Ingin Jadi Penulis? Pahami Dulu Seluk Beluk Penghasilannya!

14 November 2017
|Chandra W.
0SHARES

Beberapa waktu yang lalu, dunia literasi Indonesia dikejutkan dengan adanya rencana penghentian penjualan buku seorang penulis terkenal, yaitu Tere Liye. Bagaimana bisa seorang penulis yang bukunya hampir selalu best seller di toko buku mau menghentikan penjualan bukunya? Usut punya usut, tindakan ini ternyata merupakan bentuk protesnya terhadap pemerintah, mengenai pajak penghasilan yang dibebankan kepada penulis.

Di Indonesia, jarang sekali dibahas bagaimana skema dan alur seorang penulis, terutama penulis buku mendapatkan uang dari tulisannya. Kalau melihat Dewi Lestari, Andrea Hirata, atau Ika Natassa sih sepertinya enak ya jadi penulis. Uangnya banyak, bukunya difilmkan, jalan-jalan terus, bikin kepingin jadi penulis juga. Tapi apa benar jadi penulis itu enak? Dari mana saja seorang penulis bisa mendapatkan penghasilan?

Sebagai pembaca, yang kita ketahui selama ini hanya sebatas membeli buku di toko buku, lalu sudah. Pertanyaannya, berapa persen dari harga buku yang masuk ke kantong penulis? Inilah yang disebut royalti. Sering mendengar kata itu, tapi belum mengerti bagaimana mekanismenya?

Royalti adalah sumber pendapatan utama bagi seorang penulis. Besarannya rata-rata 10% dari harga jual buku. Jika namanya sudah terkenal atau posisi tawar-menawarnya cukup tinggi di dunia kepenulisan, royaltinya bisa mencapai 12,5-15%. Jadi, jika seorang penulis menghasilkan buku yang lalu setelah sampai penerbit dijual dengan harga Rp 100.000, maka ia hanya akan mendapatkan Rp 10.000 – Rp 15.000 tiap satu buku yang terjual. Royalti jarang sekali dibayarkan dalam jangka waktu sebulan sekali. Biasanya royalti dibayarkan enam bulan atau satu tahun sekali.

Dari 10-15% itu, royalti masih dipotong pajak sebesar 15%. Sisanya yang masuk ke pendapatan tahunan masih juga dikenai dikenai pajak berjenjang. Padahal, modal penulis untuk menelurkan satu buku saja per tahun bisa dibilang sangat besar. Mulai dari modal yang tak terlihat seperti ide dan waktu, sampai modal terlihat seperti uang yang habis untuk riset dan kopi selama setahun.

Karena untuk menjadi penulis yang baik butuh waktu bertahun-tahun, dan jarang sekali penulis yang sekali menelurkan buku langsung laris manis kecuali Wattpad, bisa dikatakan profesi menulis ini tidak bisa diandalkan untuk jadi profesi utama, apalagi profesi satu-satunya. Minimal, seorang penulis harus nyambi menjadi ghost writer, freelance writer, atau bahkan pembicara dan motivator.

Dewi Lestari, melalui situsnya deelestari.com mengatakan bahwa tidak semua penulis memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menjadi pembicara. Lalu dari mana penulis bisa sejahtera kalau begini keadaannya? Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan minat literasi yang rendah. Keadaan ini sebenarnya dapat diperbaiki salah satunya dengan mengubah regulasi perpajakan penulis. Penjelasan mengenai pajak penulis dapat kamu jumpai di laman Twitter Dirjen Pajak.

Dengan gambaran penghasilan dan potongan dari negara seperti itu, apakah kamu masih ingin menjadi penulis? Kalau iya, selamat! Kamu akan jadi salah satu penyelamat negeri ini dari bidang literasi. Setiap profesi pasti ada plus minusnya, tinggal bagaimana menyiasati supaya bisa tetap hidup dari hasil profesi itu dan berdampak positif untuk orang di sekitarmu.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES