Kisah Gusmul, Operator Warnet dan Tukang Edit Foto yang Kini Dikenal Sebagai Penulis

21 September 2017
|Chandra W.
0SHARES

Ini cerita soal seorang laki-laki ceria. Wajahnya biasa saja, tapi mendengarnya bercerita dijamin akan membuatmu tertawa bahagia. Namanya Agus Mulyadi, biasa dipanggil Gusmul. Jadi Gus dalam Gusmul ini bukan karena ia anak pesantren ya, ingat itu. Nama biasa saja, muka apalagi, tapi bagaimana bisa ia menjadi sosok yang berbeda dengan yang lain? Gusmul menceritakan kisahnya dalam sebuah talkshow di Yogyakarta, tempatnya merantau dari tanah kelahirannya, Magelang. Merantau yang pulang seminggu sekali.

Coba googling ‘Agus Mulyadi’ deh. Akan muncul hasil pencarian berupa blog kepunyaan blogger asal Magelang ini. Di dalamnya kamu akan menemukan artikel-artikel yang kadang sebenarnya isinya nggak penting, tapi lucu. Dan pasti ada intinya. Padat menyindir. Kadang juga bikin kita ketawa. Sering sih sebenarnya. Gusmul juga ternyata sudah berhasil menulis tiga buku. Ketiganya bergenre humor. Judulnya: Diplomat Kenangan, Bergumul dengan Gusmul, dan Jomblo Tapi Hafal Pancasila. Saat ini ia juga menjabat sebagai redaktur Mojok.

Selain kesibukan tadi, ia juga kerap diundang ke acara-acara anak muda. Untuk yang satu ini tidak perlu heran, sebab kemampuannya menghidupkan suasana tak perlu diragukan lagi. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai penulis. Walaupun katanya perjalanannya hingga saat ini tak bisa lepas dari pekerjaannya di masa lalu, yaitu sebagai tukang jaga warnet dan tukang edit foto.

Ia lulus dari sebuah SMA di Magelang dan langsung memutuskan untuk merantau ke Jogja lalu bekerja sebagai tukang jaga alias operator warung internet (warnet).

“Tanpa bermaksud menyinggung, saya katakan bahwa operator warnet adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Cuma duduk, ngelihatin orang main game, terima duit. Sudah. Begitu seterusnya.”

Tapi dari kebosanan itulah akhirnya ia rajiin menulis dalam blognya. Sembari jaga warnet, ia juga menerima jasa edit foto. Foto-foto editannya dijamin nggak kelihatan Photoshop-an. Ia mengedit foto dirinya dijejerkan dengan Nabilah JKT 48. Teman-temannya yang wota garis keras pun meminta dieditkan foto, lumayan Rp 50.000/orang. Waktu itu pesanannya bisa 10-20 foto per hari. Jauh lebih tinggi dari upah operator warnet yang hanya sekitar Rp 30.000/hari.

Karena mengidolakan aktris FTV Andrea Dian, Gusmul pun mengedit fotonya dengan foto Andrea yang mengenakan gaun pengantin. Tak dinyana, beberapa hari kemudian ia mendapat telepon dari Ganindra Bimo, suami Andrea yang tidak terima foto istrinya dijejerkan dengan Gusmul.

“Kalau mas nggak mau menghapus foto itu dari internet, saya bawa ke jalur hukum.” Begitu kata Ganindra.

Jelas Gusmul takut meski katanya sebelumnya juga ingin menjawab dengan, “Lha ya mbok jangan dinikahi dulu. Yang suka sama Andrea kan banyak. Biar saya bisa puas edit fotonya.”

Akhirnya ia menghapus foto editan itu di mana ia mengunggahnya. Beberapa hari kemudian, barulah ia tahu jika ternyata telepon ‘Ganindra Bimo’ itu adalah salah satu program prank dari radio swasta. Kurang ajar memang, tapi sejak itu namanya mulai masuk media sebagai tukang edit foto yang nge-hits. Dari kemunculannya di media-media itulah, orang-orang mulai mampir ke blognya.

Bagi Gusmul, itu adalah momentum yang mengubah hidupnya. Setelah itu ia dihubungi beberapa penerbit yang sreg dengan gaya penulisannya. Ia menulis segala yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, misal kucing, atau apa saja yang ditemukannya di jalan. Ia akan memotret apa saja yang menurutnya unik untuk kemudian dibuat cerita. Salah satu foto yang ditunjukkannya adalah foto tanaman teh-tehan yang ada benalunya. Benalu itu disebut bakmi-bakmian karena menyerupai mie dan berwarna kuning. Lalu Gusmul bertanya pada audiens, “Kalian tahu ini apa?”

Sebagian besar menjawab teh-tehan dan sebagian besar lainnya menjawab bakmi-bakmian. Gusmul menyambung, “Salah! Buat saya ini adalah kepalsuan di atas kepalsuan.” Ternyata ia memang pikirannya berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Kata Gusmul, ada tiga topik yang laris dibaca di Indonesia. Pertama, humor. Kedua, politik. Ketiga, seks.

"Politik, saya nggak mudeng. Seks, saya belum pernah. Ya sudah saya nulis humor saja."

Menjadi penulis itu mudah, kata Gusmul. Yang penting sering menulis saja. Dan tidak usah takut kalau ada yang menduplikasi tulisanmu. Karena konten bisa diduplikasi, tapi gaya menulis tidak bisa ditiru.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES