakah pantas pamer kebahagiaan? Sudah bisa melihat perbedaannya? Jadi intinya lebih ke arah mempertimbangkan situasi sebelum bertindak lebih jauh. Orang-orang seperti ini lebih punya kesempatan untuk sukses. Karena mereka bisa merangkul orang lain untuk bekerjasama dengannya.

Sebenarnya kecerdasan emosional akan lebih mudah ditumbuhkan jika diajarkan sejak dini. Makanya seharusnya pendidikan anak usia dini itu lebih menekankan kepada pendidikan perilaku, bukan hal-hal akademis. Pendidikan yang mengukur kesuksesan dari akademis saja bisa melahirkan generasi yang pintar tapi apatis. Padahal yang dibutuhkan di dunia ini adalah manusia-manusia yang pintar dan punya rasa peduli.

Percuma kan kalau pintar akademis tapi nggak punya orang lain untuk berbagi kesuksesan dan mengerjakan proyek yang lebih hebat hanya karena gagal mengendalikan emosi dan berbuat tidak pantas atau tidak menyenangkan hati di lingkungan sekitar? Yuk belajar memupuk kecerdasan emosional mulai sekarang.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES