Pidato Wisuda Tentang Anak Zaman Sekarang yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Lulus Kuliah

news.okezone.com

Kelulusan selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu para siswa dan mahasiswa di semua sekolah dan perguruan tinggi. Saat wisuda, semua penantian selama bertahun-tahun usai sudah. Perjuangan melawan deadline, guru, dan dosen killer terbayar.

Tapi, sudah tahukah kamu, mau ke mana dan ngapain setelah lulus? Cukupkah menjadi pintar di sekolah dan kampus untuk melanjutkan hidup? Coba deh kamu simak dulu pidato kelulusan Erica Goldson, siswi SMA di Amerika Serikat berikut ini.

1. Kamu bisa menyalakan subtitle untuk mengetahui teks aslinya

www.youtube.com

Sebagian terjemahannya kira-kira begini:

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

2. Percaya nggak percaya, nggak hanya di Amerika saja sistem pendidikan masih menekankan pada nilai (hasil akhir), bukan proses

republika.co.id

Buktinya, untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yang dilihat adalah jumlah dan rata-rata nilai kelulusan. Otak siswa dan mahasiswa seperti terpaksa dijejalkan berbagai materi untuk dihafal, bukan dipahami.

3. Hal ini juga bisa dilihat dari kriteria lowongan pekerjaan yang paling banyak mensyaratkan IPK minimal

bumn.go.id

Dari IPK minimal 2.75 sampai 3.50, tergantung perusahaannya. Lagi-lagi, nilali kuantitatif menjadi sangat penting. Berapa banyak perusahaan atau instansi yang menggelar seleksi keterampilan atau menilai dari pengalaman organisasi tanpa melihat dan menyeleksi calon pekerja melalui IPK terlebih dahulu? Jarang sekali.

4. Akhirnya para pelajar dan mahasiswa tercetak dalam bentuk mesin dan robot, bukan manusia

economy.okezone.com

Mengejar materi secara berlebihan, saling sikut untuk mendapatkan kekuasaan. Bukannya malah menjadi manusia yang mencoba memahami apa yang dibutuhkan lingkungan, malah jadi semakin individual setelah lulus.

tenor.com

Kalau sudah begini, siapa yang musti bertanggung jawab? Barangkali kita bisa mulai dari diri sendiri, dengan belajar menjadi orang yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar, bukan hanya mengejar nilai tetapi juga memahami apa yang kita pelajari agar kelak dapat berguna untuk sesama. Bisa?

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
8 Perbedaan Gaya Pacaran yang Masih Main-main dan Mulai Serius. Kamu Harus Peka!

8 Perbedaan Gaya Pacaran yang Masih Main-main dan Mulai Serius. Kamu Harus Peka!

Yuk Tengok Imutnya 10 Binatang Ini Ketika di Dalam Rahim Sang Induk

Yuk Tengok Imutnya 10 Binatang Ini Ketika di Dalam Rahim Sang Induk

Manis dan Sederhana, Foto Prewedding Petra-Firrina Ini Bisa Kamu Jadikan Referensi

Manis dan Sederhana, Foto Prewedding Petra-Firrina Ini Bisa Kamu Jadikan Referensi

5 Kutipan dari Mendiang Stephen Hawking yang Akan Menginspirasimu

5 Kutipan dari Mendiang Stephen Hawking yang Akan Menginspirasimu

Dari Industrial Hingga Recycle, Ini 10 Konsep Kafe Kekinian Anak Muda. Mana Favoritmu?

Dari Industrial Hingga Recycle, Ini 10 Konsep Kafe Kekinian Anak Muda. Mana Favoritmu?

Beginilah Jadinya Kalau Muka Binatang Dicampur-campur, Lucu Banget!

Beginilah Jadinya Kalau Muka Binatang Dicampur-campur, Lucu Banget!

loading