Miris, Sejenak Mengenang Kengerian Peristiwa Malari Tahun 1974 di Jakarta

18 Januari 2017
|Iswara Aji Pratama
0SHARES

Generasi sekarang pasti sedikit yang tahu soal Malari (Malapetaka lima belas Januari) yang terjadi di Jakarta pada tahun 1974. Konon, peristiwa ini menjadi amukan pertama mahasiswa terhadap Orde Baru (pemerintahan Soeharto). Mahasiswa mengecam kebijakan pemerintah terkait modal asing yang masuk ke Indonesia. Mereka berpendapat bahwa modal asing bukannya membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia, tapi malah memperburuk kondisi perekonomian. Tindakan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa ini diadakan ketika Jan P Pronk, Ketua Inter-Gonvernmental Group on Indonesia (IGGI) yakni lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, datang berkunjung ke Indonesia tanggal 11 November 1973. Demonstrasi yang dilakukan pada saat itu belum mencapai puncaknya, mahasiswa cuma berdemo biasa dengan membawa umbul-umbul dan karangan bunga. 

Kerusuhan peristiwa Malari meletus ketika Perdana Menteri Jepang saat itu, Tanaka Kakuei, datang ke Indonesia tanggal 14-17 Januari 1974. Waduh, demo lagi nih. Rencananya massa mau menyambut kedatangan Tanaka Kakuei di Bandara Halim Perdanakusuma. Tapi sayangnya hal itu gak terjadi karena aparat udah memblokir bandara. Akibatnya, massa pun beralih ke sekitar Jakarta Pusat. Mungkin karena kekecewaan tidak dapat bertemu dengan PM Jepang, massa pun melakukan kerusuhan besar-besaran di Jakarta. 

Seperti yang dilansir oleh Merdeka.com (15/1/14), kerusuhan yang terjadi pada saat itu meliputi pengrusakan berbagai fasilitas umum dan bangunan pertokoan, seperti di Senen, Jakarta Pusat, dan Roxy. Gara-gara kerusuhan ini, Jakarta selama 2 hari diselimuti asap tebal. Gila. Ngeri banget kayak kiamat nih.    

Kawasan yang menjadi titik perhatian waktu itu adalah pertokoan di wilayah Senen. Semua toko abis ludes dibakar. Padahal toko-toko tersebut baru selesai dibangun dengan menghabiskan dana sebesar 2,7 miliar. Tahun 1974, uang segitu mah gede banget, gila. Kalau diukur pake ukuran sekarang mah ya kira-kira hampir triliunan deh.     

Menteri Pertahanan dan Keamanan waktu itu, Maraden Panggabean menjelaskan bahwa kerugian materi yang diakibatkan oleh peristiwa Malari itu gede banget. Katanya, sebanyak 807 mobil, 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 gedung rusak atau dibakar, dan emas sebanyak 160 kg dijarah massa dari toko perhiasan. Selain kerugian materi, terdapat cukup banyak korban jiwa ketika peristiwa ini terjadi. Tercatat bahwa 11 orang meninggal, 177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap.

Kayak yang udah-udah, demo atau kerusuhan yang terjadi di Indonesia pasti melibatkan kaum Tionghoa. Mereka menjadi korban dari amukan massa. Aneh juga yah, kerusuhan di sini kenapa selalu mengaitkan kaum Tionghoa, sejak zaman dulu, tahun 1740. 

Konon, kerusuhan yang terjadi bukanlah rencana awal dari para mahasiswa yang menyusun demonstrasi. Mereka menduga kalau aksi Malari ini ada yang manfaatin dan memprovokasi massa agar bertindak anarkis. Kalau kamu udah jadi mahasiswa pada zaman itu, kamu ikut demo gak kira-kira? Kayaknya demo sih wajib ikutlah ya, demi negara tujuannya. Tapi kalau kegiatan kerusuhannya mending gak usah deh. Ngeri!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Iswara Aji Pratama
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES