Judul Skripsi Fatin Shidqia Ditolak Berkali-kali, Ini 8 Kegelisahan Mahasiswa yang Sedang Skripsi

25 April 2018
|Chandra W.
5.9 KSHARES

Perjuangan mendapatkan gelar sarjana memang berbeda-beda bagi setiap orang. Mahasiswa tingkat akhir yang sudah mulai mengerjakan skripsi dan/atau tugas akhir pasti merasakan kegelisahan berlipat-lipat. Tak terkecuali Fatin Shidqia, penyanyi kelahiran tahun 1996 ini juga ditolak judul skripsinya tak hanya sekali, melainkan berkali-kali namun ia tak mau menyebutkan jumlah pastinya. Nah, kamu yang mahasiswa bimbingan skripsi dan tugas akhir juga pasti pernah merasakan hal-hal berikut ini, bukan?

1. Dosen pembimbing tak sesuai harapan

Setiap universitas, fakultas dan jurusan memiliki kebijakan tersendiri menyangkut tugas akhir mahasiswanya. Ada yang memperbolehkan mahasiswa mengajukan nama dosen pembimbing, ada yang sebaliknya: mahasiswa ditentukan siapa dosen pembimbingnya. Nah ini cobaan pertama sebagai mahasiswa skripsi. Nggak bisa memilih, alhasil mendapat dosen yang killer. Sekalinya bisa memilih dan cocok, ternyata si dosen sangat sulit ditemui.

2. Nungguin dosen seharian, ketemunya cuma 15 menit

Setidaknya sekali dalam seluruh masa bimbingan, pasti mahasiswa tingkat akhir pernah merasakan datang ke kampus untuk janjian bimbingan dengan dosen lalu di-PHP. Betul? Padahal kemarin katanya di Whatsapp bisa bertemu pukul 9 pagi. Didatangi ke kantor, lagi ada acara. Habis acara, mengajar. Habis mengajar, makan siang lalu mengajar lagi. Akhirnya baru ketemu pukul 3 sore dan itupun hanya 15 menit. Itu bimbingan apa istirahat sekolah?

3. Belum apa-apa sudah ditolak dari judul

Proses mengerjakan skripsi dimulai dari menyiapkan dan mengajukan judul. Masalahnya, terkadang prosesnya sudah berliku sejak awal pertama. Seperti Fatin Shidqia misalnya, ia dibilang mengada-ada dengan judul skripsinya. Padahal kalau skripsi harus berdasarkan hal yang benar-benar ada.

Dilansir dari Kompas, perempuan yang sedang menempuh pendidikan sarjana jurusan Performing Art Communication di London School of Public Relations (LSPR) ini pernah mengajukan judul skripsi Pengaruh Judul Film untuk Remaja SMP di Jakarta Selatan. Fatin kini baru sadar bahwa judul-judul semacam itu barangkali kurang relevan dengan dunia nyata dan kini ia terus belajar agar dapat menyelesaikan skripsinya maksimal tahun depan.

4. Lagi gawat-gawatnya, dosen malah ke luar negeri

Katakanlah mahasiswa tingkat akhir telah disetujui judul skripsinya dan telah sampai ke bahasan inti sekitar bab 3-5. Masa-masa kritis mulai mendera. Celakanya, terkadang ada saja yang terjadi. Salah satunya, dosen tiba-tiba pergi ke luar negeri untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Bisa beberapa hari sampai beberapa bulan. Padahal di saat-saat seperti inilah dukungan dan bimbingan dosen sangat diperlukan. Lebih celaka lagi jika si dosen pembimbing hendak meneruskan pendidikannya di luar negeri sehingga mahasiswa bimbingannya harus ‘ditransfer’ ke dosen lain.

5. Gelisah jika skripsi tidak selesai satu semester, harus bayar kuliah lagi semester depan

Rasanya nggak enak banget ketika belum bisa cari uang sendiri dan masih terus membebani orangtua dengan nggak lulus-lulus akibat skripsi macet. Apalagi sekarang biaya kuliah mahal, kampus negeri dengan UKT dan kampus swasta yang dari dulu lebih banyak mahalnya. Menambah satu semester artinya meminta beberapa juta ditambah biaya hidup bulanan yang juga semakin mahal.

6. Belum sidang, sudah banyak revisi

Dari bimbingan sebelumnya, katanya hanya beberapa bagian yang harus direvisi. Ketika sudah direvisi, eh suruh balik lagi ke sebelumnya. Revisi tiada akhir padahal belum sampai sidang skripsi ini jelas bikin pusing mahasiswa tingkat akhir. Kadang-kadang dosen juga lupa bagian mana yang ia suruh revisi sehingga terlihat cenderung plin-plan di mata mahasiswa bimbingannya sendiri.

7. Mendapat dosen penguji yang hobi membabat habis mahasiswa saat ujian skripsi

Akhirnya perjuangan beberapa bulan (hampir) usai. Satu karya sekian puluh atau sekian ratus halaman telah dirampungkan dengan segenap keletihan. Waktunya ujian atau sidang skripsi. Celaka lagi, dua pengujinya ternyata sudah guru besar dan satu dosen baru yang masih idealis banget. Dibabatlah kamu, oleh keahlian si guru besar dan idealisme dosen baru.

8. Revisi lagi, lagi dan lagi

Perjuangan tidak pernah usai di meja sidang skripsi. Setelah itu masih ada ujian lain yaitu revisi dan mencari tanda tangan dosen pembimbing dan dosen penguji atas revisi tersebut. Biasanya, saking semangatnya sejak awal skripsi, mahasiswa sudah lelah dan ngedrop setelah ujian skripsi. Mau mengerjakan revisi rasanya enggan dan malas. Di sinilah pertempuran yang sesungguhnya.

Jika berhasil menaklukkan kegelisahan-kegelisahan di atas, selamat. Sebentar lagi kamu akan berfoto di depan kampus dengan toga dan senyum bangga. Jika belum bisa menaklukkannya, jangan menyerah. Skripsi pasti berlalu.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
5.9 KSHARES