Bukan tentang Superioritas Perempuan, Inilah Konsep Sederhana Feminisme dalam Kesetaraan Gender

02 Juli 2017
|Olphi Disya
Life
0SHARES

Dewasa ini, istilah feminisme sering kita dengar atau kita baca di ranah media sosial. Feminisme seolah menjadi isu baru yang mencuat ke permukaan. Padahal, feminisme telah ada sejak dulu bahkan sebelum kakek nenekmu lahir ke dunia ini. Meski udah eksis sejak zaman dulu kala, istilah feminisme masih sering disalahartikan sehingga membuat banyak orang menjadi salah kaprah akan konsep feminisme. Salah satunya adalah anggapan dominasi perempuan terhadap laki-laki yang kerap melekat pada konsep feminisme. Benarkah feminisme melulu tentang superioritas perempuan di atas laki-laki?

Kenali dulu yuk apa itu feminisme. Berdasarkan pada pendapat dari Merriam-Webster, definisi feminisme adalah “teori kesetaraan gender pada ranah politik, ekonomi, dan sosial”. Jadi, bisa dibilang bahwa feminisme mencakup seluruh tatanan kehidupan yang berpedoman pada kesetaraan perempuan dan laki-laki. Banyak yang menduga bahwa feminisme merupakan istilah untuk menyudutkan pihak laki-laki atau menjunjung tinggi martabat perempuan di atas laki-laki. Padahal, feminisme menekankan pada kesetaraan alias kesamaan kedudukan antargender, guys.

Tapi kan, laki-laki dan perempuan punya peran yang berbeda-beda dan kemampuan yang juga berbeda-beda, gimana bisa setara? Nah, untuk itulah konsep feminisme hadir agar kedua gender dapat berlaku dan diperlakukan dengan setara, baik dari segi politik, ekonomi, maupun sosial. Memang betul, di beberapa aspek kehidupan, laki-laki dan perempuan punya peran dan kemampuan yang berbeda. Tetapi, itu nggak membuat kedua gender nggak bisa setara kan? Contohnya, laki-laki memang berkewajiban untuk bekerja dan mencari nafkah. Namun, bukan berarti perempuan nggak berkesempatan melakukan hal demikian karena pada dasarnya perempuan juga mampu sehingga kalau pemerintah kita atau mungkin ayahmu memperbolehkan ibumu atau anak perempuannya untuk bekerja, itu udah termasuk feminisme kok!

Lalu, kenapa masih ada yang salah kaprah tentang feminisme? Mungkin, karena istilah ini mengandung unsur “femine” yang lekat dengan kaum perempuan. Memang betul, feminisme hadir untuk mengangkat derajat kaum perempuan agar setara dengan laki-laki. Namun, bukan berarti feminisme ditujukan untuk menurunkan superioritas laki-laki agar setara dengan perempuan. Oh iya, setara bukan berarti selalu diperlakukan sama rata, namun diperlakukan secara adil sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, diberikan ruang khusus untuk perempuan, seperti parkir kendaraan perempuan, gerbong wanita, hingga kekhususan cuti bagi mereka yang haid, hamil, dan melahirkan. Aturan ini bukan untuk mengistimewakan perempuan, tapi untuk memenuhi kebutuhan dan melindungi perempuan.

Kok laki-laki nggak diberikan ruang khusus juga kayak perempuan? Katanya setara? Sekali lagi, setara bukan berarti sama persis. Perempuan diberikan ruang khusus di tempat umum untuk menghindari pelecehan seksual yang sering ditujukan pada perempuan. Perempuan juga diberikan cuti haid, hamil, dan melahirkan untuk alasan kesehatan yang hanya dialami perempuan. Memangnya ada laki-laki yang hamil? Di luar itu, hak serta kewajiban laki-laki dan perempuan secara umum nggak jauh berbeda, kan?

Jadi, jangan sampai salah kaprah lagi ya tentang konsep feminisme. Kita berbeda, namun bisa setara. Saling menghormati dan nggak merasa superior atas suatu kaum adalah kunci suksesnya pemahaman feminisme. Kamu menganggap laki-laki dan perempuan setara? Then you’re a feminist!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Olphi Disya
"Upcoming psychologist. Awesome weirdo."
0SHARES