Orang-orang Ini Mati Dalam Kesepian Karena Tidak Memiliki Pasangan. Gimana Perasaanmu, Mblo?

14 Desember 2017
|Chandra W.

Hidup sendirian kadang memang enak dan menyenangkan. Nggak ada komitmen, minim kompromi, bebas melakukan apa saja sekehendak hati. Tapi kalau ujung-ujungnya kebablasan dan akhirnya nggak punya pasangan hidup, tinggal jauh dari kerabat, lalu mati dalam kesepian dan kesendirian, yakin masih mau sok-sok individualis hidup sendirian?

Fenomena semacam ini sedang merebak di Jepang. Namanya Kodokushi.

Sepanjang tahun 2013, ditemukan lebih dari 3.700 jasad yang diperkirakan telah meninggal berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya sebelum ditemukan. Namun jumlah ini hanya yang tercatat di Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan. Jumlah aslinya di lapangan diduga mencapai sekitar 30.000 per tahun. Kebanyakan ditemukan di apartemen dan tinggal sendiri tanpa pasangan maupun kerabat.

Salah satunya adalah Haruki Watanabe (60) (bukan nama sebenarnya) yang ditemukan telah meninggal berminggu-minggu lamanya dalam kamar apartemennya di pinggiran Osaka, Jepang. Watanabe ditemukan dalam kondisi jasad membusuk dan terurai, tergenang cairan tubuhnya sendiri. Ia tidak memiliki istri, juga teman-teman. Ia memiliki anak lelaki, yang sudah bertahun-tahun menolak berkomunikasi dengannya.

Yang menemukannya justru pemilik apartemen yang kesal karena Watanabe belum membayar sewa bulanan dan tidak mengangkat telepon beberapa kali. Toru Suzuki (bukan nama sebenarnya) mendatangi apartemen Watanabe dan bukannya mendapatkan uang sewa, ia malah harus menyaksikan pemandangan yang menjijikan dan menghadapi risiko turunnya harga sewa apartemen miliknya itu. Kematian oleh sebab apapun selalu menurunkan harga properti. Dalam kamarnya, Watanabe ditemukan tergeletak di kasur dengan ramen cup sisa setengah di lantai, meja penuh barang-barang dan puntung-puntung rokok dalam asbak.

Merebaknya fenomena Kodokushi atau mati dalam kesepian dan kesendirian ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup kita. Dari makhluk sosial jadi individual, dulu kita lebih sering dan senang berkumpul dengan keluarga atau teman-teman. Sekarang lebih enak ke mana-mana dan ngapa-ngapain sendirian.

Dari interaksi nyata menjadi interaksi maya. Yang dulu mau kenalan langsung menyapa, sekarang langsung mengetik. Teknologi, menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. Terlalu sibuk bekerja juga menjadi salah satu penyebab seseorang bertahan menjomblo atau nggak sempat cari pasangan. Konflik dengan keluarga juga bisa membuat seseorang merasa lebih aman mengisolasi diri dengan hidup sendiri dan jauh dari siapa saja.

Jangan sampai fenomena Kodokushi merebak di Indonesia ya guys. Apalagi menimpa kamu, aku, kita semua. Soalnya di Jepang juga yang ditemukan meninggal sendiri bukan hanya orang-orang lanjut usia. Ada juga perempuan berusia sekitar 20 tahun ditemukan meninggal bukan karena bunuh diri dalam apartemennya. Anjingnya juga ditemukan mati di depan pintu dengan posisi mulut seperti sedang menggonggong. Tetangga apartemennya mengaku mendengar anjing itu menggonggong seperti kesetanan beberapa malam sebelumnya. Ini juga jadi pelajaran bahwa kita harus lebih peduli bukan hanya dengan keluarga dan teman, tetapi juga pada tetangga dan lingkungan sekitar.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
SHARES