Kisah Perjuangan Pemulung yang Berhasil Lanjut Kuliah Ini Bakal Bikin Kamu Terenyuh

12 Juni 2017
|Romlah Sundari
Life
0SHARES

“ah, kalo mau usaha butuh modal banyak, saya yg dari keluarga pas-pasan mana bisa”

“aku ga jadi datang ke seminar deh, jauh sekali dan aku ga ada kendaraan untuk kesana.”

Berapa kali kita sering menjadikan situasi kita sebagai pembatas bagi diri sendiri? Berapa kali kita mengesampingkan impian kita hanya karena situasi sekitar terlihat tidak memungkinkan? Karena kita terlahir di keluarga tertentu, dengan gender tertentu, keadaan ekonomi tertentu, maka kita urung dari mimpi-mimpi kita. Namun apakah benar bahwa situasi membatasi gerak kita? Atau, situasi adalah sesuatu yang dapat kita ubah melalui kerja keras, determinasi, dan konsistensi? Kisah inspiratif dari 3 anak muda ini akan memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Yuk, simak!

Firna Larasati

Firna terlahir di keluarga yang miskin. Seluruh keluarganya berprofesi sebagai pemulung, termasuk Firna sendiri. Misianto, ayah Firna, telah menjadi pemulung selama kurang lebih 15 tahun dan dengan penghasilan yang tidak lebih dari 40 ribu rupiah perhari. Untuk kebutuhan sehari-hari keluarga Firna, jumlah pendapatan tersebut jauh dari cukup. Karena itu Firna terbiasa bekerja di waktu-waktu senggangnya untuk mendapatkan uang tambahan. Firna pernah menjadi pelayan di rumah makan, penjaga toko, hingga berjualan koran bekas untuk membantu perekonomian keluarganya.

Namun keadaan yang sulit ini tidak menghentikan Firna dari mimpinya untuk melanjutkan pendidikan. Firna berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan bidik misi dari pemerintah. Beasiswa ini tidak hanya memberikan Firna kesempatan untuk berkuliah gratis, namun juga memberi Firna uang saku sebesar Rp 600 ribu untuk keperluan lainnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Firna. Ia berhasil lulus dengan predikat lulusan terbaik dari Universitas Negeri Semarang dan karya skripsinya dinobatkan sebagai karya skripsi terbaik. Tidak berhenti disitu, Firna juga bertekad untuk melanjutkan hingga ke jenjang S2. Ia bermimpi untuk menjadi dosen, karena itu ia ingin melanjutkan hingga mendapat gelar master.

Wahyudin

Sama seperti Firna, Wahyudin juga terlahir di keluarga yang serba kekurangan. Ayah dan ibunya berprofesi sebagai buruh tani. Penghasilan yang mereka dapatkan hanya cukup untuk makan sehari-hari, tidak untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang banyak. Menyadari hal ini Wahyudin selalu mengambil pekerjaan sambilan untuk membiayai sekolahnya. Saat SD, Wahyudin sudah mulai menjadi pemulung dan penggembala kambing demi mendapatkan uang tambahan. Saat SMP, ia bekerja sebagai penjaja gorengan. Hingga saat SMA, Wahyudin memiliki 7 pekerjaan sampingan sekaligus dari memulung, menjadi pedagang asongan, penjual susu murni, hingga pengajar les dan penyiar. Semua ini dilakukan Wahyudin demi bisa terus lanjut berkuliah.

Kerja keras Wahyudin terbayar, Ia berhasil melanjutkan hingga ke jenjang S1 dengan berbagai jerih payahnya. Wahyudin menamatkan pendidikan S1-nya di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) dengan IPK Cumlaude yaitu 3,85. Beruntung, kisah Wahyudin sempat diliput oleh media detik.com hingga kisah Wahyudin sampai ke telinga Kemendikbud. Berkat liputan tersebut, Wahyudin mendapatkan tawaran beasiswa S2 dari kemendikbud. Ia mengambil kesempatan ini dan melanjutkan pendidikan S2-nya melalui program Master of Business Administration di Institut Teknologi Bandung. Kini, Wahyudin sudah tidak harus menjadi pemulung lagi. Wahyudin kini aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh komunitas Remaja Peduli Lingkungan besutannya. Ia juga mendapat modal dari seorang WNI di Australia untuk beternak itik.

Ming Ming

Ming Ming Sari Nuryanti adalah seorang gadis yang tinggal di Bogor dan juga berprofesi sebagai pemulung. Orang tua Ming Ming bekerja secara serabutan sehingga pendapatan mereka tidak pasti setiap bulannya. Ming Ming dan seluruh keluarganya beralih profesi menjadi pemulung demi dapat melanjutkan hidup dan pendidikan setiap anaknya. Di keluarga Ming Ming, pendidikan mendapat nilai penting sehingga Ming Ming dan seluruh adiknya berhasil melanjutkan pendidikan hingga SMA. Namun untuk kuliah, Ming Ming harus pontang panting demi membiayai pendidikannya.

Ia mengambil jurusan akuntansi di Universitas Pamulang, Tangerang. Keputusan untuk berkuliah di UNPAM diambilnya karena biaya berkuliah di UNPAM memang terkenal murah sehingga masih dapat dijangkau oleh Ming Ming. Sehari-harinya, Ming Ming harus berjalan kaki selama kurang lebih 10 km sembari memulung sebelum dan sesudah jam kuliahnya. Usaha Ming Ming ini terus ditempuhnya karena Ming Ming bercita-cita untuk menjadi akuntan yang syar’i, sesuai dengan ajaran agamanya.

3 anak muda Indonesia ini telah membuktikan melalui kisahnya, bagaimana situasi tidak menjadi penghalang ketika niat dan kemauan kita begitu keras. Mimpi mereka untuk melanjutkan studi meski di tengah keterbatasan finansial berhasil terwujud meski dengan upaya yang juga luar biasa. Keadaan mereka tidak membuat mereka berputus asa dan menyerah. Mereka percaya bahwa pendidikan dapat mengubah situasi mereka sehingga mereka berjuang keras demi mendapatkan pendidikan tinggi. Dan kesuksesan mereka adalah bukti, bahwa manusia dapat terus berkembang dalam keadaan dan situasi apapun. Manusia dapat mewujudkan mimpinya, selama mereka mau berupaya keras dengan determinasi dan konsistensi.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES