Mimpi Memiliki Pernikahan Adat Jawa? Pahami Dulu yuk Filosofi di Baliknya

21 November 2017
|Chandra W.
0SHARES

Setiap orang pasti punya impian tentang pernikahannya kelak. Ada yang ingin pesta pernikahan ala royal wedding, modern, ada juga yang ingin melaksanakan prosesi sesuai adat tempat kelahirannya, misalnya adat Jawa. Prosesi pernikahan adat Jawa biasanya memakan lebih banyak waktu dibandingkan dengan pernikahan modern.

Untuk kamu yang ingin menikah dengan menggunakan adat Jawa, tahukah kamu bahwa di balik setiap rangkaian prosesi ada makna filosofis yang tersembunyi?

Artikel ini akan mengupas makna di balik rangkaian upacara Panggih dalam pernikahan adat Jawa. Panggih adalah saat bertemunya kedua mempelai pada hari pernikahan, jadi sudah melalui proses lamaran sampai midodareni dan siraman. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan kedua mempelai dan keluarga dalam upacara Panggih. Apa saja?

1. Penyerahan Sanggan untuk 'menebus' pengantin perempuan

Sanggan ibarat sarana untuk meminta izin agar mempelai perempuan boleh bersanding dengan mempelai lelakinya. Sanggan terdiri dari dua sisir pisang raja yang matang dari pohonnya, sirih ayu, kembang telon atau kembang tiga macam yaitu mawar; melati; dan kenanga, serta benang lawe. Sanggan dibawa oleh keluarga pria, lalu diserahkan pada perwakilan mempelai wanita.

2. Balangan Gantal / Balangan Suruh: saling melempar kasih sayang di antara kedua mempelai

Prosesi balangan gantal atau balangan suruh ini dimaknai sebagai saling melempar kasih antar dua orang yang kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Gantal terdiri dari lintingan daun sirih yang sudah diisi bunga pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau hitam.

Ada beberapa versi tentang ke mana seharusnya gantal dilempar. Ada yang menyebutkan, mempelai perempuan melempar ke arah kaki suami sedangkan mempelai pria melempar ke arah jantung istrinya. Ada juga yang menyebutkan keduanya sama-sama melempar ke arah jantung pasangan.

3. Wijikan, ngidak tigan, wiji dadi sebagai simbolisasi berakhirnya masa lajang dan akan lahir 'bibit baru' dari kedua mempelai

Prosesi ini diawali dengan mempelai perempuan membasuh kaki pasangannya, lalu mempelai pria menginjak telur dengan kaki yang telah dibasuh tadi dan kembali dibersihkan oleh mempelai perempuan. Telur ini filosofinya adalah bakal bibit atau anak dalam keluarga baru ini kelak. Selain itu hal ini juga menjadi tanda bahwa masa lajang kedua mempelai telah resmi berakhir.

4. Sinduran, simbol menyatunya dua hati

Jika dalam rangkaian prosesi sebelumnya kedua mempelai selalu berada dalam posisi berhadap-hadapan, ketika memasuki prosesi memakai kain sinduran pengantin sudah dipersilakan berdampingan. Kain sinduran dipakaikan oleh ibu mempelai putri dari belakang dan kemudian pengantin berjalan ke pelaminan diarahkan oleh ayah mempelai putri di depannya. Filosofi kain sinduran ini adalah lambang menyatunya dua hati, dua kehidupan, dua keluarga menjadi satu.

5. Timbang Pangkon, menunjukkan bahwa mertua telah menerima menantu sebagai anak

Dalam prosesi ini, ayah mempelai perempuan memangku pengantin pria di paha kiri dan anaknya di paha kanan. Makna filosofisnya, kasih sayang yang diberikan dari mertua akan sama besarnya kepada kedua mempelai. 

6. Nanem Jero, pengantin 'ditanam' agar membuahkan kehidupan keluarga yang manis

Setelah ditimbang, ayah pengantin putri bangun dan mendudukan kedua mempelai di pelaminan. Mendudukkan keduanya inilah yang disebut 'menanam'. Maksudnya adalah menanam pasangan yang diharapkan akan membuahkan keluarga baru yang bahagia.

7. Kacar-kucur yang bermakna pemberian nafkah dari suami ke istri

Dalam ritual kacar-kucur, pengantin pria mengucurkan beras, uang logam, dan biji-bijian dari sebuah wadah ke sapu tangan atau kain yang dipegang oleh pengantin wanita. Beras, biji-bijian, dan uang logam tersebut diibaratkan nafkah yang kelak akan diberikan suami kepada istri dan tanggung jawab istri untuk mengaturnya.

8. Dulangan atau Dhahar Klimah, menggambarkan kemantapan hati dalam membina rumah tangga

Juga menggambarkan kerukunan suami istri dalam berumah tangga. Dulangan artinya 'saling menyuapi' namun pada praktiknya prosesi ini berbeda-beda. Ada yang pengantin pria menyuapi pengantin wanita, ada pula yang saling menyuapi.

9. Ngunjuk rujak degan, bermakna kebahagiaan harus dibagikan ke seluruh keluarga

Rujak degan adalah minuman serutan kelapa muda dengan gula merah yang dalam prosesinya diminum atau dicicipi oleh mempelai dan orangtua mempelai perempuan. Rasanya yang segar dan manis memiliki filosofi kebahagiaan, dan kebahagiaan dalam rumah tangga tak boleh dinikmati sendiri harus dibagikan ke seluruh anggota keluarga.

10. Mapag Besan atau Tilik Pitik, orangtua mempelai pria menengok anak mereka yang telah resmi menjadi pengantin

Baru di prosesi inilah orangtua mempelai pria naik ke pelaminan dijemput orangtua mempelai wanita. Orangtua mempelai pria kemudian memberi izin secara simbolis dan restu kepada anak dan menantunya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

11. Sungkeman, penutup rangkaian prosesi sebagai tanda terima kasih anak kepada orangtua

Biasanya prosesi sungkeman paling mengharukan karena di saat inilah si anak meminta maaf atas segala kesalahannya sejak lahir sampai menikah serta berterima kasih kepada orangtua yang telah mendidiknya. Sungkeman juga berarti memohon restu untuk memulai kehidupan yang baru dan tidak bergantung pada orangtua.

Nah itu dia makna filosofis di balik setiap rangkaian prosesi dalam pernikahan adat Jawa. Pastikan kamu benar-benar memahaminya sebelum memutuskan untuk menikah dengan adat Jawa, supaya lebih menghayati dan khidmat menjalani tiap prosesnya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES