Kalau Nggak Baper Namanya Bukan Manusia. Ini Alasan Kenapa Baper Itu Baik!

15 Oktober 2017
|Chandra W.
0SHARES

Sujiwo Tedjo pernah mengatakan,

“Lama-lama orang males romantis karena entar disebut galau. Males peduli takut disebut kepo. Males mendetail takut dibilang rempong. Males mengubah-ubah point of view dalam debat takut dibilang labil. Juga, lama-lama generasi mendatang males berpendapat takut dikira curhat.”

Beberapa orang lalu menambahkan, ‘lama-lama orang males minta maaf, karena menganggap orang lain baper.’

Mungkin kamu pernah mengalaminya sendiri. Ketika ada temanmu yang ngeselin atau melakukan sesuatu yang sebenarnya nggak pantas lalu kamu menegurnya dengan maksud baik, bukannya jawaban menenangkan yang kamu dapat, melainkan ‘jadi orang kok baper amat.’ Lah???

Misalkan, kamu baru aja cerita soal gebetan ke teman curhat. Besoknya, pas gebetan lewat di depan kalian berdua, temanmu dengan enaknya teriak, ‘Eh, Doni! Nih temen gue naksir elo. Sini deh kenalan.’ Padahal kemarin mah ceritanya juga udah dengan wanti-wanti ‘say, plis jangan sampai ada yang tahu gue suka sama Doni.’ Siapa yang nggak kesal kalau sudah begitu? 

Akhirnya kamu pun menegur ‘Lho, kok lo gitu sih? Kan itu rahasia…Malu lah gue sama Doni. Kan kemarin udah dibilangin jangan bilang siapa-siapa.’ Bukannya mendapatkan permohonan maaf, temanmu malah menjawab ‘Aelah gitu doang baper amat lu jadi orang.’ Dan dia ngeloyor… kejadian yang lebih parah lagi biasanya malah dia yang jadi marah. Jadi sebenarnya ini salah siapa sih? Salah gue? Salah orang tua gue? Salah bunda mengandung? 

Itulah yang banyak disayangkan tapi terjadi setiap hari, mungkin kalau ada yang bikin penelitian, ada sekian remaja yang mengatakan kalimat ‘baper banget lo’ setiap 10 detik. Misalnya lho ya. Silakan siapa tahu menarique buat skripsi. Tiga kata itu powerful banget dan kita kadang nggak menyadarinya. Kalau powerfulnya dalam arti positif sih nggak apa-apa. Sayang, seringnya dampak tiga kata itu buruk baik dalam jangka waktu pendek atau panjang.

Pertama, kalimat itu secara nggak langsung menyuruh orang yang tadinya berperasaan dan berani mengungkapkan apa yang dirasakan, jadi merasa bersalah dan akhirnya memendam emosi baik positif maupun negatif. Emosi bisa saja berupa kebahagiaan, misalnya ketika gebetanmu ngajarin matematika di sekolah, terus kamu cerita tuh sama teman sebangkumu dan dia bilang ‘ah baper lo. Dia kan begitu sama semua orang.’ Atau ketika kamu sedih melihat orang mengambil makanan dari dalam tempat sampah dan lagi-lagi dibilang baper.

Akhirnya kamu mulai mencoba meredam emosi apapun dalam hati dan nggak mengungkapkan apapun karena menghindari kemungkinan dibilang baper. Dari yang awalnya compassionate sama banyak hal, peduli sama sekitar berbekal perasaan yang sensitif (atau common sense juga sebenarnya cukup), kamu jadi orang yang pura-pura santai dan cool aja melihat ketidakadilan di sekitarmu, nggak mau mengungkapkan rasa bahagia, dan seterusnya. 

Padahal, pada takaran tertentu, baper itu wajar dan normal. Coba kita bedah dari asal katanya. Baper terdiri dari dua kata: bawa perasaan. Namanya juga manusia, ya pasti punya perasaan dong. Kalau nggak punya perasaan, namanya robot. Terus, buat apa punya perasaan tapi nggak digunakan? Percuma dong dikasih akal. 

Ketika kamu baper sama sesuatu terutama selain yang berkaitan dengan gebetan, itu menunjukkan bahwa kamu peduli terhadap hal atau isu tertentu. Kepedulian ini yang lama-lama bisa terkikis di generasi kita kalau apa-apa dikatain baper. Padahal, orang-orang sukses itu biasanya adalah orang yang peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar lalu mencari dan menemukan solusi atas masalah dirinya sendiri maupun orang lain secara umum.

Mau jadi apa kita kalau punya perasaan tapi ditinggal di rumah? Dibawalah. Baper itu penting karena tanpa perasaan, kamu nggak bisa melatih simpati dan empati terhadap orang lain. Baper menunjukkan bahwa kamu manusia. Normal. Kalau nggak baper, situ psikopat, robot, atau manusia tapi nggak peka? Ingat, seburuk-buruknya baper, masih lebih mending daripada nggak peka. Setuju?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES