Lulus Kuliah, Bekerja, Menikah, Punya Anak, Lalu Apa Girls?

13 Juni 2018
|Pristiqa Wirastami

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang sudah melewati semua fase yang tertulis di judul tulisan ini. Lulus kuliah lumayan tepat waktu, dapat pekerjaan impian meski harus mengaggur dulu selama lebih dari 6 bulan, menikah di usia yang nggak telat-telat banget, dan kini sudah punya bayi lucu yang bikin sleepless night bagi saya jadi nyata.

Saya sering mendapat pujian, kalau memang boleh disebut pujian. Atau yah paling tidak saya anggap saja pujian. Beberapa bilang apa yang saya lalui adalah salah satu bentuk life goals. Saya sudah bisa mendapatkan semua hal yang selama ini sering ditanyakan para ibu-ibu atau tante nyinyir yang hobi sekali mengurusi hidup orang lain, sebelum 30 tahun. Bagi yang belum mengalami, mungkin melihat hidup saya begitu menyenangkan. Sebagai seorang perempuan yang mempunyai suami perhatian dan anak yang lucu dan menggemaskan, lalu kurang apa lagi?

Kalau saya disuruh menjawab pertanyaan ini, saya akan menjawab: masih kurang banyak!

Bukannya tak bisa bersyukur. Saya justru sangat bersyukur dengan hidup yang saya jalani sekarang. Kalau harus dilahirkan kembali, saya akan memilih menjadi diri saya sendiri lagi, tentu dengan keluarga yang saya miliki sekarang. Satu lagi hal yang juga membuat saya bersyukur sudah melewati semua fase tersebut adalah terbebaskan dari pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang sukanya mencampuri hidup orang lain.

Ayolah, kenapa seseorang belum mendapatkan pekerjaan, kapan seseorang menikah, apalagi kapan punya anak sama sekali bukan pertanyaan yang bisa seenaknya ditanyakan. Salah-salah bisa menyinggung orang yang mendapat pertanyaan tersebut. Dan itu sama sekali bukan pertanyaan basa-basi yang sopan diutarakan. Sebagai anak muda, kita harus menghentikan lingkaran setan dari pertanyaan-pertanyaan ini sekarang!

Kembali lagi ke topik, iya saya bersyukur dengan fase hidup yang saya jalani ini. Tapi bukan berarti setelah saya punya anak, tak lagi ada keinginan untuk mencapai sesuatu. Ambisi, dalam konteks yang positif, harus tetap ada. Hal ini akan jadi pengingat sebenarnya apa tujuan kita hidup di dunia ini.

Artinya, hidupmu tak boleh berhenti begitu saja pada fase lulus kuliah - bekerja - menikah - punya anak - lalu sudah. Memiliki impian tak pernah terbatas pada usia. Siapapun boleh punya impian. Begitu juga kamu, yang saya yakin masih muda dan punya banyak waktu merancang mimpi dan menggapainya dengan gigih.

Entah nanti bagaimana realisasinya, setidaknya kamu punya cerita bagaimana jatuh bangunmu untuk mencapai impian tersebut. Setidaknya itu akan memberikan kepuasan batin tersendiri dibandingkan mereka yang memilih menyerah, bahkan sebelum mencoba apapun.

Tapi bagaimana kalau impian tertinggi yang kamu miliki memang menikah, punya anak, lalu jadi ibu rumah tangga? Ya tak masalah, tak ada yang salah dengan hal tersebut. Saya tak mengatakan kalau yang boleh punya impian harus mereka yang tetap melanjutkan bekerja setelah berkeluarga dan punya anak. Impian menjadi ibu rumah tangga juga tak ada salahnya. Tapi menurut saya, menjadi ibu rumah tangga yang berawal dari impian nantinya akan menjalani perannya dengan tulus, tanpa ada penyesalan sama sekali.

Kodrat perempuan adalah melahirkan dan menjadi seorang ibu. Itu adalah dua hal yang tak bisa diubah sampai kapanpun. Tapi untuk hal yang lain, kamu punya kesempatan yang terbuka lebar untuk memilih apa yang ingin kamu lakukan dalam hidupmu. Termasuk hak memilih pasangan hidup yang punya kemauan untuk mendukung segala hal baik yang kamu lakukan. Kamu juga boleh melanjutkan mengerjakan segala hal yang kamu sukai, bahkan nanti setelah anakmu lebih dari satu. Semua bisa kamu lakukan, asal punya kemauan.

Jangan jadikan menikah, lalu punya anak sebagai penghalang untukmu bisa mengembangkan diri. Justru kedua hal tersebut bisa menjadi penyemangat untukmu mengembangkan diri. Kalau kamu berharap anakmu kelak tumbuh menjadi pribadi dengan banyak hal positif di dalamnya, kenapa tak kamu contohkan saja lebih dulu sebagai ibu atau mungkin calon ibu? Karena kecerdasan yang dimiliki seorang anak, tak dipungkiri diturunkan dari ibunya.

Fase kehidupan boleh saja flat, tapi jangan pernah biarkan dirimu hidup tanpa impian.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Pristiqa Wirastami
"For the sake of happines, I do writing."
SHARES