Kisah Mahasiswa Ciptakan Minyak Goreng Ulat Demi Selamatkan Hutan Bakal Bikin Kamu Termotivasi

18 Oktober 2017
|Chandra W.
561SHARES

Motivasi memang bisa menjadi dorongan bagi seseorang untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi lingkungan sekitar. Seperti yang dilakukan Mushab Nursantio, mahasiswa Universitas Brawijaya Malang. Ia membuat minyak goreng dari larva kumbang hitam. Ingat ulat yang sering muncul di film horor? Nah seperti itu bentuknya. Panjang-panjang dan gerakannya cepat.

Mushab yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian itu mengaku tertarik meneliti karena memang menyukai serangga. Ia juga prihatin melihat pembukaan lahan untuk menanam kelapa sawit yang pasti merusak lingkungan dan mengurangi luasan hutan tropis Indonesia. Padahal ada potensi yang bisa dikembangkan dengan harga yang murah tanpa harus membakar lahan, yaitu minyak goreng dari larva kumbang atau yang biasa disebut ulat Jerman. Atas inovasinya ini, Mushab telah mendapat penghargaan dalam kompetisi bahan makanan berkelanjutan di Swiss.

Bedanya dengan mahasiswa yang pada umumnya hanya melakukan inovasi untuk penelitian, Mushab dan timnya sejak awal berniat untuk komersialisasi. Menurut Mushab, usaha minyak goreng dari ulat ini cocok untuk dilakukan orang-orang yang ingin berwirausaha dengan modal tipis tapi cepat menghasilkan. Pasalnya, satu kumbang hitam hanya perlu waktu dua minggu untuk menghasilkan 500 telur. Hanya tinggal menunggu telur jadi ulat, lalu ulat-ulat tersebut dimatikan, dikeringkan, dihancurkan, dimurnikan serta dihilangkan baunya sampai menjadi minyak goreng.

Sampai saat ini Mushab telah menggandeng enam perusahaan di Eropa untuk memasarkan produknya. Di Indonesia sendiri belum banyak tersebar karena masih menuai pro kontra seputar halal dan haramnya serangga. Yah seperti biasa, kita memang hobi ribut halal haram. Sementara produk anak bangsa lebih cepat diterima di luar negeri.

Jika ke depannya minyak goreng ulat ini bisa diterima masyarakat, sepertinya akan banyak yang beralih profesi jadi peternak ulat. Sebab, untuk modalnya kira-kira tiap bulan, sekitar 500 kumbang, kurang dari Rp100.000 tapi bisa dijual antara Rp300.000 sampai Rp500.000.  Sangat menguntungkan bukan? Lagipula dengan menggunakan minyak goreng berbahan dasar ulat ini, kita sama saja sedang menyelamatkan lingkungan lho.

Hasil dari perkebunan sawit untuk minyak goreng per tahun hanya sekitar 5 ton, sedangkan dengan ulat Jerman bisa 150 ton. Lebih efisien, hemat tempat, mudah dan murah tanpa melenyapkan hutan paru-paru dunia. Kisah Mushab ini patut dijadikan teladan ya guys, dari motivasinya menyelamatkan lingkungan ia bisa juga berkontribusi terhadap perekonomian di Indonesia.

Semoga ke depannya semakin banyak penemuan berharga dari anak muda yang bikin anak muda lainnya semakin termotivasi dan terinspirasi untuk melakukan hal yang bermanfaat untuk sekitar daripada stalking Instagram mantan, ya. Bravo, Mushab dan tim!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
561SHARES