Demi Cinta, Putri Mako Rela Lepaskan Tahta Kerajaan

31 Mei 2017
|Rhesa Leo
Life
0SHARES

Kisah cinta di negeri dongeng antara rakyat jelata dengan seorang bangsawan belum lama ini benar-benar terjadi di Jepang. Seorang putri kerajaan, Putri Mako yang merupakan cucu tertua dari Kaisar Jepang Akihito jadi buah bibir netizen belakangan ini. Keputusan kontroversialnya untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya demi menikahi seorang rakyat jelata menjadi headline di beberapa media. Berbeda dengan para pria, menurut konstitusi di Jepang para perempuan dari keluarga kerajaan diwajibkan melepas gelar kebangsawanannya jika menikah dengan rakyat biasa.

Pria beruntung yang akan menjadi mempelai pria sang putri adalah Kei Kumoro, seorang pegawai sebuah firma hukum yang sekaligus teman kuliah Puri Mako di Tokyo. Pilihan Putri Mako untuk menikah dengan rakyat jelata tentu aja ada konsekuensinya, selain harus melepas gelar kebangsawanan ia juga harus meninggalkan keluarga Kekaisaran Jepang.

Keduanya bertemu pada tahun 2011 silam saat mereka berdua duduk di bangku mahasiswa di International Christian University, Tokyo. Setahun berselang Kei Kumoro memberanikan diri melamar pacarnya yang merupakan putri keluarga Kekaisaran Jepang.

Uniknya, lamaran Kei rupanya bukan cuma diterima oleh Putri Mako, malahan kedua orang tua Putri Mako, Pangeran Naruhito dan Putri Kiko juga merestui hubungan mereka. Bahkan kakek dan nenek Purti Mako yang merupakan Kaisar Jepang saat ini: Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko juga menyetujui rencana pernikahan cucu mereka.

Seperti dilansir Japan Times, tanggal pertunangan Kei dan Putri Mako akan diumumkan pada pertengahan Juni mendatang. Sedangkan pesta pernikahan mereka direncanakan akan berlangsung tahun depan.

Putri Mako bukanlah Putri Jepang pertama yang harus menanggalkan gelar kebangsawanan dan keluar dari silsilah keluarga Kekaisaran Jepang. Bibinya, Putri Sayako adik kandung dari ayah Putri Mako juga memutuskan untuk menikah dengan seorang pegawai negeri di Kantor Gubernur Tokyo pada tahun 2005. Kala itu keputusan Sayako menjadi kontroversi di masyarakat Jepang. Lepasnya gelar kebangsawanan Sayako mengharuskannya untuk menjalani kewajiban rakyat biasa sebagai warga negara seperti membayar pajak, ikut pemilu, dan keluar dari lingkungan istana.

Aturan Kekaisaran Jepang ini menurut banyak orang belum adil buat para perempuan anggota keluarga kekaisaran. Sebab, aturan yang sama nggak berlaku buat para laki-laki di keluarga kekaisaran. Wah, antara cinta dan tahta, sudah tepatkah keputusan yang diambil Putri Mako?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Rhesa Leo
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES