Dari Terkenal Sampai Kesepian, Semua yang Dialami Mahasiswa Abadi Bikin Ngenes!

01 Maret 2018
|Chandra W.
102SHARES

Semua orang atau hampir semua orang ingin menyelesaikan kuliah tepat waktu, kalau nggak lebih cepat. Ya kira-kira kalau sekarang idealnya antara tiga setengah sampai lima tahun (semester 7-10) lalu wisuda. Tapi yang namanya takdir terkadang memang berpihak pada yang satu, berpaling dari yang lain

Teman-teman habis KKN langsung sidang skripsi, eh kamu masih saja bingung dengan proposal. Lambat laun satu per satu teman seangkatan lulus. Tiba-tiba saja temanmu yang masih bolak-balik kampus hanya hitungan jari. Kamu sudah semester dua.....belas.

Beberapa orang pun telah menyematkan panggilan mahasiswa abadi padamu.

1. Ke kampus segan, skripsi tak mau

Biasanya masalah mahasiswa abadi, apalagi kalau bukan skripsi? Momok yang satu ini semakin mengerikan ketika dosen pembimbing kurang bersahabat, sulit dittemui, berubah-ubah sarannya setiap konsultasi, dan seterusnya. Awal-awal, kamu masih bisa sabar menghadapinya. Sebulan, dua bulan, sesemester, dua semester lalu kamu jengah. Mau ke kampus ketemu dosen, tapi revisi yang kemarin saja belum dikerjakan. 

2. Hidupmu luntang-lantung. Seringnya di kos, kalau nggak nongkrong

Sebenarnya kamu merasa super bosan dengan keadaan yang sekarang. Tapi kamu juga bingung mau gimana. Hidupmu jadi kurang terarah. Mandi jarang, makan semaunya, seadanya. Kamu lebih sering menghabiskan waktu di kamar kost merenungi nasib atau nongkrong di luar, dari angkringan, kaki lima, warkop, sampai kafe. Mencoba mengajak orang yang ada di sekitarmu ngobrol, lalu untuk sementara kamu merasa lebih baik. Tapi begitu kembali ke kost dan sendirian, kamu kembali merasa nggak berarti.

3. Makin lama kamu semakin disergap rasa bersalah kepada orangtua dan orang-orang yang kamu sayangi

Ingat dulu janji ketika baru masuk kuliah? Mau secepat mungkin lulus lalu bekerja dan membahagiakan orangtua? Kamu ingat, tapi kamu pura-pura lupa. Padahal janji adalah hutang. Kamu merasa sudah terlambat dan nggak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan. Kadang kamu juga ingin pulang ke kampung halaman, memeluk ibu dan bapak yang rambutnya semakin memutih dan keriput di mata dan dahinya semakin dalam.

Tapi kamu malu. Seperti lagu: pulang malu, tak pulang rindu. Belum lagi saudara-saudaramu di rumah, teman seperjuangan dan pacar yang selalu menyemangati (yang juga sudah lulus duluan). Ingin sekali berbuat sesuatu, tapi juga jenuh dengan skripsi dan segala yang melingkupinya.

4. Kamu semakin merasa nggak enak saat masih dikirimi jatah uang bulanan

Meskipun kamu mengerti bahwa orangtuamu nggak keberatan, tetap saja kamu merasa ini sudah lebih dari jatahmu seharusnya. Jatahmu sesungguhnya hanya delapan semester. Niat mencari kerja sampingan, kamu justru dihadapkan pada dilema: antara berhenti membebani orang tua dengan hidup dari hasil kerja sendiri atau malah bisa saja tenggelam dalam dunia kerja dan semakin jauh dari toga. Dua-duanya rupanya membebani orangtuamu. Yang mereka inginkan: kamu lulus.

5. Ketika akhirnya berhasil mengumpulkan niat untuk ke kampus, yang kamu saksikan di sana sudah berbeda jauh dengan saat awal masuk kuliah

Tentu saja kamu nggak masuk ke ruang kelas. Tapi di koridor, kamu merasakan perasaan yang asing. Nggak ada lagi wajah-wajah yang kamu kenal dengan baik. Taman dan kantin rasanya nggak sehangat dulu ketika kamu dan teman-teman duduk di sana bercanda bersama.

Akhirnya kamu sadar mereka sudah sedang mengejar mimpinya masing-masing dan ini saatnya kamu mengejar langkah mereka. Kamu melangkah ke ruangan dosen pembimbing. Konsultasi kesekian, revisi kesekian. Semakin mendekatkanmu ke hari ujian skripsi.

6. Adik angkatanmu sudah ada lebih dari empat tingkat. Saking nggak punya teman seangkatan, kamu malah jadi dikenal di kalangan adik angkatan bahkan sampai satpam dan ibu kantin

Kalau kamu dari awal memang aktif di jurusan atau fakultas, pasti banyak kenalanmu dari adik angkatan. Karena teman-teman seangkatanmu telah 'menghilang', akhirnya kamu dikenal baik oleh adik-adik angkatanmu. Dikenal sebagai mas/mbak atau kakak yang belum lulus juga. Satpam dan ibu kantin pun menyapamu dengan riang setiap melihatmu di kampus. "Masih ngampus juga Mas/Mbak?" Nggak apa-apa. Itu tandanya mereka perhatian.

7. Kamu sadar ada banyak hal yang menarik perhatianmu, atau malah nggak ada sama sekali yang menarik

Karena waktumu hanya dicurahkan untuk skripsi yang kamu pun malas mengerjakannya, akhirnya kamu melihat banyak hal menarik dari observasimu di luar skripsi selama ini. Diskusi sastra, olahraga, pertunjukan kesenian yang kamu saksikan dan ikuti sedikit demi sedikit melihat passion-mu di mana. Atau malah semakin nggak ada yang menarik di hidupmu yang isinya skripsi doang. Well, hanya ada satu jalan untuk menekuni minatmu yang sesungguhnya atau menemukan hal yang benar-benar menarik: lulus dulu.

Kamu pasti sepenuhnya mengetahui dan sadar bahwa kelulusan nggak bisa datang begitu saja seperti ketika SD-SMA kan? Sekarang semuanya ada di tanganmu. Apakah kamu mau bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri. Jika iya, kapan? Well, the time is always now. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Tunggu apa lagi? Yuk benahi skripsi dan segera kenakan toga di periode wisuda mendatang! Semangat, mahasiswa tidak abadi.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
102SHARES