Penasaran Mengapa Cincin Kawin Dipakai di Jari Manis? Baca Sejarah Singkatnya yuk

29 November 2017
|Chandra W.
1SHARES

Ketika kamu melihat lelaki ganteng atau wanita cantik, apa yang kamu perhatikan pertama kali? Wajah? Sepatu? Kendaraannya? Udah nggak zaman. Perhatikan tangannya dong. Sudahkah tersemat cincin di jari manisnya? Kalau belum, masih bisa digas ya kayak motor. Nggak ding, maksudnya didekati dan diprospek supaya kamu yang kelak memakaikan cincin di jari manisnya.

Kalau kamu melihat seseorang memakai cincin di jari tengah atau jari telunjuk pasti merasa aman-aman saja kan? Soalnya kalau sudah menikah pasti cincinnya ada di jari manis. Kenapa gitu ya? Padahal kan nggak ada aturannya. Iya sih, tapi ada sejarahnya. Kayak gini nih ceritanya.

Arkeolog menemukan bahwa pengantin wanita telah memakai cincin di jari manis pada hieroglif (teknik penulisan yang pertama kali digunakan di Mesir kuno). Orang Mesir yang pertama kali mengenakan cincin di jari manis saat menikah percaya bahwa di antara jari manis dengan jantung ada saraf halus yang terhubung. Saraf halus tersebut menyalurkan energi cinta dari jari manis ke jantung yang dianggap sebagai pusat emosi manusia.

Belum ada bukti yang valid mengenai keberadaan saraf halus tersebut. Namun orang Romawi dan Yunani juga mengikuti tradisi ini dengan kepercayaan bahwa vena amoris atau vena cinta mengalirkan energi tersebut dari jari ke jantung. Tradisi ini kemudian menyebar ke seluruh Eropa dan bahkan dunia. Meski demikian tak ada aturan yang jelas apakah cincin kawin harus disematkan pada jari manis tangan kiri atau kanan. 

Awalnya tradisi memakai cincin kawin hanya berlaku untuk wanita. Tapi akibat Perang Dunia II, pria pun memakai cincin sebagai sarana mengingat anak dan istrinya. Keadaan perang seringkali memaksa sebuah keluarga harus berpisah karena sang suami atau ayah ikut bertempur sedangkan istri dan anaknya diungsikan ke tempat yang aman. 

Meskipun Perang Dunia II telah menimbulkan banyak kerugian dan menewaskan banyak jiwa, kayaknya para wanita patut bersyukur juga. Kalau nggak ada Perang Dunia II, pria nggak akan terikat dengan tradisi mengenakan cincin kawin.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
1SHARES